Banjir di India dan Nepal telan sedikitnya 189 korban jiwa

Banjir di India dan Nepal telan sedikitnya 189 korban jiwa

Penduduk desa mengayuh rakit darurat melewati banjir untuk mencapai tempat yang lebih aman di desa Mayong yang terkena banjir di distrik Morigaon, di negara bagian timur laut Assam, India, 29 Juni 2020. ANTARA FOTO/REUTERS / Anuwar Hazarika T​​​​​​​/aww.

Kami telah mendesak warga untuk tetap waspada terhadap kemungkinan tanah longsor dan banjir,
Guwahati/Kathmandu (ANTARA) - Banjir besar akibat hujan monsun menelan sedikitnya 189 korban jiwa dan memaksa hampir empat juta orang di Negara Bagian Assam, India dan Nepal untuk mengungsi.

"Situasi banjir tetap kritis dengan sebagian besar sungai mengalir mengancam di atas tanda bahaya," kata Menteri Sumber Daya Air Assam Keshab Mahanta kepada Reuters, Minggu.

Sungai Brahmaputra yang meluap, yang mengalir melalui Tibet, India, dan Bangladesh, telah merusak tanaman dan memicu tanah longsor, yang menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal, kata para pejabat.

Lebih dari 2,75 juta orang di Assam telah mengungsi akibat tiga gelombang banjir sejak akhir Mei yang telah merenggut 79 nyawa setelah dua kematian lagi dilaporkan dalam semalam, kata seorang pejabat pemerintah negara bagian tersebut.

Assam menghadapi dua tantangan memerangi banjir dan pandemi virus corona. Dari 33 kabupaten, 25 di antaranya tetap terdampak setelah gelombang banjir saat ini, sejak dua minggu lalu.

Baca juga: Korban jiwa akibat banjir di India jadi 95, ratusan ribu diungsikan
Baca juga: Hujan lebat sebabkan banjir, pengungsian di India Selatan


India sedang bergulat dengan virus corona baru, yang telah menginfeksi hampir 1,1 juta orang dan 26.816 meninggal karena penyakit COVID-19, berdasarkan data pemerintah pada Minggu.

Di tetangganya Nepal, pemerintah meminta penduduk di sepanjang dataran selatan untuk tetap waspada karena hujan lebat diperkirakan akan menghantam negara Himalaya itu di mana lebih dari 100 orang tewas dalam banjir dan tanah longsor sejak Juni, kata para pejabat.

Sekitar 110 orang tewas dan 100 lainnya luka-luka ketika tanah longsor dan banjir bandang menghanyutkan atau menyapu rumah-rumah, menjungkirbalikkan jalan, dan jembatan serta mengharuskan ratusan orang lainnya di 26 dari 77 distrik mengungsi, kata polisi.

Pejabat kementerian dalam negeri Murari Wasti mengatakan jumlah kematian diperkirakan akan meningkat karena 48 orang masih hilang.

"Tim pencarian dan penyelamatan mencari orang-orang yang hilang di tempat berbeda tetapi peluang untuk menemukan mereka dalam keadaan hidup tipis," kata Wasti kepada Reuters.

Barun Paudel dari kantor prakiraan cuaca di Ibu Kota Kathmandu mengatakan hujan lebat diperkirakan akan menghantam sebagian besar negara pegunungan itu dalam empat hari ke depan.

"Kami telah mendesak warga untuk tetap waspada terhadap kemungkinan tanah longsor dan banjir," katanya.

Tanah longsor dan banjir bandang biasa terjadi di Nepal, negara bagian Assam dan Bihar di India selama musim hujan tahunan Juni-September.

Sumber: Reuters

Baca juga: Banjir di India utara tewaskan 113 orang
Baca juga: Banjir tewaskan 98 orang, ribuan mengungsi di seluruh India

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

BPPD Kalteng tekankan pentingnya informasi kebencanaan bagi masyarakat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar