BMKG: Sistem peringatan dini generasi baru tingkatkan mitigasi bencana

BMKG: Sistem peringatan dini generasi baru tingkatkan mitigasi bencana

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Karangkates Musripan menunjukkan sistem peringatan dini atau Warning Reciever System (WRS) generasi baru dari BMKG, yang terpasang di Kantor Bupati Malang, Jawa Timur. ANTARA/HO-Stasiun Geofisika BMKG Karangkates/VFT

bisa cepat bertindak ke lokasi karena dengan cepat diketahui
Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa dengan terpasangnya sistem peringatan dini atau Warning Reciever System (WRS) generasi baru diharapkan bisa meningkatkan kemampuan mitigasi bencana di Indonesia.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Karangkates Musripan mengatakan bahwa dengan adanya empat WRS generasi baru khususnya di wilayah Kabupaten Malang, diharapkan mampu menyebarkan informasi bencana secara cepat, untuk meningkatkan mitigasi kebencanaan.

"Dengan adanya informasi yang sangat cepat, masyarakat bisa segera menyelamatkan diri, atau evakuasi mandiri untuk wilayah yang berpotensi tsunami," kata Musripan, saat dikonfirmasi ANTARA, dari Kota Malang, Jawa Timur, Jumat.

Musripan menjelaskan, untuk wilayah kerja Stasiun Geofisika BMKG Karangkates, terdapat delapan WRS generasi baru yang dipasang di wilayah Kabupaten Malang, Kota Malang, Kabupaten Kediri, Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Bondowoso.

Baca juga: Akademisi: Mitigasi bencana longsor perlu didukung pemetaan wilayah
Baca juga: BNPB petakan 295 patahan di Sumatera hingga Papua


Menurut Musripan, dengan terpasangnya sistem baru di delapan wilayah tersebut, untuk saat ini dinyatakan sudah mencukupi. Dengan informasi kebencanaan yang disampaikan secara cepat, maka peluang bagi warga terdampak untuk menyelamatkan diri juga semakin besar.

"Semakin cepat (informasi tersebut disampaikan), kemungkinan besar semakin aman," kata Musripan.

Musripan menambahkan, untuk wilayah-wilayah yang tidak berpotensi tsunami pada saat terjadi gempa bumi, maka kecepatan informasi kebencanaan itu akan memudahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melakukan evakuasi warga terdampak.

"Untuk yang tidak berpotensi tsunami, maka otoritas seperti BPBD, bisa cepat bertindak ke lokasi karena dengan cepat diketahui. Masyarakat bisa lebih aman dari kejadian gempa bumi," kata Musripan.

Baca juga: Kabupaten Kediri dapat bantuan alat informasi gempa WRS
Baca juga: BMKG Ambon serahkan alat penyebar informasi gempa WRS NewGen


Di Indonesia, secara keseluruhan ada 315 WRS generasi terbaru yang terpasang di berbagai wilayah yang memiliki potensi bencana. WRS generasi baru tersebut, merupakan terobosan penyebarluasan informasi gempa bumi, secara real time.

Dengan terpasangnya WRS generasi baru tersebut, diharapkan mampu meningkatkan performa penyebarluasan informasi gempa bumi, dan peringatan dini tsunami dari BMKG Pusat ke kantor unit pelaksana teknis, pemerintah daerah, dan lembaga lain yang terkait penanganan bencana.

Berdasarkan data BMKG, pada periode 2018-2019, rata-rata terjadi gempa bumi sebanyak 5.818 kali. Gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 Skala Richter (SR), sebanyak 374 kali, dan setiap dua tahun sekali terjadi gempa yang berpotensi tsunami.

Wilayah Indonesia merupakan salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami di dunia, mengingat terletak pada jalur gempa aktif yang dipengaruhi aktivitas tumbukan tiga lempeng tektonik utama dunia, yakni lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Baca juga: BMKG pasang WRS generasi terbaru di 315 lokasi seluruh Indonesia
Baca juga: Alat peringatan dini gempa-tsunami dipasang di Deliserdang-Sumut


Pewarta: Vicki Febrianto
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar