Adaptasi kebiasaan baru, atur "screen time" dan jaga anak tetap aktif

Adaptasi kebiasaan baru, atur "screen time" dan jaga anak tetap aktif

Seorang siswa memperhatikan gambar permainan Gobak Sodor/Galasin saat berkegiatan sehari tanpa gadget yang diikuti 300 siswa TK di lapangan Wali Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (2/2/2019). ANTARA FOTO/Kahfie Kamaru/foc/aa.

Jakarta (ANTARA) - Hari Anak Nasional (HAN) tahun ini diperingati dengan suasana berbeda seiring adaptasi kebiasaan baru selama pandemi COVID- 19 di Indonesia yang juga dirasakan akibatnya oleh anak-anak.

Anak-anak menjadi kurang kesempatan untuk bermain dan belajar secara bebas, kurang dapat bersosialisasi bersama teman-temannya. Di sisi lain, mereka menerima beban aktivitas sekolah dari rumah secara daring sehingga lebih banyak memainkan gawai.

Dokter spesialis anak RSUI, Annisa Rahmania Yulman mengingatkan orang tua tetap harus membatasi screen time anak dan membuat mereka tetap aktif selama masa adaptasi dan pandemi ini.

"Penggunaan gadget harus bijak walaupun sekolah pun juga menggunakan gadget. Orang tua harus mempunyai dalih dan strategi untuk mengatur screen time anak” kata dia dalam siaran pers RSUI, ditulis Kamis.

Dia mengatakan, waktu maksimal paparan layar untuk anak 0-1 tahun nol artinya tidak boleh ada screen time pada anak di usia itu. Sedangkan untuk anak di atas usia 1-2 tahun, orang dewasa harus selalu mendampingi anak-anak dalam memanfaatkan gawainya.

Baca juga: Kiat bagi orang tua buat anak betah belajar saat #dirumahaja

Baca juga: Psikolog: Temu kenali potensi anak di tengah pandemi COVID-19


Orang tua juga harus memahami beberapa tanda-tanda anak yang adiksi gawai seperti anak sulit konsentrasi, mudah tantrum, dan sejenisnya.

Annisa mengatakan, walaupun anak di rumah saja, mereka juga tetap harus aktif bergerak untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan mereka berlangsung dengan optimal.

"Sedentary lifestyle harus dihindari, harus istirahat cukup dan walaupun di rumah aja," kata dia.

Dalam sehari, anak usia 0-1 tahun dianjurkan melakukan minimal selama 30 menit aktivitas fisik dan 180 menit anak umur 1-4 tahun. Tentunya, intensitas beratnya aktivitas untuk anak usia 1-2 tahun dan 3-4 tahun berbeda.

Mila Sri Wardani dari bagian pediatrik RSUI mengatakan, pergerakan anak mencakup motorik kasar dan motorik halus tetap harus terpenuhi selama masa pandemi dan adaptasi kebiasaan baru saat ini.

Orang tua perlu menciptakan permainan yang menyenangkan dan mempertimbangkan pergerakan motoriknya serta memperhatikan protokol kesehatan selama bermain bersama anak.

Menurut dia, anak-anak yang masa pandemi banyak kehilangan waktu bermain di luar rumah, perlu dibantu untuk bermain di dalam rumah. Orang dewasa perlu meningkatkan kreativitasnya sehingga walaupun anak terpaksa bermain dalam rumah, tidak mengalami kebosanan.

Kepala Seksi Rawat Inap RSUI Nur Akbar mengingatkan, selain kesehatan, keceriaan anak juga harus dipertahankan dengan memainkan permainan yang menyenangkan salah satunya dengan terlibat dalam imajinasi anak selama permainan, memainkan permainan bersama anak dengan memperhatikan umur, serta menjaga anak tetap aktif.

Baca juga: Batasi "screen time" pada anak bisa tingkatkan ingatan hingga keterampilan bahasa

Baca juga: Kunci keberhasilan proses belajar di rumah bagi anak

Baca juga: Bolehkah anak usia empat bulan dilatih berdiri?

 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Harapan anak Indonesia di Hari Anak Nasional 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar