Kementerian ESDM: Pemakaian EBT tingkatkan indeks kebahagiaan

Kementerian ESDM: Pemakaian EBT tingkatkan indeks kebahagiaan

Salah satu pembangkit listrik bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT) dengan memanfaatkan tenaga surya di Nusa Tenggara Timur. ANTARA/Dokumentasi PT PLN (Persero)

Kita dorong terus dengan berbagai upaya hingga menerbitkan berbagai regulasi supaya energi terbarukan semakin dimanfaatkan
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Pengembangan SDM Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja mengatakan pemakaian energi baru dan terbarukan (EBT) dapat mendorong kesehatan masyarakat dan meningkatkan indeks kebahagiaan.

Oleh karena itu, Kementerian ESDM terus mendorong konservasi energi dan penggunaan EBT di setiap gedung di Indonesia, karena secara tidak langsung akan membuat masyarakat semakin sehat dan bahagia.

"Kenapa kita mendorong energi terbarukan? Kalau kita lihat negara-negara di dunia yang penduduknya paling bahagia, bauran energi nasionalnya (dari EBT) rata-rata 50 persen, sedangkan Indonesia dari data 2019 baru menggunakan 9,15 persen. Untuk itu, kita dorong terus dengan berbagai upaya hingga menerbitkan berbagai regulasi supaya energi terbarukan semakin dimanfaatkan," katanya dalam informasi tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Litbang ESDM: DME dipilih karena ramah lingkungan

Lebih lanjut, ia menjelaskan dari sekitar 180 negara, Indonesia mendapatkan ranking kebahagiaan nomor ke-84.

"Semoga Indonesia ke depan menjadi negara yang menggunakan energi terbarukan yang lebih alami dan harmonis dengan alam dan tentu penduduknya semakin sehat dan menjadi negara yang penduduknya terbahagia di dunia," imbuh Wiratmaja.

Kemudian ia juga mengingatkan pentingnya sirkulasi udara untuk pencegahan penyebaran COVID-19.

"Sesuai deklarasi WHO (World Health Organization), COVID-19 bisa menular melalui udara. Topik webinar kali ini sangat penting terutama bagi kita yang bekerja di gedung-gedung di kota besar, di mana banyak orang yang bekerja menggunakan sistem tata udara yang terintegrasi," ujar Wiratmaja.

Senada, Core Founder Green Building Council Indonesia John Budi Harjanto Listiyono menilai sistem tata udara dan sirkulasi udara yang bagus di dalam bangunan sangat krusial dalam pencegahan penularan COVID-19.

"Peranan sistem tata udara, memakai masker, dan menjaga jarak ketika bertemu orang lain menjadi faktor krusial dalam mencegah penularan COVID-19, karena virus tersebut juga berpotensi menyebar secara airborne (udara) pada ruang tertutup ber-AC, seperti di rumah tinggal, kendaraan, dan ruangan di bangunan komersial. Jenis-jenis ruangan tersebut memungkinkan terjadinya penularan melalui media udara serta aerosol dan bukan hanya droplet atau percikan ludah, terutama karena adanya udara yang berputar terdorong blower AC. Oleh sebab itu, tatanan udara di dalam bangunan dibuat sirkulasi udara yang bagus," jelasnya.

Sementara, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam menyampaikan bahwa COVID-19 menginfeksi paru-paru manusia, di mana udara dialirkan ke seluruh sel tubuh, hingga bisa menginfeksi organ tubuh lainnya.

Gejala tersering dari seseorang yang telah terinfeksi COVID-19 adalah demam (80 persen) dan batuk (67 persen), gejala lainnya adalah flu, sesak napas, dan gejala tidak khas.

Baca juga: Pemerintah siapkan energi alternatif pengganti elpiji
Baca juga: Sukses program B30, Pemerintah lanjut ke B40


Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

PLTMH Balantieng pelita di desa terpencil Sinjai

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar