Angka masalah gizi pada anak akibat COVID-19 dapat meningkat tajam

Angka masalah gizi pada anak akibat COVID-19 dapat meningkat tajam

Aranchi dan anak-anaknya menyantap makanan sederhana berupa nasi dan sayur-sayuran di desa Desa Camplong II di daerah Pasar Parea di Kabupaten Kupang, Indonesia, 2018. (UNICEF Indonesia/Shehzad Noorani)

Jakarta (ANTARA) - Fasilitas kesehatan yang terbebani, rantai pasokan makanan yang terganggu, dan hilangnya pendapatan karena COVID-19 dapat menyebabkan peningkatan tajam dalam jumlah anak-anak yang mengalami masalah gizi di Indonesia, kecuali jika tindakan cepat diambil, kata UNICEF.

"COVID-19 memukul keluarga yang paling rentan," kata Perwakilan UNICEF Debora Comini dalam siaran resmi, Rabu.

"Jika kita tidak segera meningkatkan layanan pencegahan dan perawatan untuk anak-anak yang mengalami masalah gizi, kita berisiko melihat peningkatan penyakit dan kematian anak terkait dengan masalah ini," kata dia.

Baca juga: "Mommyclopedia" suguhkan resep MPASI untuk penuhi nutrisi buah hati

Baca juga: UNICEF: Anak kurang gizi di Yaman kemungkinan naik jadi 2,4 juta


Sebelum COVID-19, Indonesia sudah menghadapi masalah gizi yang tinggi. Saat ini, lebih dari dua juta anak menderita gizi buruk dan lebih dari tujuh juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting.

Estimasi UNICEF baru-baru ini menunjukkan bahwa dengan tidak adanya tindakan yang tepat waktu, jumlah anak yang mengalami wasting atau kekurangan gizi akut di bawah 5 tahun dapat meningkat secara global sekitar 15 persen tahun ini akibat COVID-19.

Ini berarti ada peningkatan risiko wasting, suatu kondisi yang ditandai dengan berat badan rendah jika dibandingkan dengan tinggi badan, juga di Indonesia banyak keluarga yang kehilangan pendapatan rumah tangga sehingga menjadi kurang mampu membeli makanan sehat dan bergizi untuk anak-anak mereka.

Baca juga: Warga Jakarta diingatkan perhatikan nutrisi saat beraktivitas di luar

Baca juga: UNICEF imbau masyarakat perbanyak konsumsi buah dan sayur saat pandemi


Pada saat yang sama, ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami wasting akan lebih cenderung mengalami stunting, tinggi badan yang rendah untuk usia mereka, dan dapat mengakibatkan lebih banyak anak stunting di negara ini.

Anak-anak dengan stunting dan wasting akan rentan terhadap gangguan perkembangan jangka panjang.

Anak-anak yang menderita wasting memiliki kekebalan tubuh yang lemah dan menghadapi hampir 12 kali peningkatan risiko kematian dibandingkan anak-anak dengan gizi cukup, terutama ketika wasting sangat parah.

Jika dampak stunting tidak dapat dikembalikan, dan hanya dapat dicegah, wasting dapat dicegah dan diobati. Ketika pencegahan gagal, pengobatan harus tersedia secara rutin dan dapat diakses.

Deteksi dini wasting anak adalah kunci keberhasilan pencegahan dan pengobatan, kata dia.

Pengukuran sederhana lingkar lengan atas anak menunjukkan apakah seorang anak membutuhkan dukungan gizi tambahan. Seringkali, solusi berbasis rumah yang sederhana termasuk obat-obatan dasar dan konsumsi makanan terapi yang siap santap, adalah solusi yang diperlukan bagi seorang anak untuk menjadi sehat kembali.

Dia mengatakan, tindakan mendesak untuk mencegah dan mengurangi masalah gizi anak termasuk meningkatkan pendekatan pencegahan berbasis bukti untuk mengatasi stunting dan wasting pada anak, dan pendekatan kuratif untuk mengobati wasting.

Selain itu, menghasilkan data dan informasi berkualitas tentang stunting dan wasting pada anak serta meningkatkan akses menuju komoditas esensial yang diproduksi secara lokal untuk perawatan wasting anak.

Baca juga: Ahli Gizi sarankan masyarakat konsumsi pangan dengan gizi seimbang

Baca juga: Lebaran usai, ini tips sehat dari pakar gizi

Baca juga: Kasus stunting Indonesia dikhawatirkan naik akibat pandemi COVID-19

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Mensos usulkan produk susu dalam program bantuan pangan nontunai

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar