16 film pendek anak Indonesia maju ke panggung dunia

16 film pendek anak Indonesia maju ke panggung dunia

Film pendek "Memargi Antar" (Klungkung), salah satu 16 film terpilih Viu Shorts! Season 2. (ANTARA/Viu Indonesia)

Tidak hanya ditayangkan di Indonesia saja tetapi di pentas dunia.
Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 16 film pendek karya sineas muda Indonesia yang terpilih melalui program "Viu Shorts! Season 2" bersiap diperkenalkan ke panggung dunia.

Plt Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Josua Puji Mulia Simandjuntak mengatakan, ke-16 film pendek terpilih akan tayang di Indonesia dan 15 negara lain yakni Hong Kong, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand dan Myanmar di Asia.

Kemudian, Bahrain, Mesir, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi dan UEA di Timur Tengah; serta Afrika Selatan.

"16 film pendek dari 16 kota/kabupaten sebenarnya melanjutkan kesuksesan Viu Short! Season 1. Ini luar biasa. Tidak hanya ditayangkan di Indonesia saja tetapi di pentas dunia. Tujuh hari ke depan akan dipentaskan di 16 negara itu," kata Josua Puji Mulia Simandjuntak di Jakarta, Kamis.

Ke-16 karya antara lain, "Memargi Antar" (Klungkung), "Kalang Obong" (Kendal), "Penari Larangan" (Majalengka), "Kakaluk Fulan Fehan" (Atambua), "Dawuk" (Cilacap), "Danau Pengantin" (Tangerang), "Bulu Mata" (Jakarta Selatan).

Lalu, "Melaiq" (Mataram), "Ikan Merah" (Magelang), "Kelar Kelor" (Kulon Progo), "Limo Wasto" (Surakarta), "Pohon Pengantin" (Salatiga), "G-Rain" (Batu), "Lae Pandaroh" (Dairi), "Kanak Kembar" (Sangatta) dan "La Love" (Palu).

Sebagian besar film itu mengangkat budaya lokal termasuk kepercayaan dan ritual di sekitar pembuatnya dan keindahan alam. "Kalang Obong" karya sutradara Suryo Seno Bimantoro dari Kendal, Jawa Tengah misalnya.

"Di workshop film ada riset sosial lalu ide cerita. Dari diskusi terpikirlah Kalang Obong untuk mengangkat tradisi yang diakui Kemedikbud di kendal, tradisi upacara kematian, biasanya untuk setahun (setelah kematian seseorang)," kata Suryo dalam "Watch Party" Viu via daring, Kamis.

Menurut dia, tradisi di Suku Kalang ini sempat terhenti dan bahkan terancam punah. Tak semua orang Kendal tahu mengenai tradisi ini.

Masih soal budaya, "Memargi Antar" karya Ni Putu Mulyani dari Klungkung, Bali mengangkat tentang Mepandes yakni upacara potong gigi untuk menghilangkan sifat-sifat sad ripu dalam diri manusia yakni hawa nafsu, serakah, amarah, bermabuk-mabukan, iri hati dan bimbang.

"Melihat hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita dan ketemulah ide film ini. Dengan adilanya film dari Klungkung bisa ditonton orang Bali dan internasional, sehingga menginspirasi teman-teman untuk berkarya dengan budaya lokal sendiri," tutur Mulyani.

Baca juga: Seperti apa produksi dan promosi film di masa normal baru?

Baca juga: Pemerintah luncurkan standar kompetensi kerja bidang perfilman

 
Film pendek "Kalang Obong" (Kendal), salah satu 16 film terpilih Viu Shorts! Season 2. (ANTARA/Viu Indonesia)


Film lainnya, "G-Rain" karya pelajar asal Batu, Jawa Timur yang memperlihatkan keindahan alam pegunungan kota Batu, dan menceritakan budaya unik suku Tengger, yang rutin melakukan ritual khusus untuk mengatur volume dan frekuensi hujan.

Lalu, "Melaiq" karya pelajar dari Mataram, Nusa Tenggara Barat yang mengangkat tradisi khas suku Sasak, menguji keseriusan dan keberanian seorang pria dalam membangun rumah tangga dengan cara menculik wanita yang akan dilamarnya.

Selain itu, ada juga "Kanak Kembar", film pendek dari Kota Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan timur. Film ini mengangkat kepercayaan suku Dayak Kenyah, bahwa setiap anak yang lahir memiliki kembaran seekor buaya.

Film-film pendek Viu Shorts! Season 2 dapat dinikmati di aplikasi Viu yang dapat diunduh di App Store, Google Play, dan smart TV tertentu, serta www.viu.com.

Baca juga: Empat film ini tonjolkan keindahan alam dan budaya Indonesia

Baca juga: Tissa Biani jadi Duta Festival Film Indonesia 2020


Tayang di 16 negara

Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Josua Puji Mulia Simandjuntak mengatakan, ke-16 film pendek terpilih diharapkan dapat mengikuti jejak kesuksesan film-film pendek Viu Shorts! Season 1 yang mencatat sejumlah prestasi, salah satunya diputar di ajang Cannes Film Festival 2019.

Tahun lalu, film pendek "Miu Mai" karya pelajar asal kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur meraih kemenangan dalam kategori Best Short Form Content pada ajang Asian Academy Creative Awards 2019.

Kemudian, seperti tahun lalu, selain ditayangkan di 16 negara, nantinya pihak Viu juga akan mengajak sineas muda terpilih mengikuti workshop sinematografi selama lima hari.

"Nanti akan ada mentor yang mengawasi proses workshop, akan pilih satu siswa terbaik yang menerima beasiswa untuk belajar di Institut Kesenian Jakarta hingga lulus dan kesempatan magang," kata Josua.

Dia menuturkan, siswa terbaik juga bisa terlibat dalam tim Viu Original dengan sineas ternama.

Kemudian mengenai program Viu Short!, Josua berharap Indonesia bisa memiliki film-film pendek juga film panjang yang bisa menjadi kebanggaan bangsa.

"Kemenparekaf terus berusaha memasarkan film Indonesia ke pasar dunia. Dulu di Cannes Film Festival, kita ingin fim Indonesia mendunia, sekarang sudah ada upayanya. Kami akan terus mendukung, dengan Viu. Ke depan pintu akan terbuka, masih ada program yang bisa mengakomodir karir teman-teman," papar Josua.

Baca juga: Lima serial drama Korea terbaru di Viu

Baca juga: Enam film Indonesia yang siap tayang di Viu

Baca juga: "The Bridge" musim kedua tampilkan Ario Bayu hingga Lukman Sardi

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kemlu wujudkan Indonesia Inklusif melalui kompetisi film pendek

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar