TK dan PAUD di Jabar disarankan GTPP tetap belajar di rumah

TK dan PAUD di Jabar disarankan GTPP tetap belajar di rumah

Ketua Divisi Pelacakan Kontak, Pengujian, dan Manajemen Laboratorium Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Jawa Barat dr Siska Gerfianti. (FOTO ANTARA/Ajat Sudrajat)

Ini dilakukan karena penyebaran COVID-19 di Jawa Barat masih terus berlangsung,
Bandung (ANTARA) - Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID-19 Provinsi Jawa Barat (Jabar) menyatakan anak-anak di taman kanak-kanak (TK) atau pendidikan usia dini (PAUD) di wilayah itu tetap disarankan untuk belajar, bermain, dan beraktivitas, di rumah.

"Ini dilakukan karena penyebaran COVID-19 di Jawa Barat masih terus berlangsung," kata Ketua Divisi Pelacakan Kontak, Pengujian, dan Manajemen Laboratorium GTPP COVID-19 Jabar dr Siska Gerfianti di Gedung Sate Bandung, Selasa.

Dia mengatakan penularan COVID-19 tidak mengenal umur, di mana anak-anak pun termasuk usia yang rentan tertular virus corona sehingga Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tetap menyarankan anak-anak usia TK atau PAUD tetap beraktivitas, belajar, dan bermain di rumah.

"Kegiatan pendidikan usia dini, yakni PAUD dan lain-lain, direkomendasikan oleh IDAI, tetap dilakukan di rumah masing-masing saja. Jadi untuk kegiatan pembelajaran bagi anak ini, lebih direkomendasikan dalam pembelajaran jarak jauh," katanya.

Menurut dia selama ini terdapat sebanyak 196 anak usia 0-18 tahun di Jabar yang terpapar COVID-19 dan baru sekitar 100 di antaranya yang dinyatakan sudah sembuh sehingga hal ini harus menjadi perhatian berbagai pihak.

Ia mengatakan sebagian besar anak tertular dari orang tua atau anggota keluarga lainnya karena selama ini anak-anak tersebut kebanyakan tinggal di rumah. Namun, kata dia, kemungkinan lainnya kini terbuka di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB), yakni di ruang publik dari mulai pasar, pusat perbelanjaan, mal, dan lainnya.

"Pada sebelumnya kan semuanya di rumah ya. Jadi anak-anak ini tertular dari orang tua yang masih ke luar rumah, misalnya ayahnya masih kerja ibunya masih kerja dan lain-lain. Nah ini yang penting untuk orang tua," katanya.

Kebiasaan untuk selalu membersihkan diri setelah pulang dari kegiatan di luar, katanya, harus tetap dilakukan selain menggunakan masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak saat di luar rumah.

"Sehingga jangan sampai, katanya, virus dari luar rumah terbawa dan terkena anak-anak di rumah," kata Siska Gerfianti.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat, Atalia Praratya Ridwan Kamil mengatakan dari sekitar 48 juta warga Jawa Barat, sekitar 34,7 persen di antaranya adalah usia anak dan selama ini pun beredar hoaks bahwa usia anak cenderung kebal terhadap COVID-19.

Menurut dia anak-anak juga berpotensi terdampak jika orang tuanya terpapar COVID-19 dan selama ini sejumlah anak pun ikut terdampak dari sisi ekonomi akibat ekonomi keluarga yang terdampak virus corona.

"Jadi di tengah pandemi COVID-19, anak-anak ini mereka akan kesulitan untuk mendapatkan layanan pendidikan secara maksimal," kata dia.

"Kalau selama ini mereka bisa datang ke sekolah mendapatkan pelajaran dari guru termasuk juga di rumah, sekarang harus bisa dengan orang tua dan ini mereka bisa lebih terpantau," katanya.

Karena itu, orang tua harus tetap menjaga kualitas pendidikan tetap terjaga, termasuk dengan pembelajaran jarak jauh dari televisi, demikian  Atalia Praratya Ridwan Kamil.

Baca juga: Disdik Jabar tak terburu-buru buka kembali sekolah

Baca juga: IDAI sarankan seluruh sekolah diliburkan

Baca juga: Gubernur Jabar umumkan zona merah hingga biru COVID-19

Baca juga: IDAI: jangan bawa anak ke keramaian agar terhindar COVID-19

 

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemprov Jabar kaji opsi tes COVID-19 sebagai syarat wajib untuk pemilih

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar