Pemimpin gereja Rusia keberatan monumen Turki dijadikan masjid

Pemimpin gereja Rusia keberatan monumen Turki dijadikan masjid

Spanduk pemilu bergambar Presiden Turki Tayyip Erdogan, dengan latar monumen era Byzantium Hagia Sophia, terlihat di Istanbul, Turki, Kamis (28/3/2019). Slogan pada spanduk berbunyi "Istanbul merupakan cerita cinta kami". ANTARA FOTO/REUTERS/Murad Sezer/djo

Moskow (ANTARA) - Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia Patriark Kirill menyebut seruan untuk mengubah Hagia Sophia menjadi masjid adalah ancaman bagi agama Kristen.

Presiden Turki Tayyip Erdogan sebelumnya mengusulkan untuk mengembalikan status masjid Hagia Sophia, bangunan kuno di jantung kekaisaran Byzantium Kristen dan Kekaisaran Ottoman Muslim dan sekarang menjadi salah satu monumen yang paling banyak dikunjungi di Turki.

"Ancaman terhadap Hagia Sophia adalah ancaman bagi semua peradaban Kristen, yang berarti (ancaman terhadap) spiritualitas dan sejarah kita," kata Patriark Kirill  dalam pernyataan, Senin.

"Apa yang bisa terjadi pada Hagia Sophia akan menyebabkan rasa sakit yang mendalam di antara orang-orang Rusia," ia melanjutkan.

Kremlin pada Senin menyatakan harapan agar pihak berwenang Turki mempertimbangkan status Hagia Sophia sebagai Situs Warisan Dunia.

"Ini adalah maha karya tercinta dunia bagi para wisatawan dari semua negara yang mengunjungi Turki, termasuk bagi para wisatawan dari Rusia, yang bagi mereka Hagia Sophia, selain dari nilai pariwisatanya, memiliki nilai spiritual yang sangat dalam," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Usulan Erdogan untuk mengembalikan status masjid Hagia Sophia dikritik oleh beberapa pemimpin agama dan politik, termasuk Patriark Ekumenikal yang berbasis di Istanbul, pemimpin spiritual umat Kristen Ortodoks dunia, juga oleh Yunani, Prancis, dan Amerika Serikat.

Erdogan mengatakan pekan lalu bahwa kritik atas kemungkinan mengalihfungsikan bangunan  itu,yang dikenal di Turki sebagai Ayasofya, adalah serangan terhadap kedaulatan Turki.

Banyak warga Turki berpendapat bahwa status masjid akan lebih mencerminkan identitas Turki sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim. Jajak pendapat menunjukkan sebagian besar warga Turki mendukung perubahan itu.

Hagia Sophia adalah tempat ibadah penting bagi umat Kristen Ortodoks selama berabad-abad sampai Istanbul, yang kemudian dikenal sebagai Konstantinopel, jatuh ke tangan Turki Ottoman pada 1453.

Mereka mengubah bangunan itu menjadi sebuah masjid tetapi, setelah pembentukan republik Turki modern sekuler di bawah Mustafa Kemal Ataturk, Hagia Sophia menjadi museum pada 1934.

Banyak orang Kristen merasa nyaman dengan status Hagia Sophia sebagai museum karena bangunan kuno yang berasal dari abad keenam itu secara efektif menciptakan ruang netral yang menghormati warisan Kristen dan Muslim.

Sumber: Reuters

Baca juga: Budaya Islam Indonesia diperkenalkan di Turki
​​​​​​​
Baca juga: Kapal tangki tabrak gedung bersejarah di Bosphorus, Turki

 

RI-Turki Tingkatkan Kerja Sama Ekonomi

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar