BPS survei sektor usaha terkait dampak COVID-19

BPS survei sektor usaha terkait dampak COVID-19

Kepala BPS Suhariyanto saat wawancara khusus dengan ANTARA terkait sensus penduduk 2020 dan dampak pandemi COVID-19 di Jakarta, Selasa (7/9/2020). ANTARA/Dewa Wiguna

Kami ingin melihat dampak paling dalam ke sektor mana saja, meski sebetulnya sudah kelihatan pariwisata itu habis
Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) berencana melakukan survei kepada sektor usaha terkait dampak COVID-19 untuk mengetahui imbas paling riil dari pandemi akibat penyakit yang disebabkan virus SARS CoV-2 itu.

"Kami ingin melihat dampak paling dalam ke sektor mana saja, meski sebetulnya sudah kelihatan pariwisata itu habis," kata Kepala BPS Suhariyanto ditemui di kantornya di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Kemenparekraf fokus mobilisasi wisnus untuk tahap awal pulihkan wisata

Menurut dia, survei khusus perusahaan itu rencananya mulai dilakukan pekan depan dengan mengambil sampel perusahaan di 17 sektor usaha di seluruh Indonesia.

Ia tidak menargetkan jumlah perusahaan yang akan disurvei, namun disesuaikan dengan proporsi sektor usaha misalnya pariwisata yang melingkupi banyak usaha di antaranya transportasi, perhotelan, makanan, hingga ekonomi kreatif,

Sektor usaha lain yang disurvei di antaranya pertambangan, pertanian dan perkebunan, hingga manufaktur yang meliputi banyak usaha seperti otomotif hingga elektronik.

Rencananya, lanjut dia, survei itu akan dilakukan selama dua minggu yang semuanya menggunakan layanan dalam jaringan (online) dan melalui surat elektronik.

Survei daring ini, ucap dia, untuk menerapkan protokol kesehatan, menghindari tatap muka sebagai bagian pencegahan penyebaran COVID-19.

"Kami survei tanpa tatap muka karena ini untuk menghindari penyebaran COVID," katanya.

Sebelumnya, BPS sudah melakukan survei sosial demografi dampak COVID-19 menyasar kelompok rumah tangga sebanyak 87 ribu responden melalui daring.

Adapun survei tersebut meliputi pengaruh pandemi COVID-19 terhadap pendapatan, pola belanja milenial hingga tren belanja daring.

"Kemarin kami sudah melihat ada pendapatan menurun tapi untuk masyarakat lapisan bawah, tujuh dari 10 orang pendapatannya menurun, masyarakat atas itu tiga dari 10 bilang menurun. Artinya, pandemi ini jauh memberikan dampak kepada masyarakat bawah," katanya.

Baca juga: BPS berharap pergeseran puncak panen raya tahan kontraksi ekonomi
Baca juga: 4,8 juta UMKM ditargetkan dapat dana PEN


Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pertumbuhan ekonomi minus 5,32 persen

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar