Artikel

Memupuk rasa aman COVID-19 di pulau terluar Lampung

Oleh Ruth Intan Sozometa Kanafi

Memupuk rasa aman COVID-19 di pulau terluar Lampung

Penduduk Pulau Pisang tengah melakukan aktivitas keseharian sebagai nelayan. (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)

Bandarlampung (ANTARA) - COVID-19 sebagai pandemi global tidak hanya menggegerkan kota-kota besar di seluruh dunia, tetapi juga mulai menyentuh pulau-pulau terluar di Provinsi Lampung salah satunya Pulau Pisang di Kecamatan Pasar Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.

Pulau Pisang yang memiliki luas sebesar 148,82 hektare, serta tercatat memiliki 1.400 kepala keluarga, dengan waktu tempuh satu jam perjalanan laut menggunakan jukung (kapal kayu nelayan) dari dermaga Kuala Stabas Krui, menjadikan pulau yang menjadi destinasi wisata bahari andalan Kabupaten Pesisir Barat sebagai salah satu pulau terluar di Provinsi Lampung.

Deburan ombak dan air laut Samudera Hindia yang bergelombang tinggi menghantam kapal kayu ukuran kecil yang di sebut jukung oleh masyarakat setempat dan menjadi teman keseharian masyarakat saat melakukan perjalanan menuju Pulau Pisang.

Meski dengan beragam tantangan dan rintangan, masyarakat Pulau Pisang tidak begitu merisaukan COVID-19 secara berlebih layaknya masyarakat di perkotaan.

Rasa aman tersebut tercipta atas adanya kerja keras nan cekatan dari tenaga kesehatan dan sepuluh orang relawan kesehatan yang melakukan tindakan preventif secara sigap.

Sejak awal COVID-19 memasuki Provinsi Lampung, dan informasi mengenai perkembangan kasus COVID-19 mulai meluas di tengah masyarakat, tidak terkecuali bagi masyarakat Pulau Pisang yang baru saja menikmati aliran listrik pada bulan April 2019.

Informasi yang masif mengenai perkembangan COVID-19 melalui berbagai media informasi cetak maupun elektronik sempat membuat masyarakat Pulau Pisang kebingungan dan mencoba mencari informasi lebih dalam, dari tenaga kesehatan di Puskesmas Pulau Pisang salah satunya kepada relawan tenaga kesehatan.

"Masyarakat sempat risau saat awal kasus COVID-19 ada di Provinsi Lampung, namun kami bersama tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Pulau Pisang mulai bergerak sigap dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan mengelilingi pulau," ujar salah seorang relawan tenaga kesehatan Nusantara Sehat, Muhammad Rio Gumay, di Pesisir Barat.

Baca juga: Kawasan pulau terluar Pulau Pisang didorong terapkan sanitasi sehat

Baca juga: Relawan kesehatan Lampung edukasi protokol kesehatan di pulau terluar

 
Seorang tenaga kesehatan tengah memeriksa wisatawan yang datang ke Pulau Pisang. (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)


Mengedukasi masyarakat


Menurut Rio salah seorang relawan kesehatan yang tergabung dalam program pengabdian dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang akrab dikenal sebagai program Nusantara Sehat asal Kota Palembang, beragam langkah dilakukan dalam melakukan edukasi kepada masyarakat, seperti membagikan selebaran, melakukan edukasi secara langsung bagi masyarakat yang datang ke Puskesmas.

Mereka juga melakukan sosialisasi dengan menggunakan pengeras suara mengendarai motor roda tiga berkeliling pulau menyebarkan tata cara protokol kesehatan, melarang bepergian keluar rumah atau pulau untuk sementara waktu.

"Kami relawan bersama tenaga kesehatan setiap hari melakukan sosialisasi keliling pulau yang terdiri atas enam pekon (kampung) dengan menaiki motor roda tiga, dan setelah itu kami melakukan pemantauan keluar masuknya masyarakat, sebab ada sejumlah masyarakat yang merantau ke luar pulau kembali ke pulau," ucapnya lagi.

Menurut pria yang akrab disapa Rio oleh warga pulau, banyaknya jumlah penduduk lansia dibandingkan dengan penduduk usia produktif di Pulau Pisang mengakibatkan sejumlah masyarakat cepat menerima semua kebiasaan baru seperti menggunakan masker, menyediakan fasilitas cuci tangan, hingga tetap berada di dalam pulau hingga situasi aman telah ditentukan oleh pemerintah setempat.

"Masyarakat sempat risau karena usia lansia cukup banyak mendiami pulau, sedangkan banyak anak cucu mereka yang pulang kampung ke pulau karena pemberlakuan darurat bencana non alam akibat pandemi COVID-19, sehingga kami melakukan pencatatan dan pengawasan kepada masyarakat pulau perantauan yang pulang kampung," ucap pria berusia 27 tahun ini.

Rio menceritakan dalam melakukan tugas pengawasan masyarakat serta melakukan penempelan stiker di rumah warga, sejumlah petugas kesehatan di pulau hanya menggunakan Alat Pelindung Diri yang tidak terlalu lengkap, akibat belum sampainya distribusi hingga ke Pulau Pisang.

"Petugas kesehatan selain mencatat, mengawasi, juga melakukan pemasangan stiker di setiap rumah yang bertuliskan "Di larang untuk datang dahulu", pemasangan stiker dilakukan satu per satu di setiap rumah terutama yang memiliki anggota keluarga yang pulang kampung, namun kami hanya menggunakan masker dan sarung tangan akibat distribusi APD yang belum sampai," katanya.

Baca juga: Menjaga surat suara tak melayang di Pulau Pisang

Baca juga: Semerbak Harum Aroma Cengkih Menyeruak di Pulau Pisang



Jangan mudik

Bagi masyarakat desa Pulau Pisang, pandemi COVID-19 merupakan suatu kejadian yang sangatlah serius karena dapat menjangkit orang tua ataupun nenek kesayangan mereka, sehingga semua protokol kesehatan diterapkan dengan ketat meski, harus menggunakan peralatan sederhana yang tersedia akibat kendala transportasi.

"Pelajar, mahasiswa, pekerja, sanak saudara hingga wisatawan dilarang untuk datang sementara waktu karena COVID-19," ujar Pun seorang lelaki paruh baya sembari mengingat kejadian lampau.

Menurut Pun, warga pulau yang telah mendapatkan informasi mengenai resiko COVID-19 dan pentingnya penerapan protokol kesehatan dari tenaga kesehatan pulau, menumbuhkan inisiatif warga untuk menghubungi sanak keluarga yang dalam perantauan untuk menunda pulang kembali ke Pulau Pisang.

Dengan adanya kesadaran tersebut arus mudik masyarakat perantau kembali ke Pulau Pisang dapat di minimalisir.

"Kita semua sudah menghubungi sanak saudara agar tidak kembali ke pulau karena COVID-19, kalau ada yang pulang kami minta untuk di rumah saja kasihan andung (nenek) dan datuk (kakek), sudah tua nanti sakit," ujarnya.

Menurut Pun, semua masyarakat desa sadar menggunakan masker, dan sudah menyediakan tempat cuci tangan di rumah masing-masing, dan tidak lagi risau karena COVID-19, sebab ada tenaga kesehatan serta relawan kesehatan yang siap mengedukasi dan membantu.

"Tian helau (mereka baik) hatinya, jadi kami tidak risau lagi dengan COVID-19," katanya sembari bercengkrama di atas jukung.

Hal senada juga dikatakan salah seorang bidan desa, Gita.

Menurut bidan desa berperawakan tinggi dan ramping ini, masyarakat desa banyak yang patuh menaati aturan yang disampaikan pemerintah, hingga sempat melakukan penolakan bagi wisatawan yang nekat berwisata ke pulau tanpa masker dan di tengah pemberlakuan aturan "di rumah saja".

"Sempat ada penolakan wisatawan yang nekat berwisata saat penerapan aturan di rumah saja oleh pemerintah dan penutupan objek wisata, wisatawan tersebut langsung dibawa oleh masyarakat ke puskesmas untuk diperiksa dan dicatat, bahkan ada yang diminta dengan sopan untuk kembali ke Krui karena masyarakat desa sangat menjaga keluarga mereka," ujarnya.

Menurut Gita, peran tenaga kesehatan lokal serta relawan kesehatan yang tergabung dalam program Nusantara Sehat milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sangatlah membantu memupuk rasa aman masyarakat akibat adanya pandemi COVID-19.*

Baca juga: Ketenaran Egy Maulana belum sampai Pulau Pisang

Oleh Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Paskibraka 2020 berlatih dengan protokol kesehatan yang ketat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar