Warga waspadai peningkatan aktivitas gempa di Sesar Matano Luwu Timur

Warga waspadai peningkatan aktivitas gempa di Sesar Matano Luwu Timur

Peta sebaran gempa di Luwu Timur (ANTARA/HO.BMKG)

Upaya mitigasi perlu dilakukan sehingga jika suatu saat terjadi gempa, masyarakat perlu memahami cara selamat saat terjadi gempa, jika terjadi guncangan kuat agar segera mencari perlindungan
Jakarta (ANTARA) - Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terkait dengan aktivitas gempa bumi di Sesar Matano, Sorowako di Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami peningkatan selama dua hari terakhir.

"Dengan meningkatnya aktivitas gempa di Segmen Matano dan Pamsoa terkini, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Gempa kuat dapat terjadi kapan saja dan belum dapat diprediksi secara akurat kapan terjadinya," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono di Jakarta, Jumat.

Sejak Rabu (22/7), pukul 23.21 WIB hingga Kamis (23/7), pukul 22.56 WIB hasil monitoring BMKG menunjukkan sudah terjadi aktivitas gempa 13 kali di Sorowako dan sekitarnya.

Dari seluruh gempa yang terjadi, tiga gempa di antaranya guncangannya dirasakan masyarakat, yaitu di Sorowako, Nuha, dan Malili. Ketiga gempa signifikan tersebut masing-masing terjadi pada Rabu (22/7), pukul 23.21 WIB berkekuatan M 3,6 dan Kamis (23/7), pukul 8.12 WIB berkekuatan M 2,9 dan pukul 22.03 WIB berkekuatan M 4,1.

Ketiga gempa tersebut dirasakan di Sorowako dalam skala intensitas Malili II MMI, di Soroako II-III MMI dan di Nuha III MMI. Aktivitas gempa yang terjadi tidak menimbulkan kerusakan.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya tampak bahwa rentetan aktivitas gempa itu berasosiasi dengan meningkatnya aktivitas Sesar Aktif Matano, khususnya Segmen Matano dan Pamsoa.

Hal itu didasarkan fakta bahwa seismisitas yang terjadi membentuk klaster pusat gempa di Danau Matano dan sekitarnya.

Baca juga: Gempa 5,0 SR guncang Luwu Timur

Segmen Matano dan Pamsoa adalah Segmen Sesar Aktif Matano dengan mekanisme pergerakan mendatar mengiri (sinistral strike-slip) dengan magnitudo tertarget M 6,8 (Matano) dan 6,9 (Pamsoa) dengan laju pergeseran sesar tujuh milimeter per tahun.

BMKG mencatat bahwa gempa Sorowako paling kuat terakhir terjadi pada 15 Februari 2011 dengan kekuatan mencapai M 6,1. Gempa berpusat di Segmen Pamsoa tepatnya sebelah timur laut Danau Matano dengan kedalaman hiposenter dangkal 14,7 kilometer.

Dampak gempa sembilan tahun lalu itu guncangannya mencapai skala intensitas V-VI MMI hingga menyebabkan beberapa rumah mengalami kerusakan ringan di Sorowako dan sekitarnya.

"Upaya mitigasi perlu dilakukan sehingga jika suatu saat terjadi gempa, masyarakat perlu memahami cara selamat saat terjadi gempa, jika terjadi guncangan kuat agar segera mencari perlindungan," kata Daryono.

Selain itu, masyarakat perlu menyiapkan bangunan tahan gempa, karena sesungguhnya peristiwa gempa tidak membunuh dan melukai, tetapi bangunan tembok dengan struktur lemah yang roboh saat gempa itulah penyebab jatuhnya korban.

Baca juga: Gempa bumi 4,8 sr guncang Luwu Timur
Baca juga: Gempa 4,2 SR guncang Luwu Timur

 

Pewarta: Desi Purnamawati
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Ancaman Megathrust, pembelajaran agar masyarakat bermitigasi lebih awal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar