Kurangi ketergantungan energi fosil, pemerintah dorong "green fuel"

Kurangi ketergantungan energi fosil, pemerintah dorong "green fuel"

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjajal mobil menggunakan bahan bakar green diesel 100 persen atau D-100. ANTARA/HO-Kemenperin/am.

pengembangan green fuel berbasis sawit itu diharapkan akan menghasilkan green diesel (D100), green gasoline (G100), dan green jet avtur (J100).
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah terus mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati (green fuel) berbasis sawit yang ramah lingkungan, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada penggunaan energi fosil.

Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andriah Feby Misna dalam keterangannya yang dikutip di Jakarta, Minggu, mengungkapkan pengembangan green fuel berbasis sawit itu diharapkan akan menghasilkan green diesel (D100), green gasoline (G100), dan green jet avtur (J100).

Menurut dia, pemerintah tengah menggandeng PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan green fuel berbahan baku minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di kilang-kilang BUMN tersebut, yang berada di sentra produksi sawit, baik secara co-processing di kilang existing, maupun ke depannya dengan membangun kilang baru (stand alone) khusus green fuel.

Baca juga: Pertamina targetkan produksi "green avtur" akhir 2020

Co-processing merupakan salah satu cara memproduksi green fuel melalui proses pengolahan bahan baku minyak nabati dengan minyak bumi secara bersamaan.

"Produk green fuel ini mempunyai karakteristik yang mirip dengan bahan bakar yang berbasis fosil, bahkan untuk beberapa parameter kualitasnya jauh lebih baik dari bahan bakar berbasis fosil," kata Feby.

Pengembangan green fuel ini melengkapi penerapan program mandatori B30, yakni campuran 30 persen fatty acid methyl ester (FAME) ke dalam solar, yang berlaku efektif per 1 Januari 2020 dan kini tengah dilakukan pengujian penggunaan B40.

Baca juga: Pertamina siap produksi D-100

Kalau bahan bakar biodiesel terbuat melalui proses esterifikasi, sementara green diesel dengan deoksigenisasi.

Untuk green diesel atau diesel biohydrokarbon, menurut Feby, memiliki keunggulan dibanding diesel berbasis fosil maupun biodiesel FAME, di antaranya angka setana yang relatif lebih tinggi, kandungan sulfur yang lebih rendah, oxidation stability-nya juga lebih baik, dan warna yang lebih jernih.

"Saat ini, Pertamina telah berhasil menginjeksikan refined bleached deodorized palm oil (RBDPO) pada distillate hydrotreating refinery unit (DHDT) di beberapa kilang eksisting dengan menggunakan katalis Merah-Putih hasil karya anak bangsa dari Tim ITB," tambah Feby.

Baca juga: Kemarin, Presiden kejar pemulihan ekonomi dan ujicoba green diesel

Di Kilang Refinery Unit (RU) II Dumai, Riau, lanjutnya, Pertamina juga menguji coba secara bertahap green diesel yang dimulai dari campuran 7,5 persen, 12,5 persen, hingga 100 persen.

"Kita patut memberikan apresiasi atas keberhasilan Pertamina memproduksi green diesel dengan bahan baku 100 persen CPO. Harapannya uji coba ini bisa dilanjutkan di RU-RU lainnya dan diimplementasikan secara berkelanjutan sehingga kita benar-benar bisa mandiri dalam menghasilkan bahan bakar minyak yang ramah lingkungan dengan bahan baku dari dalam negeri," tandasnya.

Dalam rangka menyamakan persepsi terhadap produk-produk bahan bakar nabati, saat ini pemerintah juga sedang menyusun nomenklatur bahan bakar nabati, yaitu biodiesel dengan kode B100, bioetanol (E100), bensin biohidrokarbon (G100), diesel biohidrokarbon (D100), dan avtur biohidrokarbon (J100).

Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Listrik EBT jadi pelita baru warga Pulau Saugi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar