Jogja untuk Jogja, upaya Kota Yogyakarta untuk bangkit

Oleh Eka Arifa Rusqiyati

Jogja untuk Jogja,  upaya Kota Yogyakarta untuk bangkit

Pengunjung Maliobowo wajib melakukan pemindaian QR code dan pengukuran suhu serta mematuhi protokol kesehatan lainnya. (Eka AR)

Ada setidaknya lima tahapan yang akan dilakukan sebagai strategi dalam penanganan pandemi COVID-19. Salah satunya adalah program Jogja untuk Jogja. Ini sebagai upaya kebangkitan.
Yogyakarta (ANTARA) - Pariwisata yang menjadi penopang utama laju lokomotif ekonomi di Kota Yogyakarta mau tidak mau, suka tidak suka mengalami pukulan yang cukup telak akibat pandemi COVID-19 sehingga berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi di kota yang dikenal dengan banyak julukan itu.

Berdasarkan penghitungan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta, pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta dalam asumsi pesimis mengalami minus 2,2 persen pada tahun ini.

Namun demikian, pemerintah daerah setempat tidak ingin keterpurukan sektor pariwisata yang sudah dirasakan sejak awal masa pandemi, sekitar empat bulan lalu, semakin berlarut-larut meskipun kewaspadaan terhadap potensi penularan COVID-19 tetap harus menjadi perhatian utama.

“Ada setidaknya lima tahapan yang akan dilakukan sebagai strategi dalam penanganan pandemi COVID-19. Salah satunya adalah program Jogja untuk Jogja. Ini sebagai upaya kebangkitan,” kata Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta Heroe Poerwadi.

Seluruh tahapan tersebut diawali dengan penanganan kasus positif COVID-19 untuk menurunkan angka kasus, penyiapan protokol kesehatan di seluruh tempat wisata, tempat pelayanan publik, pusat perekonomian, perkantoran, dan tempat umum lainnya.

Baca juga: Pengamat sebut pemda perlu bangkitkan kembali sektor pariwisata

Selanjutnya akan dilakukan tahapan simulasi dan uji coba secara terbatas guna memastikan bahwa protokol kesehatan yang sudah disusun tersebut bisa dilaksanakan dengan baik serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan yang datang.

“Kemudian kami akan melangkah ke tahap Jogja untuk Jogja dan di tahap terakhir adalah Jogja untuk Semua,” kata Heroe.

Dalam tahapan Jogja untuk Jogja di bidang pariwisata, Pemerintah Kota Yogyakarta berencana membuka secara terbatas sejumlah tempat wisata, yaitu khusus dikunjungi warga Kota Yogyakarta saja.

“Artinya, kami memberikan kesempatan kepada warga Yogyakarta untuk berwisata di tempat-tempat wisata yang ada. Misalnya di Taman Pintar atau di museum,” katanya.

Proses uji coba terbatas tersebut, lanjut dia, sekaligus digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan protokol kesehatan di tempat wisata.

“Jika ditemukan masalah atau kekurangan, bisa segera diatasi dan diperbaiki,” katanya.

Dalam tahap terakhir, Jogja untuk Semua, yaitu membuka kunjungan wisata dari luar Kota Yogyakarta atau Daerah Istimewa Yogyakarta. “Hal ini bisa dilakukan apabila kami menilai bahwa protokol kesehatan yang diterapkan mampu memberikan rasa aman kepada wisatawan yang datang,” katanya.

Baca juga: Pemulihan pariwisata Sumbar lebih cepat dari skenario

Rasa aman dan nyaman merupakan modal yang harus dimiliki Kota Yogyakarta untuk menggeliatkan kembali industri pariwisata yang terpuruk di masa pandemi COVID-19.

“Tanpa rasa aman, wisatawan pun tidak akan mau datang ke Yogyakarta. Makanya, penerapan protokol kesehatan harus dilakukan secara tegas dan masyarakat serta wisatawan yang berkunjung benar-benar disiplin menaatinya,” katanya.

Perpanjangan masa tanggap darurat COVID-19 yang berakhir pada 31 Juli akan dimanfaatkan untuk membiasakan seluruh protokol kesehatan kepada semua masyarakat. “Yang utama memang ada tiga hal, yaitu pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan. Tetapi, tidak boleh hanya berhenti sampai di situ. Harus ada penerapan protokol kesehatan lain yang disesuaikan dengan karakter suatu tempat,” katanya.

Ia pun mencontohkan, kawasan Malioboro yang mulai dikunjungi wisatawan bahkan dari luar Pulau Jawa, sudah mencoba menerapkan protokol kesehatan pendukung untuk memastikan keamanan wisatawan yang berkunjung.

Protokol tersebut adalah memindai QR code di pintu masuk Malioboro, menaati tempat untuk duduk dan berdiri serta berjalan sesuai alur yang sudah diatur. Seluruh penanda untuk mendukung penerapan wisata yang sehat dan aman tersebut terus dilengkapi oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.

Baca juga: Destinasi wisata di Sleman mulai berbenah menuju normal baru

Komunitas di kawasan Malioboro juga diminta untuk menaati dan disiplin protokol kesehatan. Andong dan becak pun diminta memasang tirai pembatas antara kusir dan penumpang dari plastik atau mika.

Hotel dan restoran serta nanti seluruh tempat wisata di Yogyakarta juga akan dilengkapi dengan QR code sebagai upaya pendataan dan memantau pergerakan wisatawan di suatu tempat wisata.

QR code tersebut akan terus dikembangkan sebagai alat promosi wisata di Kota Yogyakarta. Wisatawan yang memindai kode tersebut akan bisa melihat berbagai informasi menarik tentang pariwisata di Kota Yogyakarta, bahkan diskon hingga event wisata yang sedang digelar.

Taman Pintar juga sudah melakukan simulasi untuk persiapan operasional di masa new normal. “Karena semua alat peraga harus dioperasionalkan dengan cara disentuh, kami siapkan hand sanitizer di tiap peraga,” kata Kepala Bidang Taman Pintar Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Afia Rosdiana.

Pembatasan kapasitas di tiap zona juga dilakukan agar tidak ada penumpukan pengunjung. “Akan ada petugas yang mengatur ‘flow’ pengunjung di tiap wahana supaya tidak ada penumpukan,” katanya.

Baca juga: Asita DIY gencar promosi destinasi wisata ruang terbuka

Hotel bergeliat

Geliat pariwisata di Yogyakarta di masa menuju new normal juga terlihat dari okupansi hotel yang mulai meningkat saat akhir pekan, khususnya untuk hotel bintang di sektor tengah Kota Yogyakarta yang bisa mencapai sekitar 35 persen.

“Hotel pun sudah menyiapkan sarana dan prasarana pendukung untuk memastikan keamanan tamu selama menginap dan mengakses berbagai fasilitas di hotel,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranawa Eryana.

Kesiapan tersebut di antaranya penyediaan fasilitas cuci tangan yang lebih banyak, QR code, hand sanitizer, penyemprotan disinfektan secara rutin, penyiapan kamar untuk isolasi bagi tamu yang mendadak mengeluh sakit, hingga pemenuhan alat pelindung diri untuk karyawan.

Meskipun demikian, sejumlah tamu yang menginap di hotel masih berasal dari daerah di DIY serta daerah di sekitarnya.

“Banyak yang sebenarnya sudah menanyakan apakah hotel di Yogyakarta sudah kembali beroperasi. Mereka ingin melakukan reservasi, terutama dari daerah-daerah yang sudah zona hijau,” katanya.

Baca juga: Batasi pengunjung, kawasan Malioboro dibagi lima zona

Deddy berharap pemerintah daerah bisa memberikan izin untuk membuka objek wisata di Kota Yogyakarta maupun kabupaten lain di DIY meskipun masa tanggap darurat COVID-19 diperpanjang.

“Dengan dibukanya objek wisata, akan mendatangkan wisatawan dan juga tamu hotel. Harapan kami seperti itu karena kemampuan kami bertahan rata-rata hanya sampai akhir Juni ini,” katanya.

Simulasi untuk operasional kembali hotel telah dilakukan, mulai dari tata cara penerimaan tamu, reservasi, hingga mengantar tamu ke kamar.

Meskipun demikian, Deddy secara tegas menyatakan, jika hotel belum siap untuk operasional karena kebutuhan sarana dan prasarana kesehatan belum lengkap, maka jangan memaksa untuk buka.

“Jika memaksa buka dan kemudian muncul klaster penularan baru, dampaknya justru semakin berat. Ini yang tidak kami inginkan. Oleh karenanya kesiapan protokol inilah yang harus benar-benar diperhatikan. Faktor kesehatan dan keamanan harus berjalan seiring,” katanya.

Yogyakarta menganggarkan dana sekitar Rp174 miliar untuk penanganan COVID-19, dan sekitar Rp100 miliar di antaranya digunakan untuk kebutuhan kebangkitan.

Oleh Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Tiga agenda pariwisata Riau dibatalkan akibat COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar