Artikel

Nasi tempong dan kisah kuliner pedas Banyuwangi

Oleh Hanni Sofia

Nasi tempong dan kisah kuliner pedas Banyuwangi

Nasi tempong kuliner pedas khas Banyuwangi (Birkom Kemenparekraf)

Banyuwangi bisa menjadi contoh daerah lain dalam kesiapan menjalankan protokol kesehatan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif
Jakarta (ANTARA) - Untuk yang selalu kangen dengan rasa pedas, sesekali cobalah Nasi Tempong. Meski sekilas tak ada yang tampak istimewa dari kuliner asli Banyuwangi, Jawa Timur, itu namun tak ada salahnya mencoba, ditanggung bisa ketagihan “ditampar” pedasnya nasi tempong.

Kesederhaan Nasi Tempong tidak menghalangi kelezatannya. Dengan isian yang seolah biasa mulai dari nasi putih, dilengkapi dengan potongan tempe, tahu, dan ikan asin, semakin bikin kangen saat ditambahkan lalapan berupa sayuran rebus mulai dari kol, bayam, juga terung.

Satu hal lain yang membuat menu ini menjadi istimewa adalah sambalnya. Pedasnya cabai rawit, menyatu dengan kesegaran tomat ranti dengan aroma terasi khas Banyuwangi menghadirkan sensasi yang sulit dilupakan.

Semuanya diulek menjadi sambil dadak sehingga kesegarannya sangat terasa, membuat siapapun serasa "tertampar" akan kesegaran dan rasa pedas dari sambal Nasi Tempong.

Hal itu pula yang menjadi latar penyebutan Nasi Tempong. Yakni yang dalam bahasa Osing, bahasa daerah Banyuwangi, "tempong" berarti "tampar".

Tak usah khawatir untuk mencicipi sebab kini deretan penjual Nasi Tempong di Banyuwangi sudah mulai beroperasi kembali dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Salah satunya adalah Nasi Tempong Mbok Wah yang sangat terkenal. Lokasinya ada di Jalan Gembrung Nomor 220, Glagah, Bakungan, Banyuwangi, Jawa Timur.

Menuju lokasi ini pengunjung akan lebih dahulu diajak menyusuri jalan yang sedikit sempit namun tetap bisa dilewati kendaraan roda empat. Lokasinya tepat berada di pinggir jalan namun sedikit tinggi.

Setelah sedikit menaiki tangga, para pengunjung bisa memilih lebih dulu lokasi makan. Jika ingin santai sambil lesehan, bisa memilih lokasi di sebelah kiri warung makan. Sementara di sisi kanan, berjejer meja dan bangku yang juga bisa jadi pilihan.

Sementara di bagian tengah rumah makan, tersaji pemandangan yang dijamin membuat siapapun tergugah seleranya. Deretan menu pendamping Nasi Tempong tersaji dan tersusun dengan rapi. Mulai dari pilihan ikan yang digoreng, udang, paru, (nus) cumi hitam, hingga satai telur puyuh.

Dan yang paling menarik perhatian adalah sambal nasi Tempong yang diulek di atas cobek berukuran besar. Sambal ini dibuat dadakan saat pelanggan datang dan disesuaikan dengan jumlah yang datang.

Nasi putih hangat dengan potongan tahu dan tempe serta ikan asin yang garing, terasa sangat nikmat dengan rasa sambalnya yang pedas-asam nan segar. Belum lagi dengan sayuran rebusnya yang masih garing dan manis.

Jangan lewatkan menu lainnya seperti udang goreng tepung, juga paru goreng serta nus (cumi) hitam. Renyah dari tepungnya menyelimuti rasa udangnya yang manis. Begitu juga dengan paru goreng, garing di luar namun lembut di dalam.

Kekenyalan dari nus (cumi) hitam juga terasa segar, apalagi dengan kuahnya kala diaduk dengan nasi dan sambal. Sedap tak terkira. Untuk yang tidak terlalu suka pedas, pengunjung bisa minta dibuatkan dengan rasa pedas yang tak terlalu "menampar".

Baca juga: 300 warung rakyat di Banyuwangi terima sertifikat normal baru

Dibuat “Dadakan”

"Kunci dari kesegaran sambal ini memang yang dibuat baru, saat pelanggan datang. Sehingga rasanya akan selalu segar," ujar Towi, pengelola rumah makan Sego Tempong Mbok Wah.

Adik dari Mbok Wah ini mengatakan, awalnya menu ini menjadi andalan masyarakat Banyuwangi untuk bekal mereka ke sawah.

Namun seiring waktu dengan rasanya yang khas dan semakin terbukanya Banyuwangi sebagai destinasi wisata, membuat masakan ini jadi banyak diburu wisatawan. Karena itu kemudian banyak disajikan menu-menu pendukung lainnya.

"Tapi kuncinya semuanya harus selalu segar, bahan-bahannya segar. Makanya kita harus selalu baru, kalau diinapkan rasanya sudah berubah. Kita sesuaikan dengan pengunjung yang datang," kata Towi.

Dalam satu hari, Towi mengatakan, warung yang dikelolanya ini bisa menghabiskan lima kilogram cabai rawit untuk sambal.

Namun sejak pandemi COVID-19, jumlahnya tidak seperti biasanya karena jumlah pengunjung yang menurun drastis. Bahkan ia harus menutup usahanya dalam waktu yang cukup lama.

Namun dengan penanganan COVID-19 di Banyuwangi, ia bersyukur karena sudah mulai kembali membuka kembali usahanya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dikatakannya juga melakukan pendampingan dan pengawasan dengan ketat.

"Semua karyawan yang masuk dipastikan kesehatannya, dengan cek suhu tubuh dan menggunakan masker dan pelindung wajah. Tempat cuci tangan dan hand sanitizer juga kami siapkan di setiap area rumah makan," kata Towi.

Baca juga: Bisnis kuliner Banyuwangi dipersiapkan hadapi normal baru

Pulihkan Pariwisata

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebelumnya telah membuat timeline tahapan pemulihan untuk sektor pariwisata daerah yang dibagi dalam tiga tahapan. Yakni ‘emergency’, ‘recovery’, hingga penerapan normal baru.

Saat ini Banyuwangi telah memasuki fase pemulihan yang diisi dengan edukasi dan sosialisasi tentang protokol yang akan berlaku di masa normal baru kepada para stakeholder pariwisata daerah.

Pemkab Banyuwangi juga telah memberikan pendampingan dan sertifikasi kesehatan termasuk restoran dan warung rakyat.

"Dengan sertifikasi ini, kami berharap wisatawan yang datang merasa nyaman dan aman menikmati kuliner di warung rakyat," kata Azwar Anas.

Sebelumnya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Wishnutama Kusubandio  mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam menyiapkan protokol kenormalan baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dengan melibatkan peran aktif seluruh pemangku kepentingan parekraf termasuk masyarakat.

"Banyuwangi bisa menjadi contoh daerah lain dalam kesiapan menjalankan protokol kesehatan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pesan Presiden harus betul-betul disiapkan sebuah standar yang menjadi kultur kebiasaan baru dan terus disosialisasikan secara masif dan diikuti dengan uji coba serta pengawasan agar betul-betul standar protokol kesehatan dapat dijalankan di lapangan," kata Wishnutama.

Baca juga: Farah Quinn: ayam kesrut Banyuwangi makanan sehat
Baca juga: PLN dukung UMKM kuliner di Banyuwangi gunakan kompor listrik

 

Oleh Hanni Sofia
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pariwisata Banyuwangi songsong era normal baru

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar