Perempuan penganyam purun berperan kembangkan desa gambut Pulantani

Perempuan penganyam purun berperan kembangkan desa gambut Pulantani

Tangkapan layar foto kegiatan pelatihan pemberdayaan masyarakat Desa Peduli Gambut untuk memanfaatkan purun sebagai kerajinan tangan dalam diskusi virtual oleh Kemitraan yang dipantau dari Jakarta pada Jumat (24/7/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)

Membuat kerajinan dari purun itu adalah tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi oleh masyarakat di desa itu.
Jakarta (ANTARA) - Kaum perempuan di Desa Pulantani, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, memiliki peran besar dalam upaya pemberdayaan masyarakat di desa gambut dengan berkarya menjadi pengrajin rumput purun.

Membuat kerajinan dari purun itu adalah tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi oleh masyarakat di desa itu dan masih diteruskan hingga saat ini, kata Fasilitator Desa Peduli Gambut Iwan Hermawan yang mendampingi para pengrajin di Desa Pulantani, Jumat.

"Jadi saya tanya kenapa tidak di rumah saja menunggu suami bekerja, mereka jawab sayang karena dulu ibunya mengajari ini, sayang kalau hilang, berarti itu kearifan lokal," kata Iwan dalam diskusi virtual yang diadakan Kemitraan Indonesia yang dipantau dari Jakarta.

Purun bukan tanaman yang asing di lahan gambut karena vegetasi itu banyak tumbuh liar di dekatr air atau rawa gambut. Desa Pulantani sendiri menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program Desa Peduli Gambut oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) dengan luas 1.622 hektare (ha) yang sekitar 1.449 ha adalah lahan gambut.

Dari 617 warga di desa itu, 311 adalah perempuan dengan sekitar 60 persen dari mereka bekerja sebagai penganyam purun yang kebanyakan bekerja di rumah, sementara kaum laki-laki di Pulantani bekerja sebagai nelayan dan/atau petani ladang.

Karya yang mereka buat awalnya adalah tikar dan bakul purun yang dijual lewat penadah. Tapi keuntungan yang mereka dapat tidaklah besar, dengan modal Rp9.000 untuk dua ikat purun yang dianyaman menjadi dua lembar tikar para ibu itu mendapatkan Rp11.000 atau hanya untung Rp2.000 untuk tiap dua tikar.

Padahal, proses pembuatannya tidaklah mudah karena menghabiskan lima hari untuk mengeringkan, menumbuk dan menganyam purun-purun tersebut.

Tapi pendampingan dari BRG dan Kemitraan kini ikut berkontribusi dengan kemajuan desa tersebut dengan membentuk kelompok pengrajin yang beranggotakan perempuan-perempuan di Desa Pulantani.

Pelatihan pun diberikan dengan asistensi dari Iwan dan kini produk karya perempuan Desa Pulantani tidak hanya tikar dan bakul tapi juga dalam bentuk tas, besek, kotak pensil dan kerajinan lain.

Kini Kelompok Usaha Bersama Kerajinan Purun Berkat Ilahi itu telah memiliki 50 anggota yang sudah menerima pesanan dari berbagai pihak, bahkan berhasil mengajak desa-desa di sekitarnya untuk lebih intensif membuat karya dari purun.

"Saya tidak melepaskan orang-orang yang tidak ikut di kelompok, karena tujuan kita adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan, taraf hidup dan pendapatan dari warga desa, perempuan desa," tegas Iwan.
 

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar