MTCC: Produksi tembakau belum seimbang dengan kesejahteraan petani

MTCC: Produksi tembakau belum seimbang dengan kesejahteraan petani

Peneliti dari Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTTC) Universitas Muhammadiyah Magelang Heni Setyowati (kanan) menyampaikan paparan hasil penelitian petani tembakau di Jawa Tengah. ANTARA/Heru Suyitno

Secara umum melihat produksi tembakau Indonesia tentunya harus seimbang dengan kesejahteraan petani tembakau yang ada. Namun, fakta menunjukkan hal yang berbanding terbalik dengan pencapaian industri tembakau
Temanggung (ANTARA) - Produksi tembakau Indonesia nomor enam dunia setelah China, Brasil, India, Amerika Serikat, dan Malawi, namun produksi tembakau itu belum seimbang dengan kesejahteraan petaninya, kata peneliti dari Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTTC) Universitas Muhammadiyah Magelang Heni Setyowati.

Heni di Magelang, Sabtu, mengatakan total produksi tembakau Indonesia sekitar 136 ribu ton atau sekitar 1,9 persen dari total produksi tembakau di dunia.

Provinsi penghasil tembakau di Indonesia adalah Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah dengan luas lahan sekitar 206,2 ribu hektare atau 90 persen dari total luas lahan tembakau di Indonesia.

"Secara umum melihat produksi tembakau Indonesia tentunya harus seimbang dengan kesejahteraan petani tembakau yang ada. Namun, fakta menunjukkan hal yang berbanding terbalik dengan pencapaian industri tembakau," katanya dalam paparan penelitian petani tembakau di Jawa Tengah..

Ia menyampaikan di masa pandemi menuntut langkah ketahanan pangan sehingga terjadi penurunan area lahan dan produktivitas tembakau.

"Hal inilah yang selalu menjadi pertanyaan besar kenapa Indonesia sebagai salah satu negara yang menjadi produksi tembakau belum seimbang dengan kesejahteraan petani tembakaunya," katanya.

Menurut dia, Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi penghasil tembakau terbesar di Indonesia yang kesejahteraan petani tembakaunya menghadapi fakta ironis tersebut.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi tembakau, antara lain cuaca atau musim yang tidak menentu dan sistem tata niaga yang tidak berpihak pada petani tembakau.

Di tengah kondisi yang kurang menguntungkan ini, katanya, ternyata mulai ada perubahan pergeseran alih tanam maupun diversifikasi di mana petani tembakau mulai mencari alternatif tanaman lain selain tembakau. Petani inilah yang dikenal dengan petani multikultur.

"Langkah ini pun memunculkan banyak tantangan dari teknologi budi daya, kelembagaan petani, keberpihakan kebijakan pemerintah kepada petani dan lain-lain," katanya.

Berdasarkan kondisi tersebut, katanya, MTCC Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) telah melakukan upaya pemberdayaan, pendampingan, dan riset terkait petani multikultur.

Ia menyampaikan hasil riset terkait petani tembakau yang dilakukan MTCC Unimma pada 2019 menunjukkan bahwa ketidakberdayaan dialami petani tembakau, baik karena faktor internal maupun faktor struktur sosial.

Menurut dia, perlu upaya strategis dan mekanisme untuk menguatkan kapasitas petani multikultur. Skema kebijakan terkait infrastruktur ekonomi perdesaan harus menjadi prioritas pemulihan ekonomi.

"Selain itu, penguatan modal, kelembagaan, jejaring antarpetani harus menjadi perhatian utama pemerintah," katanya.

Ia menyampaikan masalah-masalah terkait petani tersebut menjadi prioritas program MTCC Unimma, salah satunya dengan riset-riset terkait yang dilakukan secara periodik.

Baca juga: Petani tembakau ancam turun ke jalan, tagih janji perlindungan

Baca juga: Penyederhanaan tarif cukai ancam rantai bisnis industri hasil tembakau

Baca juga: Kementan sebut proses ekstraksi tingkatkan nilai tambah tembakau

Baca juga: Koalisi Masyarakat Sipil minta negara konsisten kendalikan tembakau

 

Pewarta: Heru Suyitno
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

BPOM : uji klinis vaksin COVID-19 memasuki tahap akhir 

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar