Survei TNP2K: Mayoritas peserta nilai Kartu Prakerja tidak mubazir

Survei TNP2K: Mayoritas peserta nilai Kartu Prakerja tidak mubazir

Tangakapan layar Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari dalam webinar Keluarga Alumni universitas Gadjah Mada (Kagama) di Jakarta, Sabtu (11/7/2020). ANTARA/Dewa Wiguna

Hasil survei juga mengungkapkan bahwa 92 persen peserta mengatakan program ini efektif
Jakarta (ANTARA) - Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja menyebutkan hasil survei Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) pada Juni 2020 yang mengungkapkan sebanyak 96 persen peserta menilai program Kartu Prakerja tidak mubazir.

"Ini bukan survei yang bayar ke pekerjaan, ini (survei) yang tidak ada insentif," kata Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari dalam webinar Keluarga Alumni universitas Gadjah Mada (Kagama) di Jakarta, Sabtu.

Baca juga: Presiden Jokowi terbitkan perpres Kartu Prakerja baru

Dia menjelaskan survei itu dilakukan TNP2K atas permintaan Manajemen Pelaksana Program untuk mengetahui respons peserta sebelum hasil survei berbayar menggunakan insentif yang akan dikeluarkan pekan depan.

Denni mengungkapkan survei itu dilakukan daring kepada para penerima manfaat melalui 6.000 surat elektronik milik peserta yang dinilai mewakili seluruh peserta.

Hingga saat ini, jumlah peserta program itu dari gelombang satu hingga tiga mencapai 680 ribu orang.

Selain mayoritas menyebut program Kartu Prakerja tidak mubazir, hasil survei juga mengungkapkan bahwa 92 persen peserta mengatakan program ini efektif, 94 persen mengatakan pelatihan yang diberikan beragam, serta infrastruktur dan fasilitas pendukung memuaskan.

Denni juga mengungkapkan sebanyak 99 persen peserta membaca silabus, 74 persen peserta membandingkan antar-wadah digital lain dan pelatihan yang tersedia gratis.

Kemudian, sebanyak 97 persen peserta setuju semi bansos karena COVID-19 dan 76 persen peserta mai belajar atau berlatih lagi setelah mengikuti program ini.

Dari 680 ribu peserta, lanjut dia, sebanyak 58 persen pekerja yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK), 35 persen pencari kerja, 6 persen pekerja yang masih bekerja untuk meningkatkan kompetensi dan 1 persen pelaku UKM terdampak.

"Dari jumlah itu, sebanyak 143 ribu adalah usulan dari Kementerian Ketenagakerjaan dan BPJS Ketenagakerjaan," katanya.

Sementara itu, terkait pelaksanaan gelombang keempat, Denni mengungkapkan selaku pelaksana pihaknya masih menunggu arahan dari pemerintah selaku pemilik kebijakan.

Hingga saat ini mitra digital Kartu Prakerja ada delapan yakni Sisnaker dari Kementerian Ketenagakerjaan, Pijar Mahir, Tokopedia, Mau Belajar Apa, Sekolah.mu, Bukalapak, Pintaria dan Skill Academy by Ruang Guru.

Sejak dibuka 11 April 2020, program ini sudah diakses 11,3 juta pendaftar dari 513 kabupaten/kota di Tanah Air dengan total 166 lembaga pelatihan yang menyediakan 2.700 pelatihan daring.

Untuk besaran insentif, setiap peserta mendapatkan dana sebesar Rp3,55 juta dengan rincian Rp1 juta untuk biaya pelatihan, Rp2,4 juta insentif masing-masing Rp600.000 selama empat bulan yang dibayarkan setelah peserta menyelesaikan pelatihan, dan Rp150.000 insentif mengisi survei terkait pelatihan yang dijalani.

Saat ini, pelatihan luring atau langsung bertatap muka belum dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Baca juga: Sri Mulyani: Anggaran perlindungan sosial terealisasi Rp72,5 triliun
Baca juga: Perbaikan tata kelola Kartu Prakerja libatkan semua pihak


Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pihak Kartu Prakerja bahas manfaat program hingga tanggapi kritikan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar