Ancol sebut reklamasi agar bertahan di dunia rekreasi internasional

Ancol sebut reklamasi agar bertahan di dunia rekreasi internasional

Pengunjung mencoba wahana permainan saat berwisata di Dufan, Ancol, Jakarta, Sabtu (20/6/2020). Setelah ditutup selama dua bulan akibat pandemi COVID-19, kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol kembali dibuka. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.

Artinya kita bisa menahan devisa keluar
Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Teuku Sahir Syahali menyebutkan perluasan daratan atau reklamasi yang dilakukan melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 237 Tahun 2020 agar Ancol tetap bertahan di dunia rekreasi internasional.

"Kalau pengembangan Ancol ini kecil, tidak sekalian besar dan ekspansi yang bagus, ketika ada kompetitor besar dan mempunyai modal besar, Ancol bisa selesai. Kemudian kan yang diamanahkan ke kita adalah inovasi," kata Sahir
di Jakarta, Kamis.

Sebelumnya usai rapat bersama Komisi B DPRD DKI Jakarta, Rabu (9/7), Sahir juga menerangkan, pengembangan Ancol dengan tempat rekreasi milik dalam negeri itu dapat menahan devisa untuk tidak keluar negeri.

Jika tempat rekreasi milik dalam negeri menyediakan destinasi wisata berkelas internasional maka sedikit wisatawan domestik yang akan memilih untuk ke luar negeri.
"Artinya kita bisa menahan devisa keluar," kata dia.

Baca juga: Ancol persiapkan syarat terkait perluasan kawasan
Baca juga: Legislator PDIP dukung reklamasi Ancol asal jadi tujuan wisata terbaik
Desain kawasan Dunia Kartun yang enjadi lokasi sembilan wahana permainan baru taman hiburan Dunia Fantasi (Dufan) di Taman Impian Jaya Ancol. (HO/Humas Taman Impian Jaya Ancol)
Namun Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak saat ditemui di Ruang Rapat Komisi B DPRD DKI Jakarta pada Selasa (7/7) menilai izin perluasan kawasan rekreasi Dunia Fantasi (Dufan) dan Taman Impian Ancol Timur melalui Keputusan Gubernur (Kepgub) DKI Jakarta 237/2020 tidak berdasar pada pertimbangan zonasi yang tertuang baik di dalam peraturan daerah maupun Perpres Nomor 60/2020.

"Kepgub DKI Jakarta 237/2020 itu keluar belum ada payung hukumnya, harusnya ada dulu payung hukumnya, baru kemudian dia terjemahkan," kata Gilbert.

Gilbert beralasan di dalam perda dan Perpres Nomor 60/2020 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak dan Cianjur telah diatur sejumlah wilayah yang masuk ke dalam zona lindung, limbah serta hunian.

"Sementara itu mengenai zonasi tidak ada satu pun perda mengenai zonasi dipakai. Memang Perda Zonasi sebelumnya yang ada hanya Dufan, tidak disebutkan mengenai Ancol," ujarnya.

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Perluasan lahan di Jakarta mengutamakan kepentingan publik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar