Pakar katakan masyarakat Sumsel lepas kontrol hadapi normal baru

Pakar katakan masyarakat Sumsel lepas kontrol hadapi normal baru

Pakar Epidemiologi sekaligus anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sumatera Selaran, Dr. Iche Andriyani Liberty (ANTARA/aziz Munajar/20)

Palembang (ANTARA) - Pakar Epidemiologi sekaligus anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sumatera Selaran Dr. Iche Andriyani Liberty menyatakan masyarakat di Bumi Sriwijaya mulai lepas kontrol selama penerapan normal baru dua pekan terakhir.

"Saat ini mulai banyak yang tidak menggunakan masker di luar rumah, padahal transmisi COVID-19 masih ada di tengah-tengah masyarakat," ujar Dr. Iche.

Selain itu tingkat kontak antar orang dan masyarakat yang bertahan di rumah juga tidak dapat dihitung lagi karena PSBB telah berakhir sehingga aktifitas masyarakat saat ini benar-benar meningkat.

Menurut dia, perilaku lepas kontrol tersebut memicu angka konfirmasi kasus positif di Sumsel terus bertambah, terutama di Kota Palembang yang masih dikategorikan wilayah risiko tinggi atau zona merah.

Baca juga: Kasus sembuh positif COVID-19 di Sumsel lampaui 1.000 orang

Baca juga: GTPP sebut Palembang satu-satunya zona merah COVID-19 di Sumsel


Berdasarkan analisa tim pakar, kasus positif COVID-19 mengalami penurunan 44 persen selama pemberlakuan PSBB di Kota Palembang, Prabumulih dan beragam intervensi pemerintah kabupaten/kota lainnya.

Namun, setelah PSBB berakhir lalu dilanjutkan disiplin protokol normal baru selama dua pekan terakhir, kata dia, kasus positif COVID-19 di Sumsel naik 2 persen.

Meski angka kesembuhan telah mencapai 50 persen per 29 Juni, Ia mengaku khawatir penambahan kasus positif juga akan terus bertambah dan bisa melebihi puncak kasus selama kurun tiga bulan terakhir.

Di sisi lain angka reproduksi efektif COVID-19 atau RT masih berada di angka 1,07, padahal RT di Sumsel sempat turun di angka 0,99 pada 26 Juni.

Maka jika penambahan kasus baru ke depan telah melampaui puncak kasus sebelumnya, ia menyebut opsi diberlakukannya kembali PSBB sangat dimungkinkan.

"Dalam kebijakan epidemiologi, kalau puncak kasus kedua lebih tinggi dari puncak yang pertama, maka diperlukan lagi intervensi atau PSBB," katanya.

Kendati demikian ia tidak berharap ada puncak kasus kedua, sebab berkaca dari tren daerah lain di Indonesia, kasus-kasus baru saat ini adalah kasus kondisi berat, namun didominasi usia produktif.

Pihaknya selaku tim pakar gugus tugas telah mendorong pemerintah provinsi, kabupaten dan kota agar memperjelas serta mempertegas aturan normal baru agar tidak menjadi potensi munculnya kasus-kasus baru.

"Kami juga mengimbau masyarakat agar tidak memanfaatkan momen pelonggaran untuk bebas beraktivitas tanpa protokol kesehatan, masyarakat harus tetap waspada dan disiplin menggunakan masker serta menjaga jarak," kata Dr. Iche menjelaskan.

Sementara total kasus positif COVID-19 di Sumsel per 29 Juni 2020 mencapai 2.023 kasus, 1.025 kasus diantaranya telah sembuh dan 87 kasus meninggal dunia.*

Baca juga: Pecatur putri Sumsel ikuti turnamen daring untuk pertahankan performa

Baca juga: Kasus positif COVID-19 Sumsel sentuh 2.000 orang

Pewarta: Aziz Munajar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar