BMKG indikasi potensi kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah

BMKG indikasi potensi kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah

Kawasan persawahan Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur mengalami kekeringan sebagai dampak musim kemarau, Senin (22//6/2020). ANTARA/Benny Jahang

berkurangnya pasokan air pada lahan pertanian
Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengindikasi potensi kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Indonesia hingga dua dasarian ke depan dengan status waspada hingga awas.

"Jadi kalau dia tidak ada hujan sama sekali terus panas dan terik, sehingga dapat dimungkinkan ada potensi kekeringan atau potensi titik panas tadi. Setiap daerah berbeda," kata Kabid Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Hary T Djatmiko melalui sambungan telepon dengan ANTARA Jakarta, Rabu.

Berdasarkan hasil monitoring kejadian hari kering berturut-turut dan prediksi probabilistik curah hujan dasarian atau setiap 10 hari, terdapat indikasi potensi kekeringan meteorologis hingga dua dasarian ke depan dengan status waspada hingga awas.

Baca juga: BMKG: Titik panas di NTT-Lampung bukan karena karhutla
Baca juga: BMKG prediksi tahun ini Bogor hadapi kemarau basah


Dari hasil monitoring tersebut, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan meteorologis dengan kategori waspada antara lain adalah Kota Denpasar, Bali, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Cirebon di Jawa Barat, Kabupaten Demak dan Karanganyar di Jawa Tengah, dan Kabupaten Blitar, Gresik, Jember, Lumajang, Mojokerto, Ponorogo, Probolinggo dan Kota Surabaya di Jawa Timur.

Berikutnya, daerah lain yang potensi kekeringan meteorologisnya termasuk pada kategori waspada adalah Kabupaten Maluku Barat Daya dan Kepulauan Tanimbar di Maluku, Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Utara di Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Alor, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Sumba Barat, Sumba Tengah, Timor Tengah Utara di Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan meteorologis dengan kategori siaga adalah Kabupaten Buleleng di Provinsi Bali, Kabupaten Bantul, Gunung Kidul, Yogyakarta, Kulonprogo dan Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kabupaten Jepara, Klaten, Purworejo, Sragen, Sukoharjo dan Wonogiri di Jawa Tengah.

Baca juga: BMKG prakirakan Jateng selatan alami kemarau basah
Baca juga: Dishut Sumsel siaga satu karhutla


Selanjutnya, Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Lamongan, Madiun, Magetan, Malang, Nganjuk, Ngawi, Pamekasan, Pasuruan, Sampang, Sidoarjo, Situbondo di Jawa Timur, Kabupaten Dompu, Bima, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, Kota Bima, Mataram di Nusa Tenggara Barat, dan Kabupaten Belu, Ende, Dlores Timurz Kupang, Lembata, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sikka, Sumba Barat Daya, Sumba Timur dan Timor Tengah Selatan juga diindikasikan berpotensi mengalami kekeringan meteorologis dengan kategori siaga.

Kemudian, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan meteorologis dengan kategori awas adalah Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kota Kupang.

Mengingat potensi kekeringan meteorologis dengan kategori yang bahkan sudah mencapai awas di daerah tertentu, Deputi Klimatologi BMKG Herizal mengimbau masyarakat serta pemerintah daerah setempat yang wilayahnya berada dalam daftar tersebut untuk mengantisipasi dampak kekeringan.

"Terhadap sektor pertanian, yaitu berkurangnya pasokan air pada lahan pertanian. Di samping itu, pada sektor lingkungan, yaitu meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan dan berkurangnya sumber air untuk kebutuhan rumah tangga," katanya.

Baca juga: Pemerintah diminta antisipasi dampak kemarau terhadap sektor pertanian
Baca juga: Warga Tanjungpinang diimbau manfaatkan pekarangan rumah hadapi kemarau

Pewarta: Katriana
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komisi V DPR sepakati rencana anggaran 6 kementerian/lembaga

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar