Studi: Hydroxychloroquine tidak efektif untuk COVID-19 gejala ringan

Studi: Hydroxychloroquine tidak efektif untuk COVID-19 gejala ringan

Petugas kesehatan di komunitas tepi sungai Santo Ezequiel Moreno, Pulau Marajo di Negara Bagian Para, Brazil (5/6/2020), memegang paket hydroxychloroquine sulfate yang dibagikan oleh beberapa dokter kepada orang-orang yang dinyatakan positif COVID-19, sebagai bagian dari paket pengobatan untuk perawatan. ANTARA/REUTERS/Ueslei Marcelino/aa.

New York (ANTARA) - Obat antimalaria hydroxychloroquine, yang dipuji oleh Presiden AS Donald Trump sebagai pengobatan COVID-19, tidak efektif untuk pasien dengan gejala ringan, menurut sebuah penelitian.

Menurut studi yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Minnesota, sekitar 24 persen dari pasien yang diberi hydroxychloroquine dalam penelitian itu memiliki gejala yang bertahan selama 14 hari, sementara sekitar 30 persen dari kelompok yang diberi pil plasebo (obat kosong) memiliki gejala terus-menerus selama periode yang sama.

Perbedaannya tidak signifikan secara statistik, kata para peneliti.

"Hydroxychloroquine tidak secara substansial mengurangi keparahan gejala atau prevalensi dari waktu ke waktu pada orang yang tidak dirawat di rumah sakit dengan COVID-19," para peneliti menulis dalam sebuah artikel, yang akan diterbitkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine, Kamis (16/7)..

Studi acak plasebo yang terkontrol dilakukan pada 491 pasien yang tidak dirawat di rumah sakit. Karena kekurangan tes di Amerika Serikat, hanya 58 persen dari peserta yang diuji untuk COVID-19.

Meskipun hasil itu bukan titik akhir penelitian, lima orang yang diberi hydroxychloroquine dirawat di rumah sakit atau meninggal karena COVID-19, dibandingkan dengan delapan orang yang diberi pil plasebo.

Studi ini "memberikan bukti kuat bahwa hydroxychloroquine tidak memberikan manfaat pada pasien dengan gejala COVID-19 ringan," kata Dr. Neil Schluger dari New York Medical College dalam komentar pada studi tersebut, yang juga dijadwalkan akan diterbitkan pada Kamis.

Dukungan dari Trump meningkatkan harapan bagi penggunaan obat antimalaria, yang sudah berusia puluhan tahun.

Pada Maret, Trump mengatakan hydroxychloroquine yang digunakan dalam kombinasi dengan antibiotik azithromycin memiliki "peluang nyata untuk menjadi salah satu penemuan terbesar dalam sejarah kedokteran", namun ia tidak terlalu banyak memberikan  untuk mendukung pernyataannya itu.

Trump kemudian mengatakan dia meminum obat tersebut sebagai tindakan pencegahan setelah dua orang yang bekerja di Gedung Putih didiagnosis mengidap COVID-19.

Tetapi, beberapa penelitian terkontrol plasebo menunjukkan obat itu tidak efektif untuk mengobati atau mencegah COVID-19.

"Ada semakin banyak data yang terakumulasi bahwa hydroxychloroquine, tidak benar-benar memiliki efek apa pun," kata Dr. David Boulware, peneliti senior uji coba di Universitas Minnesota.

"Kebanyakan orang yang sadar sudah tidak menggunakan hydroxychloroquine untuk pengobatan dan mereka menggunakan terapi lain," kata dia.

Baca juga: Trump masih anggap hydroxychloroquine menjanjikan untuk COVID-19

Baca juga: Jerman hentikan riset hydroxychloroquine untuk COVID-19

Baca juga: EMA ingatkan efek samping obat malaria untuk pasien COVID-19


 

WHO hentikan obat malaria dalam uji coba COVID-19

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar