Pakar UB: Produksi pertanian lebih efisien gunakan energi matahari

Pakar UB: Produksi pertanian lebih efisien gunakan energi matahari

Ahli Ekologi Tanaman Universitas Brawijaya (UB) Malang Prof Agus Suryanto. (ANTARA/Endang Sukarelawati)

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Guru Besar Bidang Ilmu Ekologi Tanaman Universitas Brawijaya (UB) Malang Prof Agus Suryanto menilai produksi hasil pertanian, khususnya tanaman pangan akan lebih efisien  dengan menggunakan energi matahari daripada pupuk kimia.

Agus Suryanto di Malang, Selasa, mempertanyakan apakah pola tanam dalam budi daya pertanian yang diterapkan selama ini sudah tepat, efisien, dan produktif, terutama dalam mengonversi energi matahari menjadi biomas, khususnya pada tanaman pangan.

"Indonesia sebagai negara agraris, kaya akan cahaya matahari. Produksi tanaman pertanian sudah semestinya tidak semata-mata mengandalkan input sarana produksi buatan, seperti pupuk kimia. Seharusnya lebih memanfaatkan cahaya matahari yang berlimpah ini, bahkan lebih efektif untuk meningkatkan produktivitasnya," katanya.

Produktivitas tanaman pertanian sangat dipengaruhi oleh kemampuan tanaman dalam mengonversi energi matahari menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Hanya saja, konversi energi matahari menjadi energi kimia, efisiensinya sangat rendah, yaitu hanya sekitar 2 persen.

Baca juga: Universitas Brawijaya masuk peringkat 300 besar dunia versi QS World

Baca juga: Mahasiswa Universitas Brawijaya sulap limbah biomassa jadi kertas


Nilai Efisiensi Konversi Energi (EKE) yang rendah ini disebabkan oleh berbagai hal, antara lain pemantulan dan penerusan energi matahari yang jatuh pada tajuk tanaman, penggunaan sebagian energi matahari untuk transpirasi dan pembongkaran kembali hasil fotosintesis dalam proses respirasi, dan sistem budi daya tanaman yang kurang tepat yang mengakibatkan energi matahari tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Agus mengemukakan dalam penelitian yang dilakukan Chandrasekaran et al., (2010) disebutkan bahwa sistem budi daya yang kurang tepat, antara lain penggunaan jarak tanam yang terlalu lebar atau terlalu sempit, saat tanam tanpa memperhatikan fase pertumbuhan yang peka terhadap intensitas radiasi matahari dan penggunaan varietas yang tidak respons dengan intensitas radiasi matahari.

Sementara hasil penelitian Agus Suryanto menunjukkan perbaikan lingkungan tanaman dengan penataan pola tanam, dalam hal ini mengatur waktu tanam, pemilihan varietas berdaun tegak, tata letak tanaman dalam baris ganda pada tanaman padi, pemberian mulsa dan penggunaan tata letak baris ganda pada tanaman jagung, penambahan populasi dan penanaman secara tumpang sari pada tanaman kentang, mampu meningkatkan EKE antara 1-3 persen, tergantung perlakuan dan jenis tanaman.

Peningkatan EKE ini diikuti pula dengan peningkatan produksi tanaman hingga 50 persen. Pengaturan pola tanam yang memadukan sifat fisiologis tanaman dalam sistem produksi pertanian dan lingkungan tanaman, khususnya intensitas radiasi matahari yang berlimpah, akan memperoleh nilai EKE matahari yang optimal, yang diikuti dengan peningkatan produksi tanaman budi daya.

"Pemanfaatan energi matahari untuk peningkatan produksi tanaman budi daya akan menjadikan produksi tanaman pertanian efisien, berlanjut (sustainable), aman dan sehat, serta ramah terhadap lingkungan pertanian," kata Agus yang juga Wakil I Bidang Akademik UB Kediri.

Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Makna & pesan di balik Malang Menari

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar