Harga minyak jatuh, dipicu lonjakan COVID-19 dan ketegangan AS-China

Harga minyak jatuh, dipicu lonjakan COVID-19 dan ketegangan AS-China

Ilustrasi: Anjungan minyak lepas pantai di Huntington Beach, California, Amerika Serikat. (ANTARA/REUTERS/Lucy Nicholson)

Berita California menempatkan pertanyaan pemulihan permintaan kembali di atas meja
New York (ANTARA) - Harga minyak tergelincir sekitar satu persen di akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), setelah kasus Virus Corona (COVID-19) global naik pada rekor jumlah harian, mengipasi kekhawatiran akan penguncian kembali oleh pemerintah serta meningkatnya ketegangan AS dan Eropa dengan China.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September turun 52 sen atau 1,2 persen, menjadi ditutup pada 42,72 dolar AS per barel. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus kehilangan 45 sen atau 1,1 persen, menjadi menetap di 40,10 dolar AS per barel,

Harga minyak bergerak lebih rendah lagi dalam perdagangan pasca-penyelesaian ketika Gubernur California pada Senin (13/7/2020) menerapkan pembatasan baru pada bisnis saat kasus Virus Corona dan rawat inap di negara bagian tersebut melonjak.

Baca juga: Harga emas "rebound" 12,2 dolar AS, dipicu melonjaknya kasus Corona

"Berita California menempatkan pertanyaan pemulihan permintaan kembali di atas meja," kata Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn, di Chicago. Ekuitas dan kelas aset lainnya juga bergerak lebih rendah setelah penutupan California diumumkan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 230.000 kasus baru Virus Corona pada Minggu (12/7/2020) rekor satu hari. Sebagian besar peningkat itu terjadi di Belahan Bumi Barat, khususnya Amerika Serikat dan Amerika Latin.

Di Amerika Serikat, infeksi melonjak selama akhir pekan ketika Florida melaporkan peningkatan lebih dari 15.000 kasus baru dalam 24 jam, rekor untuk negara bagian mana pun. Banyak negara bagian telah melonggarkan pembatasan operasi bisnis dan sekarang membutuhkan masker untuk memperlambat penyebaran virus, yang telah menewaskan hampir 140.000 orang di Amerika Serikat.

Baca juga: IHSG Senin ditutup melambung, ditopang naiknya bursa Asia

Pasar juga tetap gelisah karena pertikaian AS dan Eropa dengan China meningkat. Uni Eropa mengatakan sedang mempersiapkan langkah-langkah balasan terhadap China dalam menanggapi undang-undang keamanan baru Beijing di Hong Kong.

China mengumumkan sanksi terhadap Amerika Serikat pada Senin (13/7/2020) setelah Washington menghukum pejabat-pejabat senior China atas perlakuan terhadap Muslim Uighur.

Suatu komite pengawasan dari Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan bertemu pada Selasa dan Rabu dan diharapkan akan merekomendasikan level untuk pengurangan pasokan di waktu mendatang.

Baca juga: OPEC+ pangkas produksi, ICP Juni naik 11,01 dolar per barel

OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, diperkirakan akan mengurangi pemangkasan produksi menjadi 7,7 juta barel per hari, turun dari rekor pemotongan 9,7 juta barel per hari untuk Mei hingga Juni, karena permintaan minyak global telah pulih.

"Itu tampaknya pilihan yang cukup berisiko, dengan perpanjangan yang lebih aman satu bulan," kata Analis Senior Pasar OANDA, Edward Moya, di New York.

Baca juga: Saham Spanyol menguat tajam, Indeks IBEX 35 ditutup naik 105,80 poin

Baca juga: Saham Inggris melonjak lagi, Indeks FTSE 100 ditutup naik 1,33 persen

Baca juga: Saham Jerman kembali melambung, Indeks DAX 30 naik 1,32 persen

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

KPBB menilai harga BBM terlalu mahal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar