Bahlil: Tiga dari tujuh perusahaan yang relokasi pilih kawasan Batang

Bahlil: Tiga dari tujuh perusahaan yang relokasi pilih kawasan Batang

Presiden Joko Widodo didampingi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia (kelima kiri), Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir (ketiga kanan), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (keempat kiri) berbincang saat peninjauan Kawasan Industri Terpadu Batang dan Relokasi Investasi Asing ke Indonesia di Kedawung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6/2020). Dalam kunjungan tersebut, Presiden meninjau kesiapan pengembangan Kawasan Industri Terpadu Batang dengan luas lahan sekitar 4.000 hektare yang terintegrasi dengan jalan tol, stasiun, pelabuhan, dengan terdapat beberapa investor diantaranya dari negara Tiongkok, China, Jepang, Korea, Taiwan, dan Amerika dengan tujuan untuk membuka lapangan pekerjaan. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/pras.

Ke depan, kita fokuskan semua ke Batang
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menjelaskan hanya tiga dari tujuh perusahaan yang merelokasi investasinya ke Indonesia memilih kawasan industri Batang, Jawa Tengah.

Beberapa perusahaan lainnya memilih kawasan lain seperti Jawa Barat, Banten hingga Sumatera Utara.

"Yang tujuh relokasi ini, ada beberapa yang tidak semuanya ke Batang. Ada yang ke Jawa Barat, Banten, ada juga yang di Sumatera Utara. Dari tujuh ini, ada sekitar tiga perusahaan yang direlokasikan ke Batang," katanya dalam rilis video, Kamis.

Bahlil menuturkan meski kawasan industri Batang merupakan kawasan baru, pemerintah memang mendorong agar wilayah tersebut bisa jadi solusi untuk mengundang lebih banyak investor masuk.

"Ke depan, kita fokuskan semua ke Batang," ujarnya.

Pasalnya, lahan di Batang yang merupakan milik PTPN, salah satu perusahaan BUMN, di mana pemerintah bisa melakukan intervensi untuk menekan harga lahan sehingga bisa meningkatkan daya saing.

Hal itu diperlukan lantaran masalah lahan menjadi salah satu faktor yang membuat daya saing Indonesia rendah dibandingkan Vietnam sehingga tidak dilirik investor.

Bahlil menyebut harga tanah di Vietnam maksimal hanya Rp1 juta hingga Rp1,1 juta per meter, atau bahkan gratis. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan di Indonesia yang bisa mencapai Rp3 juta bahkan hampir Rp4 juta per meter.

Oleh karena itu, lanjut mantan Ketua Umum Hipmi itu, negara hadir melalui BUMN agar lahan bisa disewa dalam kontrak jangka panjang dengan harga kompetitif.

"Ke depan, strategi marketing kami adalah bagaimana kita menyampaikan ke calon investor bahwa ke depan kawasan industri Batang adalah solusi terbaik dalam mengurangi capex (belanja modal) mereka dalam konteks perolehan tanah untuk kawasan industri mereka," katanya.

Menurut Bahlil, sebagai mantan pengusaha, ia menyakini kawasan industri Batang jadi solusi terbaik bagi calon investor untuk menemukan kawasan yang strategis. Selain lahan yang bisa disewa alih-alih dibeli seperti kawasan industri lain yang dikelola swasta, posisi Batang dan infrastruktur pendukungnya dinilai jadi poin plus.

Batang terletak tepat di tengah pulau Jawa antara Jakarta dan Jawa Timur. Selain dekat dengan rel kereta api, kawasan itu juga berada hanya 30 menit dari pintu keluar tol dan dekat dengan pelabuhan yang akan dibangun.

"Kita telah siapkan, silakan mereka (investor) memilih yang terbaik. Investor kan selalu mencari yang terbaik. Kendal, Brebes juga dihidupkan. Tapi kembali, investor mau pilih yang mana," kata Bahlil.

Baca juga: Presiden: Jangan sampai potensi perusahaan relokasi keluar Indonesia

Baca juga: Bahlil ungkap proses gaet relokasi tujuh perusahaan

Baca juga: Presiden Jokowi senang, 7 perusahaan asing relokasi pabrik ke RI

Baca juga: Presiden: Indonesia harus jadi tujuan relokasi investasi

Baca juga: Bahlil: investor tak perlu beli lahan di kawasan industri Batang


 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

BKPM: Belum ada investor asing yang hengkang dari Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar