Jakarta (ANTARA) - Volvo Cars mencatat kerugian operasional 110 juta dolar AS (Rp1,6 triliun) pada semester pertama 2020, imbas pandemi COVID-19 yang menurunkan daya beli konsumen.

Dilansir Xinhua pada Kamis, Volvo pada semester pertama 2020 menjual 269.962 mobil yang turun jika dibandingkan penjualan 340.826 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: Penjualan Volvo Mei turun 25,5 persen, SUV XC tetap jadi penopang

Baca juga: Mobil listrik Volvo akan pakai teknologi Waymo


Di sisi lain, Volvo mengklaim mendapatkan pertumbuhan penjualan secara bertahap pada kuartal kedua 2020 di pasar China dan Amerika Serikat.

"Penurunan yang kami lihat pada semester pertama bersifat sementara," kata CEO Volvo Cars, Hakan Samuelsson.

"Kami berharap pulih pada paruh kedua tahun ini dan berbagai model mobil listrik akan menempatkan kami pada posisi yang kuat untuk memenuhi tren di masa depan," kata Hakan.

Perusahaan akan memulai produksi mobil Volvo XC40 P8, yang diikuti model-model lainnya dalam beberapa tahun ke depan.

"Kami akan terus fokus dan berinvestasi dalam elektrifikasi, penjualan online, dan konektivitas," kata bos Volvo itu.

Baca juga: Volvo Cars tunda merger dengan Geely hingga musim gugur

Baca juga: Volvo "recall" 2 juta mobil karena masalah sabuk pengaman

Baca juga: Truk hidrogen Daimler dan Volvo bakal dirilis mulai 2025
Pewarta:
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2020