Batan: Nuklir sebagai solusi ketahanan energi yang ramah lingkungan

Batan: Nuklir sebagai solusi ketahanan energi yang ramah lingkungan

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Anhar Riza Antariksawan saat memberikan keterangan pers terkait perkembangan penanganan penemuan paparan tinggi radioaktif dan Kepemilikan Radioaktif ilegal di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (28/2/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/foc.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Anhar Riza Antariksawan mengatakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sebagai solusi ketahanan energi yang handal, terjangkau dan ramah lingkungan di masa depan.

"Untuk menjaga lingkungan hidup, kemudian menjaga ketahanan energi, pasokan energi dalam jumlah besar, PLTN bisa digunakan meskipun tetap harus mempertimbangkan faktor keselamatan dan keamanan. Bagaimanapun Indonesia tetap mempertimbangkan PLTN menjadi salah satu alternatif," kata Anhar kepada ANTARA, Jakarta, Senin.

Anhar menuturkan PLTN menjadi salah satu pembangkit energi bersih yang tidak mengemisi karbon (CO2), dan itu diakui dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN).

"Di dalam KEN pun menyebutkan bahwa kalau kita memperhitungkan kelestarian lingkungan hidup, nuklir dipertimbangkan. Kita sekarang membutuhkan energi yang bersih sehingga harusnya PLTN itu dipertimbangkan dengan baik," tutur Anhar.

Baca juga: Batan: PLTN miliki pertahanan berlapis prioritaskan keselamatan

Baca juga: Tepco Jepang pertimbangkan ancaman tsunami pada PLTN Fukushima

Anhar mengatakan PLTN merupakan salah satu pembangkit listrik yang saat ini di dunia berkontribusi sekitar 15 persen dari listrik dunia. Ada sekitar 440 PLTN yang beroperasi di seluruh dunia.

"Itu bisa diartikan juga bahwa PLTN sudah memberikan kontribusi pada pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di berbagai belahan dunia," ujar Anhar.

Dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) Indonesia, didorong pemakaian energi baru dan terbarukan agar meningkat terus.

Memang di dalam KEN, energi nuklir merupakan opsi yang terakhir dalam upaya menghasilkan energi listrik untuk kebutuhan dalam negeri.

Saat ini, energi listrik di Indonesia masih didominasi pembangkit listrik berbahan bakar fosil seperti batu bara.

Namun, dampak negatif dari penggunaan bahan bakar fosil adalah emisi karbon yang akan berkontribusi pada perubahan iklim dan pemanasan global.

Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia menargetkan agar pada 2025, energi baru dan terbarukan menempati porsi 23 persen dari bauran energi dalam negeri.

Peningkatan energi baru dan terbarukan terus diupayakan untuk mengurangi ketergantungan pada energi berbahan bakar fosil yang melepaskan emisi karbon yang berbahaya bagi lingkungan.

Untuk itu, nuklir merupakan energi baru yang bisa dieksplorasi untuk memenuhi target di bauran energi itu.

Dalam laman resmi, Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) menyatakan bahwa tenaga nuklir adalah kunci untuk masa depan rendah emisi karbon.

IAEA tetap berkomitmen untuk membantu negara menggunakan tenaga nuklir untuk menghasilkan listrik rendah karbon dan melawan dampak perubahan iklim.

Tenaga nuklir menyediakan listrik yang stabil dengan tingkat keamanan energi yang tinggi dan emisi karbon yang dapat diabaikan.*

Baca juga: Batan lakukan studi kelayakan pembangunan PLTN di Kalbar

Baca juga: BATAN mulai studi kelayakan PLTN di Kalimantan Barat

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pembangunan PLTN di Kalbar mantapkan pemindahan ibu kota negara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar