Forum Negara AIS luncurkan Blue Startup, tingkatkan ekonomi pesisir

Forum Negara AIS luncurkan Blue Startup, tingkatkan ekonomi pesisir

Panel surya yang disediakan Xurya, startup lokal penyedia jasa pembangunan PLTS atap. ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak/am.

Pandemi tersebut merupakan peluang untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan merangsang inovasi, seiring transisi global menuju ekonomi digital.
Jakarta (ANTARA) - Forum Negara Kepulauan dan Pulau atau Archipelagic and Island States Forum (AIS) meluncurkan AIS Blue Startup Hub, sebuah platform yang memfasilitasi konsep berbagi pengetahuan antara pebisnis pemula dengan mentor atau investor guna meningkatkan ekonomi pesisir.

"Blue Startup adalah platform di mana penduduk pulau dapat bertemu untuk membangun pemahaman dan kesamaan untuk membahas cara cerdas dan efektif untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat pesisir. Dengan membuat komitmen dan bekerja bersama dalam aksi nyata, Forum AIS negara yang berpartisipasi dapat mulai mengatasi tantangan bersama secara berkelanjutan pembangunan," kata Plt. Asisten Deputi Delimitasi Zona Maritim dan Kawasan Perbatasan, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Maritim dan Investasi, Sora Lokita.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, platform itu diharapkan bisa menghasilkan manfaat pada skala lokal, regional, dan internasional.

Platform ini memberi kesempatan anggotanya untuk berdiskusi, mengungkapkan, dan berpendapat forum melalui diskusi, blog, dan pengiriman.
Baca juga: Presiden minta ekosistem bisnis UMKM di Indonesia diperbaiki

Ekosistem startup atau pebisnis pemula yang kondusif akan memungkinkan kewirausahaan untuk memiliki pertukaran pengetahuan, peluang jaringan, hosting program bersama, dan platform pengembangan kapasitas.

Biasa disebut Startup Bridge, yang memungkinkan pebisnis pemula, investor, inkubator, akselerator dan calon pengusaha dari negara-negara peserta AIS untuk terhubung satu sama lain dengan menyediakan sumber daya untuk berkembang dan menjadi pebisnis pemula global.

"Kita harus memperkuat kerja sama, saat pandemi COVID-19 seperti ini jelas menunjukkan bahwa tidak ada negara yang dapat menghadapi situasi krisis sendirian. Pandemi tersebut merupakan peluang untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan merangsang inovasi, seiring transisi global menuju ekonomi digital. Pandemi dan akibatnya memaksa organisasi di seluruh dunia menjadi lebih gesit dan mudah beradaptasi dalam menghadapi masa gangguan ekonomi," ujar Sora.
Baca juga: Luhut dukung usaha rintisan pro produk lokal

Pendiri Eachmile Technologies, Alistair Douglas, yaitu perusahaan teknologi seluler yang mengubah rantai pasokan makanan laut global dari panen menjadi konsumsi, mengatakan membangun sebuah usaha terutama yang berbasis teknologi adalah sebuah perjalanan panjang, tidak bisa instan.

"Ini memang hasil dari perjalanan panjang, bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Kami mengumpulkan data dari para nelayan di banyak negara dan membaginya. Kami juga menggunakan Facebook dan sekarang akun kami sudah diikuti oleh nelayan dari lebih dari 50 negara. Masih ada masalah yang kami hadapi saat ini, seperti misalnya, apa insentif yang didapat oleh nelayan yang telah berbagi data? saat ini masih belum bisa kami pecahkan," jelasnya.
Baca juga: Model bisnis B2C di e-commerce makin diminati selama pandemi

Sementara pembicara lain, Mariko McTire, pendiri Mymizu yang berpusat di Jepang, mengatakan misinya dalam membangun pebisnis pemula itu adalah untuk mengubah pola pikir masyarakat sehingga dibutuhkan kreativitas untuk mendapatkan pemasukan.

"Kami ingin membangun aplikasi yang gratis untuk publik untuk mengubah kebiasaan mereka, sekarang yang kami butuhkan sekarang adalah bagaimana mendapatkan pemasukan dari hal-hal di luar aplikasi di mana orang akan sukarela membayar untuk itu," ujarnya.
Baca juga: Pentingnya pantau "big data" demi keberlangsungan startup saat pandemi

Sementara itu, Naudhy Valdryno, Politics and Government Outreach Facebook Indonesia & APAC menyampaikan pihaknya aktif membantu pebisnis pemula.

"Saat krisis ini media sosial masih bisa membantu. Kami sekarang banyak bekerja sama dengan banyak startup, dan kami menyediakan platform bagi mereka seperti Facebook Accelerators atau Facebook Startup Circle kami membuka akses untuk partnership. mentor, membangun jejaring," jelasnya.

Baca juga: Galang pendanaan saat pandemi, ini yang harus diperhatikan "startup"

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Cara menkop ubah citra koperasi dari sekadar pelaku ekonomi pinggiran

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar