Kadar tinggi partikel nuklir terdeteksi di sekitar Laut Baltik

Kadar tinggi partikel nuklir terdeteksi di sekitar Laut Baltik

Pertemuan Tingkat Menteri mengenai Isu Pelucutan Senjata Nuklir dan Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir di Stockholm, Swedia, pada Selasa (11/6/2019). (KBRI Stockholm-HO)

Wina (ANTARA) - Sejumlah sensor radiasi di Stockholm, Swedia, mendeteksi isotop dengan kadar tinggi, tetapi masih pada level yang tidak berbahaya, dari reaktor nuklir yang berada di sekitar atau dekat Laut Baltik, kata CTBTO, Jumat (26/6).

Organisasi Traktat Pelarangan Uji Nuklir Komprehensif (CTBTO), organisasi dunia yang mengawasi alat deteksi nuklir,  bertugas mengoperasikan dan mengawasi ratusan alat sensor seismik, hidro-akustik, dan teknologi lainnya untuk mengidentifikasi uji senjata nuklir di dunia. Walaupun demikian, teknologi itu juga dapat digunakan untuk kepentingan lain.

Salah satu stasiun pemantau menunjukkan tingkat radionuklida atau radioisotop yang tidak biasa di udara. Ada tiga jenis partikel radionuklida yang jumlahnya tidak biasa, yaitu caesium-134; caesium-137; dan ruthenium-103. Partikel-partikel radionuklida dapat terbawa jauh oleh angin.

Stasiun pemantau CTBTO di Stockholm "mendeteksi tiga partikel isotop, Cs-134, cS-137 & RU-103 yang seluruhnya terhubung dengan reaktor fusi nuklir, dengan kadar lebih tinggi dari biasanya (tetapi tidak berbahaya untuk kesehatan manusia)," kata Kepala CTBTO Lassina Zerbo dalam unggahannya di media sosial Twitter, Jumat.

Partikel tersebut dideteksi oleh stasiun pemantau pada 22-23 Juni, dia menambahkan.

Dalam unggahan yang sama, Zerbo juga memperlihatkan sebuah peta yang memperkirakan asal tiga partikel tersebut 72 jam sebelum mereka dideteksi oleh stasiun pemantau.

Perkiraan Zerbo, tiga isotop itu kemungkinan dari satu wilayah luas yang mencakup ujung wilayah Denmark, Norwegia, selatan Swedia, beberapa wilayah Finlandia, negara-negara Baltik, dan sebagian wilayah barat Rusia, termasuk di Kota St. Petersburg.
"Ini sudah pasti produk dari reaktor nuklir, kemungkinan besar milik warga sipil," kata juru bicara CTBTO yang berkedudukan di Wina, Austria. Pernyataannya itu merujuk pada reaksi rantai atom yang memproduksi panas pada reaktor nuklir.

"Kami dapat memperkirakan sumber dari isotop ini, tetapi untuk mengidentifikasikan lokasi pastinya bukan bagian kewenangan kami," kata dia menambahkan.

Sumber: Reuters

Baca juga: China: corona tak pengaruhi pembangunan pembangkit tenaga nuklir

Baca juga: BATAN tegaskan temuan zat radioaktif bukan dari reaktor nuklir

Baca juga: Jepang akan aktifkan lagi reaktor nuklir yang tutup akibat gempa 2011


 

Sudah waktunya Indonesia melirik nuklir sebagai pembangkit listrik

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar