Pengamat: Digitalisasi perikanan perlu konsisten pendampingan nelayan

Pengamat: Digitalisasi perikanan perlu konsisten pendampingan nelayan

Ilustrasi - Nelayan yang sedang melaut. ANTARA/HO-Dokumentasi KKP

Pemanfaatan teknologi bisa memberikan manfaat sejauh user-nya (penggunanya, seperti nelayan dan pelaku usaha perikanan) bisa beradaptasi dengan pendekatan ini
Jakarta (ANTARA) - Pengamat kelautan dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan Abdul Halim menyatakan bahwa arah kebijakan digitalisasi sektor perikanan perlu diperkuat dengan pendampingan kepada nelayan dan pelaku usaha secara konsisten.

"Pemanfaatan teknologi bisa memberikan manfaat sejauh user-nya (penggunanya, seperti nelayan dan pelaku usaha perikanan) bisa beradaptasi dengan pendekatan ini," kata Abdul Halim di Jakarta, Jumat.

Menurut Abdul Halim, dengan teknologi, kegiatan penangkapan ikan jauh lebih efektif dan efisien, misalnya terkait penggunaan BBM khusus bagi nelayan yang melaut.

Untuk itu, ujar dia, perlu dipastikan adanya pendampingan secara terus-menerus agar teknologi dianggap sebagai bagian dari kebutuhan yang melekat pada aktivitas perikanan.

Ia tidak menginginkan berbagai proyek digitalisasi perikanan hanya sebatas proyek yang dikerjakan sekenanya, apalagi bila tidak diperluas dengan sokongan dari APBN.

Pendek kata, lanjutnya, pelbagai inisiatif teknologi perlu digencarkan penggunaannya agar pengelolaan perikanan lebih transparan, efektif dan efisien

Sebagaimana diwartakan, KKP menggencarkan sosialisasi aplikasi Laut Nusantara sebagai upaya mewujudkan transformasi digital sektor perikanan dengan menyediakan inovasi teknologi aplikatif bagi nelayan.

Kepala Badan Riset dan SDM KKP Sjarief Widjaja menyampaikan, aplikasi Laut Nusantara merupakan salah satu langkah pemerintah dalam mewujudkan program arah kebijakan pembangunan kelautan 2020-2024.

KKP menargetkan pertumbuhan produksi perikanan tangkap menjadi 10,10 juta ton dan nilai tukar nelayan menjadi 120,60 pada tahun 2024. Pada 2015, produksi perikanan tangkap mencapai 6,67 juta ton dan pada 2018, produksinya melonjak menjadi 7,3 juta ton.

"Dalam hal penguatan SDM dan inovasi riset kelautan dan perikanan, perlu adanya hilirisasi riset berbasis transformasi digital," kata Sjarief.

Menurut dia, Laut Nusantara menghadirkan kemudahan dan kecepatan akses informasi Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI) serta dilengkapi informasi cuaca laut dalam genggaman nelayan sehingga aktivitas penangkapan ikan lebih efektif dan efisien.

Ia juga mengutarakan harapannya agar dengan penggunaan aplikasi Laut Nusantara, ke depannya dapat pula meningkatkan produksi perikanan tangkap serta mendorong pertumbuhan nilai tukar nelayan di berbagai daerah.

Baca juga: Digitalkan perikanan, KKP gencar sosialisasi aplikasi Laut Nusantara
Baca juga: Pengamat perikanan: pastikan perizinan terdigitalisasi antardaerah

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar