Perusahaan nasional dituntut lakukan transformasi bisnis

Perusahaan nasional dituntut lakukan transformasi bisnis

Petugas beraktivitas di pabrik pembuatan baja di Kawasan Industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10/2019). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/foc.

Wajib hukumnya perusahaan melakukan transformasi, apalagi bagi perusahaan yang sudah cukup lama beroperasi
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Mudrajad Kuncoro menyatakan perusahaan nasional yang ingin menjadi pemain global dituntut melakukan transformasi bisnis.

Melalui proses transformasi, menurut dia, sebuah perseroan akan lebih kompetitif, responsif dan profesional.

Tanpa transformasi, lanjutnya, mereka bisa tergeser oleh perusahaan-perusahaan baru yang biasanya lebih agresif dan didukung teknologi tinggi.

"Wajib hukumnya perusahaan melakukan transformasi, apalagi bagi perusahaan yang sudah cukup lama beroperasi," kata Mudrajad melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Permintaan produk industri hulu baja nasional turun 50-60 persen

Sebelumnya, produsen baja nasional PT Gunung Raja Paksi (GRP) menyatakan telah melakukan sejumlah transformasi pada seluruh proses bisnisnya dari hulu ke hilir sebagai langkah menjadi produsen baja tingkat global.

"Kami percaya bahwa transformasi merupakan salah satu cara untuk menciptakan kembali gairah bisnis, untuk membangun kebaikan yang lebih besar bagi industri baja di Indonesia," ujar Presiden Komisaris GRP Tony Taniwan.

Dia memaparkan GRP yang berdiri 50 tahun lalu di Medan, Sumut, itu pada awalnya hanya memasok peralatan bagi sejumlah perkebunan di Sumatera Utara, kemudian berekspansi ke Pulau Jawa dan saat ini memiliki pabrik dan fasilitas pendukung seluas 200 hektare lebih di Cikarang, Bekasi.

Perusahaan yang mempekerjakan 5.000 lebih karyawan ini mempunyai kapasitas produksi sebesar 2,8 juta ton baja per tahun atau sekitar 12 persen dari kapasitas produksi baja nasional.

Selain untuk memenuhi pasar domestik, produksi baja perusahaan tersebut diekspor ke sejumlah negara seperti Filipina, Malaysia, dan negara lain.

Menurut dia, salah satu manfaat transformasi adalah perusahaan dikelola secara lebih transparan sehingga lebih mudah dalam pengawasan dan koordinasi.

"Transformasi bisnis adalah keniscayaan jika perusahaan ingin lebih maju lagi ke depan," ujar Tony.

Sementara itu, Mudrajad yang juga Rektor Universitas Trilogi Jakarta ini mengapresiasi perusahaan yang berani melakukan transformasi dengan cara meningkatkan kualitas teknologinya, baik di sisi produksi, keuangan, maupun pemasaran.

"Proses bisnis itu sangat dinamis dan selalu berhubungan dengan perkembangan teknologi yang terus berubah. Jadi, penerapan teknologi dan cara kerja baru menjadi tidak terhindarkan jika perusahaan ingin terus berkembang," katanya.

Baca juga: Menperin fokus tekan impor dan tingkatkan utilisasi industri baja
Baca juga: Jokowi sebut impor baja jadi sumber utama defisit neraca perdagangan

Pewarta: Subagyo
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Presiden instruksikan pembangunan pusat data nasional

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar