Pemerintah diminta antisipasi dampak kemarau terhadap sektor pertanian

Pemerintah diminta antisipasi dampak kemarau terhadap sektor pertanian

Anggota Komisi IV DPR RI Sunarna saat melihat kondisi Embung Rawa Bener, Desa Piasa Kulon, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, usai kegiatan Safari Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) Dalam Rangka Penanggulangan Dampak Wabah COVID-19, Sabtu (4/7/2020). ANTARA/Sumarwoto

Terkait dengan musim kemarau yang berbarengan dengan pandemi COVID-19, kesiapan pangan memang sangat kita butuhkan
Banyumas, Jawa Tengah (ANTARA) - Pemerintah diminta mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian yang berbarengan dengan pandemi COVID-19, kata anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sunarna.

"Terkait dengan musim kemarau yang berbarengan dengan pandemi COVID-19, kesiapan pangan memang sangat kita butuhkan. Makanya, kesiapan pada peningkatan untuk pupuk, bantuan benih, dan lain-lain juga mulai digelontorkan pada bulan-bulan ini, termasuk kesiapan penganggaran dan pompa," katanya di Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu.

Baca juga: Pemerintah persiapkan lumbung pangan di Kalteng ditanam Oktober

Sunarna mengatakan hal itu kepada wartawan usai acara Safari Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) Dalam Rangka Penanggulangan Dampak Wabah COVID-19 di Taman Desa Embung Rawa Bener, Desa Piasa Kulon, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.

Menurut dia, beberapa pompa air dalam yang disiapkan Kementerian Pertanian merupakan bagian dari antisipasi dampak musim kemarau, baik untuk pertanian hortikultura maupun padi.

"Tapi, memang padi ya kebutuhannya besar. Mungkin itu akan ditingkatkan untuk peningkatan ke beberapa tempat yang memang airnya bagus, digenjot produksinya, termasuk pengembangan untuk beberapa varietas yang usianya pendek," kata legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII (Banyumas-Cilacap) itu.

Bahkan, saat sekarang, kata dia, Kementerian Pertanian sudah mencoba mengembangkan varietas padi yang usianya 75 hari.

"Di daerah saya (Klaten, Jawa Tengah) sudah dicoba varietas yang bisa 75 hari. Sekarang juga ada yang umur 50 hari sudah berbuah," kata dia yang pernah menjabat Bupati Klaten selama dua periode.

Menurut dia, hal itu juga dilakukan untuk antisipasi ke depan karena memang masalah pangan sangat utama.

Dengan demikian, kata dia, tidak hanya peralatan pompa air, pemilihan varietas benih padi juga harus diperhatikan karena untuk meningkatkan indeks tanam.

"Jadi, untuk mengejar indeks tanam ini, termasuk juga tahun depan pembukaan lahan dilanjutkan untuk mencetak sawah baru, targetnya satu juta hektare, nanti mungkin di luar Jawa," katanya.

Baca juga: Musim kemarau, Kementan turut produksi benih tahan kekeringan
Baca juga: 51,2 persen wilayah Indonesia telah alami musim kemarau

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Jelang kemarau, Manggala Agni Sultra antisipasi karhutla

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar