Artikel

Kampung Tangguh dan zona hitam COVID-19

Oleh Firman

Kampung Tangguh dan zona hitam COVID-19

Rumah Karantina di Kampung Tangguh Banua di Jalan Batu Benawa Banjarmasin. (ANTARA/Bayu Pratama Syahputra)

Banjarmasin (ANTARA) - Penyebaran kasus COVID-19 di Kota Banjarmasin, Ibukota Kalimantan Selatan, semakin mengkhawatirkan. Bahkan sejumlah kelurahan kini sudah dilabel zona hitam.

Namun ada satu kampung tangguh di Jalan Batu Benawa yang tidak ada warganya terpapar COVID-19 meski berada di tengah zona hitam, yaitu Kelurahan Teluk Dalam, Kecamatan Banjarmasin Tengah.

"Alhamdulillah meski Kelurahan Teluk Dalam kini masuk kategori zona hitam, namun khusus di kampung kami hingga hari ini tidak ada laporan warga terpapar virus corona," ucap Nahwani Shafwan selaku Ketua RT 48 Batu Benawa IV di Banjarmasin, Rabu.

Masyarakat di kawasan tersebut memang sepakat menjadikan pemukiman mereka tangguh dari penyebaran COVID-19. Melalui pemberian nama Kampung Tangguh Banua, dimana warganya menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

"Kami punya 24 relawan yang bertugas 1x24 secara bergantian. Tugasnya, memastikan warga menggunakan masker, rajin mencuci tangan di tempat yang telah tersedia hingga melakukan penyemprotan cairan disinfektan secara berkala," kata Nahwani.

Baca juga: Polda Papua Barat luncurkan 13 kampung tangguh COVID-19

Baca juga: Kampung Tangguh di Surabaya tunjukkan keberhasilan tangani COVID-19


Akses keluar masuk ke perumahan penduduk yang terdiri dari 4 Rukun Tetangga di RW 04 itu dibatasi yaitu hanya satu pintu, sehingga pengawasan terhadap lalu lintas masyarakat bisa dipantau.

"Jadi di depan pintu gerbang ada tempat cuci tangan, sehingga kami wajibkan mencuci tangan dulu sebelum masuk termasuk jika tak menggunakan masker dilarang masuk," kata Nahwani.
 
Rumah Karantina di Kampung Tangguh Banua di Jalan Batu Benawa Banjarmasin yang memiliki rumah karantina. (ANTARA/Bayu Pratama Syahputra)


Tersedia pula rumah karantina jika ada warga yang masuk dalam Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan sebagainya. Relawan segera berkoordinasi dengan petugas kesehatan di Puskesmas Teluk Dalam agar penanganan cepat dilakukan.

"Jadi prinsipnya, kampung tangguh ini bukan berarti warga kami kebal terhadap COVID-19. Namun, sebagai upaya kami jika ada yang terpapar, segera bisa ditangani dan tidak menyebar. Termasuk menumbuhkan kedisiplinan warga mematuhi protokol kesehatan," katanya.

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Banjarmasin tanggal 7 Juli 2020, kasus positif COVID-19 mencapai 1.530 orang. Dimana yang masih dirawat 1.074 orang, sembuh 304 orang dan meninggal 128 orang.

Kemudian dari 52 kelurahan di 5 kecamatan, ada empat kelurahan yang dikategorikan zona hitam dengan kasus tertinggi hingga kematian terbanyak yaitu Kelurahan Teluk Dalam di Banjarmasin Tengah 69 kasus dan 12 kematian, Kelurahan Pemurus Dalam Kecamatan Banjarmasin Selatan 63 kasus dan 7 kematian, Kelurahan Pemurus Baru Kecamatan Banjarmasin Selatan 58 kasus dan 7 kematian serta Kelurahan Pekapuran Raya di Kecamatan Banjarmasin Timur 76 kasus dan 7 kematian.

"Empat kelurahan menyumbang terbanyak kasus terkonfirmasi positif hingga dikategorikan sudah memasuki zona merah yang kehitam-hitaman. Memang dalam sistem zonasi tidak mengenal adanya zona hitam yang ada itu cuma zona hijau, kuning, oranye dan merah. Namun, tetap kita sampaikan ke masyarakat agar lebih berhati-hati karena sudah kategori rawan penyebarannya," kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Banjarmasin Machli Riyadi.

Baca juga: Upaya Polri lawan COVID-19 lewat inovasi Kampung Sehat

Baca juga: Jaga ketahanan pangan, Karawang bangun Kampung Tangguh COVID-19



Jadi contoh

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menginginkan keberadaan kampung tangguh l, seperti di Kota Malang, Jawa Timur, dijadikan contoh untuk tingkat nasional, dalam upaya penanggulangan pandemi COVID-19.

Muhadjir mengatakan, apa yang dilakukan warga di kampung tangguh itu, merupakan contoh yang baik dan bisa diadopsi untuk wilayah lain yang ada di Indonesia, karena mengedepankan kerja sama warga secara gotong royong untuk memenuhi kebutuhan secara mandiri serta penanganan pandemi COVID-19.

"Ini saya kira contoh yang baik, yang bisa diadopsi oleh daerah yang lain," kata Muhadjir, di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu.

Muhadjir menambahkan, semangat gotong royong warga di kampung tangguh tersebut, dinilai menjadi salah satu cerminan gerakan nasional revolusi mental. Warga yang ada di perkampungan tersebut, saling membantu kepada warga yang lebih membutuhkan.

Selain itu, pemenuhan bahan pangan pokok juga dilakukan secara mandiri oleh warga kampung tangguh. Di kampung itu, warga melakukan budidaya ikan lele, menanam sayuran, termasuk menyiapkan rumah isolasi jika untuk penanganan awal COVID-19.

Kampung Tangguh merupakan satu konsep yang digagas Universitas Brawijaya Malang, dengan melakukan penguatan ketahanan masyarakat di masa pandemi COVID-19. Warga setempat juga dibekali edukasi untuk penanganan COVID-19.

Pada Kampung Tangguh, terdapat tujuh indikator yang dipergunakan, yakni, tangguh Sumber Daya Manusia (SDM) berupa kemampuan untuk menangani bencana, kemudian tangguh pada sisi logistik, kesehatan, keamanan dan ketertiban, informasi, psikologis, dan budaya setempat.

Kampung tangguh diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, dan memberikan kemandirian bagi warga perkampungan pada masa pandemi COVID-19.

Baca juga: Pemkot-Polres Pekalongan bangun Kampung Tangguh Nusantara Candi

Baca juga: Bapenda Jatim bentuk Samsat Tangguh, keliling kampung-kampung



Putus mata rantai

Sementara, Pemerintah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, membangun sejumlah Kampung Tangguh COVID-19 di sejumlah daerah sekitar Karawang juga untuk menjaga ketahanan pangan di tengah pandemi virus corona.

Bupati Karawang  Cellica Nurrachadiana di Karawang, mengatakan keberadaan Kampung Tangguh COVID-19 diharapkan semakin menyadarkan masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona.
​​​
"Desa atau Kampung Tanggap COVID-19 dibentuk sebagai langkah menghadapi wabah COVID-19," katanya.

Ia menyampaikan, secara umum dibentuknya Kampung atau Desa Tangguh COVID-19 di Karawang ialah sebagai upaya antisipasi gangguan pangan. Artinya dilakukan berbagai upaya untuk melakukan ketahanan pangan.

Di antaranya dengan melakukan budidaya ikan secara bersama-sama serta mengelola kebun ketahanan pangan.

Saat ini Kampung Tangguh COVID-19 di Karawang sudah terbentuk di sejumlah kecamatan seperti di Kecamatan Ciampel, Pangkalan, Telukjambe Timur, dan lain-lain.

Kampung Tangguh COVID-19 juga dibentuk sebagai upaya promotif edukatif secara masif sampai ke desa-desa.

Masyarakat Karawang diharapkan dapat memiliki pemahaman yang cukup untuk mengenali, mengantisipasi sampai memutus mata rantai penyebaran COVID-19 secara baik.*

Baca juga: 350 kampung tangguh di Surabaya siap diresmikan

Baca juga: Di tapal kuda Jatim, Unibraw sosialisasi "kampung tangguh"

Oleh Firman
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Polda Kalsel berhasil gagalkan penyelundupan 200 kilogram sabu-sabu

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar