Artikel

Sektor properti zaman pandemi, digitalisasi hingga momen untuk membeli

Oleh M Razi Rahman

Sektor properti zaman pandemi, digitalisasi hingga momen untuk membeli

Foto udara suasana gedung bertingkat di kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Jumat (3/4/2020). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/pras.

Daya beli masih ada dan institusi finansial juga masih bergerak positif. Bisnis properti diharapkan semakin cepat pulih dan mulai mengarah pada kondisi recovery di semester II/2020
Jakarta (ANTARA) - Sektor properti, mau tidak mau, juga sangat terpengaruh oleh penyebaran wabah COVID-19 yang telah meluluhlantakkan beragam aspek perekonomian di Tanah Air dan dunia.

Salah satu fenomena yang terdampak dalam sektor properti adalah pasar digital, yang ke depannya diperkirakan penawaran dan penjualan properti juga bakal lebih semarak di dunia maya.

"Dari sisi developer akan mengganti strategi penjualan. Dari yang awalnya lebih banyak fokus secara offline, diganti dengan lebih banyak secara online," kata Senior Associate Director Colliers International (konsultan properti), Ferry Salanto, di Jakarta, Rabu (8/7).

Selain itu, pengembang juga diprediksi bakal lebih banyak menggunakan iklan dalam pencegahan COVID-19, seperti pemberitahuan kepada pengunjung dan karyawan agar harus mematuhi protokol kesehatan selama berkunjung ke lokasi proyek atau galeri pemasaran atau unit pamer.

Sejumlah strategi penjualan yang bisa digunakan dalam memasarkan proyek properti dalam teknologi digital, misalnya dengan menggunakan teknologi VR (Virtual Reality).

Mengenai dampak pandemi terhadap kinerja penjualan rumah hunian, Ferry berpendapat akan ada sedikit penyesuaian harga jual setelah tertahan pada kuartal sebelumnya, serta membuat cara bayar yang lebih meringankan seperti memperpanjang tenor cicilan atau menghilangkan uang muka.

Sementara itu, dari sisi konsumen, mayoritas orang yang membeli properti residensial saat ini dinilai adalah investor, yang diperkirakan bakal menahan pembelian karena harus mengalokasikan dana untuk keperluan lain yang lebih penting pada saat ini.

Kemungkinan besar pasar apartemen baru akan pulih pada tahun depan sesuai dengan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan membaik di tahun depan apabila pandemi berakhir.

Walaupun banyak pengembang yang menunjukkan stagnasi atau terhambatnya pertumbuhan harga atau kesukaran dalam memasarkan produk yang mereka miliki, ada sejumlah proyek yang menyiratkan optimisme pada masa pandemi.

Contohnya, pengembang Lavon dengan proyeknya Lavon by SwanCity di Tangerang New Industri City, mencatat pertumbuhan penjualan yang signifikan dengan berhasil menjual sekitar 150 unit pada bulan April 2020.

"Meskipun pandemi telah menyebabkan pelemahan ekonomi, namun kami mengalami sisi lain dari dampak tersebut berupa peningkatan permintaan hunian di Lavon. Selama April 2020, ketika efek pandemi COVID-19 terasa sangat sulit, 150 unit rumah di Lavon terjual kepada pelanggan. Itu membuktikan bahwa masa pandemi sebenarnya merupakan waktu yang tepat untuk berinvestasi rumah," kata Direktur Pemasaran Lavon, Arnold Montana.

Ia mengemukakan bahwa pengadopsian strategi berbasis virtual dan program promosi yang menarik berkontribusi besar bagi performa penjualan Lavon.

Arnold memaparkan, pihaknya menggunakan semua platform digital yang potensial, termasuk web site, media sosial, dan aplikasi telepon pintar, dengan tujuan menghadirkan tur atau viewing perumahan Lavon tanpa harus keluar rumah.

Selama pandemi ini, hampir 4 juta pengunjung telah bergabung dengan kampanye digital yang dilakukan Lavon.
Baca juga: Pandemi, konsultan sebut pasar properti untuk WNA lagi meredup
Baca juga: Era normal baru, perusahaan perlu siapkan desain ruang kantor sehat

 
Pembangunan sektor properti di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat terus dilakukan meski terdampak Covid-19. (Foto: Pradita Kurniawan Syah)

Ekspatriat

Salah satu contoh jenis properti yang sangat terdampak dari pandemi adalah pasar penyewaan residensial atau hunian untuk ekspatriat atau Warga Negara Asing di Jakarta.

Ferry Salanto menjelaskan, fenomena tersebut karena banyak ekspatriat baru yang tidak bisa datang ke Indonesia karena sebagian juga mengalami karantina wilayah di negaranya.

Sedangkan ekspatriat lama yang tinggal di ibukota, lanjutnya, banyak yang harus kembali ke negara masing-masing saat terjadinya pandemi.

"Akibatnya banyak terjadi pembatalan sewa tempat tinggal (oleh ekspatriat). Banyak perusahaan yang terkena imbas dari penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), seperti usaha yang harus ditutup, pembatalan even dan proyek baru, dan pemotongan anggaran perusahaan," paparnya.

Meski banyak efek negatif pada pandemi saat ini, pengamat properti sekaligus Business Development Executive Ray White Indonesia, Robby Simon mengatakan pasar properti Tanah Air mulai membaik pada kuartal II/2020, sebab daya beli terlihat bergerak positif.

"Daya beli masih ada dan institusi finansial juga masih bergerak positif. Bisnis properti diharapkan semakin cepat pulih dan mulai mengarah pada kondisi recovery di semester II/2020," kata Robby, dalam acara webinar yang digelar Kadin Jatim di Surabaya, Senin (22/6).

Pada awal tahun 2020 pasar properti Tanah Air sudah menunjukkan gelagat yang cukup baik, tercatat realisasi investasi properti mencapai Rp100 triliun dengan jumlah proyek baru sebesar 1.245 proyek di seluruh Indonesia. Namun kinerja ini harus terhenti akibat pandemi COVID-19.

Robby mengemukakan bahwa pada kuartal pertama 2020, pasar properti di Jabodetabek mengalami penurunan sebesar 50,1 persen, sementara pasar properti di Surabaya hanya tergerus sebesar 20 persen hingga 30 persen.


Faktor kesehatan

Berbagai produk yang dijual oleh pengembang properti pada era pandemi terutama menjelang pelaksanaan normal baru harus bisa menekankan kepada faktor kesehatan agar dapat meningkatkan kinerja sektor properti nasional.

Untuk itu, Head of Advisory Services Colliers International Indonesia, Monica Koesnovagril menyatakan, pengembang harus menyediakan terobosan dan menciptakan produk yang terjangkau dan memprioritaskan faktor kesehatan dan keamanan, sehingga calon pembeli dan penyewa akan tertarik.

Menurut Monica, konsep produk properti yang menekankan kesehatan selayaknya diterapkan pengembang di berbagai produk propertinya, mulai rumah tapak, apartemen bertingkat, gerai ritel, gedung perkantoran, hingga kawasan industri.

Hal tersebut, lanjutnya, adalah penting karena calon pembeli dan penyewa umumnya akan memperhitungkan analisis cost-benefit dalam rangka mencapai keputusan yang akan diambil oleh masing-masing mereka terkait properti.

Colliers International juga menyatakan bahwa banyak perusahaan telah mempersiapkan diri sebelum beroperasi pada masa normal baru, dan salah satu tren desain yang perlu dipersiapkan di kantor adalah wellness room atau ruang sehat.

"Colliers melihat kemungkinan tren desain yang harus dimasukkan adalah yang mengatasi permasalahan droplet, sentuhan antarmanusia baik langsung maupun tidak langsung. Wellness room dapat menjadi rekomendasi bila ada spasi lebih di kantor," kata Head of Project Management Colliers International Indonesia, Hendry Sugianto.

Menurut Hendry, ruang sehat tersebut bertujuan untuk mempersiapkan seseorang yang merasa kurang sehat sebelum dipindahkan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Selain itu, ruang tersebut juga dapat digunakan sebelum pekerja yang mengalami kurang enak tersebut diizinkan untuk pulang lebih cepat pada hari tersebut.

Sementara Head of Real Estate Management Services Colliers International Indonesia Andy Harsanto mengingatkan bahwa pengembang dan penyewa ruang perkantoran juga perlu mengevaluasi berbagai prosedur yang diterapkan dalam jangka waktu satu hingga tiga bulan secara berkala.

Pihak pengembang dan penyewa juga perlu merancang ulang perencanaan desain ruang perkantoran mereka, khususnya dari saat beroperasi kembali hingga tahap evaluasi.
Baca juga: Pengamat : Pasar properti tanah air membaik di kuartal II/2020
Baca juga: Pengembang properti era pandemi harus tekankan faktor kesehatan

 
Pengunjung mendapatkan penjelasan dari pihak pengembang apartemen saat pameran hunian Indonesia Property Expo 2020 di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Sabtu (15/2/2020). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/pd.

Waktu membeli

Ferry Salanto menyatakan bahwa sekarang ini sebenarnya adalah waktu yang tepat untuk membeli properti antara lain karena stagnasi pertumbuhan harga serta kondisi suku bunga.

"Sebenarnya sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk membeli atau pindah sewa tempat tinggal karena developer atau landlord bisa memberikan diakon yang lebih besar demi unit bisa terbeli atau terisi," kata Ferry.

Menurut dia, saat ekonomi membaik dan pasar properti pulih, maka harga diperkirakan juga bakal meningkat secara signifikan seperti yang telah terjadi sebelumnya.

Pihak pembeli atau penyewa, lanjutnya, pada saat ini juga lebih berpotensi untuk bernegosiasi cara bayar atau meminta kontrak yang lebih fleksibel untuk sewa properti.

Namun, diprediksi bahwa sampai akhir tahun 2020, mayoritas konsumen yang merupakan investor akan menahan pembelian karena harus mengalokasikan dana yang ada untuk kebutuhan saat ini.

Selain itu, kemungkinan konsumen juga akan memikirkan risiko pada proyek yang belum selesai, seperti kemungkinan untuk mangkrak karena terkena krisis.

Bangkit

Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendorong pengembang properti di berbagai daerah dapat segera bangkit dalam rangka meningkatkan pembangunan perumahan bagi warga terutama pada masa menjelang pelaksanaan normal baru di Tanah Air.

"Kami berharap para pengembang properti di Indonesia bisa bangkit kembali melaksanakan pembangunan rumah untuk masyarakat di seluruh Indonesia jelang pelaksanaan new normal di sektor perumahan di Indonesia," kata Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid.

Khalawi menekankan pentingnya sinergi serta kolaborasi antara pemerintah dan pengembang dalam mewujudkan tercapainya program Sejuta Rumah.

Hal itu, ujar dia, karena pemerintah dinilai tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan rumah untuk masyarakat sehingga peran aktif pengembang dalam pembangunan perumahan sangat dibutuhkan.

Dirjen Perumahan mengakui bahwa pandemi yang melanda saat ini memang berpengaruh pada produksi rumah yang dibangun oleh pengembang.

Kemudian, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat pengembang mengalami hambatan dalam proses pembangunan dan penjualan rumah yang sudah jadi pun terkendala.

Pelaksanaan Program Sejuta Rumah memang mengalami hambatan pada masa pandemi. Namun, pemerintah juga tetap berupaya mendorong agar penyediaan rumah untuk masyarakat dapat dipenuhi dengan baik.

Lebih lanjut, Khalawi menerangkan bahwa pemerintah terus mendorong agar sektor properti di Indonesia tetap tumbuh pada normal baru ini.
Baca juga: Kontribusi sektor properti terhadap PDB Indonesia masih rendah
 

Oleh M Razi Rahman
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Penerimaan infak dan sodaqoh lebih mudah melalui QRIS

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar