Kapal induk AS gelar latihan di Laut China Selatan di depan mata China

Kapal induk AS gelar latihan di Laut China Selatan di depan mata China

Kapal induk USS Nimitz (CVN 68) yang membawa sejumlah pesawat jet saat transit di Laut Cina Selatan. Dua kapal induk AS USS Nimitz dan USS Ronald Reagan telah melakukan latihan di Laut Cina Selatan untuk "mendukung Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka". ANTARA/REUTERS/ABACA/HO-US Navy/Mass Communication Specialist 1st Class/John Philip Wagner, Jr/aa.

Tokyo (ANTARA) - Dua kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan latihan di Laut China Selatan, dalam jangkauan pandang kapal-kapal Angkatan Laut China yang sedang mengawasi, kata komandan salah satu kapal induk USS Nimitz kepada Reuters, Senin.

"Mereka telah melihat kami dan kami sudah melihat mereka," kata Laksamana Muda James Kirk dalam sebuah wawancara telepon dari Nimitz. Kapal tersebut telah melakukan latihan terbang di jalur air dengan kapal induk Armada Ketujuh, USS Ronald Reagan. Rangkaian latihan dimulai pada saat liburan Hari Kemerdekaan AS 4 Juli.

Pada masa lalu, Angkatan Laut AS membawa kapal-kapal induk untuk unjuk kekuatan di Laut China Selatan. Tetapi, latihan tahun ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat ketika AS mengkritik China atas penanganan virus corona.

AS juga menuduh China mengambil keuntungan dari pandemi untuk memperkuat klaim teritorialnya di perairan tersebut.

Kementerian Luar Negeri China mengatakan AS telah sengaja mengirim kapalnya ke Laut China Selatan untuk pamer kekuatan. China juga menuduh AS berusaha memantik kemarahan antarnegara di kawasan itu.

Pentagon, ketika mengumumkan latihan kedua kapal induk, mengatakan ingin "membela hak semua negara untuk terbang, berlayar, dan beroperasi di mana pun hukum internasional mengizinkan".

AS menggambarkan kapal-kapal berbobot 100.000 ton dan 90 unit pesawat yang mereka angkut itu masing-masing merupakan sebagai "simbol keteguhan hati".

Sekitar 12.000 pelaut berada di kapal dalam gabungan kelompok kapal penyerang itu. 

China mengklaim 90 persen wilayah di Laut China Selatan, yang kaya sumber daya dan merupakan jalur perdagangan senilai tiga triliun dolar AS (sekitar Rp45 kuadriliun) per tahun.

Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga memiliki klaim di wilayah itu

China telah membangun pulau-pulau buatan di kawasan Laut China Selatan tetapi mengatakan bahwa niatnya damai.

Kontak dengan kapal-kapal China terjadi tanpa ada insiden, kata Kirk.

"Kami memiliki harapan bahwa kami akan selalu berinteraksi secara profesional dan aman. Kami beroperasi di perairan yang sangat padat, banyak jenis lalu lintas laut," ujar Kirk.


Sumber: Reuters

Baca juga: China tepis kritik AS soal latihan militer di Laut China Selatan

Baca juga: Menanti soliditas ASEAN hadapi "zero sum game" China di LCS

Baca juga: Indonesia dorong negosiasi CoC Laut China Selatan segera dilanjutkan

 

Indonesia dorong kelanjutan negosiasi CoC Laut China Selatan

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar