Banjir bandang terjang Entikong perbatasan Indonesia-Malaysia

Banjir bandang terjang Entikong perbatasan Indonesia-Malaysia

Sejumlah warga dan petugas kepolisian bergotong-royong saat banjir bandang menerjang dua dusun di Desa Nekan, Kecamatan Entikong daerah perbatasan Indonesia - Malaysia, wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. ANTARA/Istimewa.

"Jika digambarkan sudah seperti tsunami suara gemuruh air sangat kuat serta arusnya deras..."
Entikong, Kalbar (ANTARA) -
Dua dusun di Desa Nekan Kecamatan Entikong, daerah perbatasan Indonesia-Malaysia, masuk wilayah Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat diterjang banjir bandang, akibatnya 270 kepala keluarga di daerah tersebut terdampak banjir.
 
"Jika digambarkan sudah seperti tsunami suara gemuruh air sangat kuat serta arusnya deras. Ada tiga rumah yang jebol serta ratusan kendaraan roda dua terendam air," kata Sanusi, warga Dusub Nekan, Desa Nekan, Kecamatan Entikong, Sanggau kepada ANTARA, Kamis pagi.
 
Disampaikan Sanusi, hujan deras diperbatasan sejak Rabu(8/7) pukul 15.00 WIB menyebabkan anak Sungai Nekan meluap dan masuk ke pemukiman dengan cepat di Dusun Nekan dan Dusun Grama Jaya, bahkan warga setempat tidak sempat menyelamatkan harta benda
Menurut pengakuan warga, sebelumnya tidak pernah terjadi banjir bandang seperti sekarang ini. Kalau pun ada hanya sekedar luapan anak sungai kerap terjadi ketika hujan namun tidak sampai separah ini.
 
Sementara itu, Kapolsek Entikong AKP Novrial Alberti Kombo dilokasi kejadian mengatakan pihak langsung membentuk dapur umum darurat.
 
Evakuasi warga diutamakan anak - anak dan lansia ke lokasi yang aman dari banjir susulan karena curah hujan tinggi.
 
"Kami sejak sore hingga malam, terus memantau perkembangan air di dua dusun itu, tidak ada korban jiwa namun satu jembatan penghubung antar desa dan dusun putus" jelas Kapolsek Entikong.
 
Diimbau warga tetap waspada apalagi saat ini curah hujan tinggi, waspadai banjir susulan dan tanah longsor.
Baca juga: Lewat jalur "tikus", 876 TKI ditangkap Satgas Pamtas RI-Malaysia

Pewarta: Teofilusianto Timotius
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar