Pakar: anak stunting berisiko alami gangguan jantung saat dewasa

Pakar: anak stunting berisiko alami gangguan jantung saat dewasa

Dua petugas medis dengan alat pelindung diri (APD) dari Puskesmas Babakan bersiap memberikan suntikan imunisasi kepada seorang balita di Posbindu Cempaka 2 Babakan, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (12/5/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/foc/aa.

Jakarta (ANTARA) - Pakar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof dr Endang L Achadi, M.PH, Dr. PH mengatakan anak yang mengalami stunting berisiko lebih tinggi mengalami gangguan fungsi organ, seperti jantung, ginjal, otak, dan lainnya saat ia dewasa.

Endang dalam webinar bedah buku stunting yang ditulis oleh beberapa pakar, dipantau di Jakarta, Senin mengatakan anak yang stunting karena kurang mendapatkan asupan gizi selama dalam kandungan dan dua tahun setelah dilahirkan akan memiliki masalah pada perkembangan organ-organ di dalam tubuhnya pada masa pertumbuhan tersebut.

Menurut dia, kekurangan gizi yang dialami anak saat masa 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak dalam kandungan hingga dua tahun sangat berpengaruh pada perkembangan berbagai fungsi organ di dalam tubuh, mulai dari jantung, ginjal, otak, dan lainnya yang terhambat saat masa pertumbuhan.

Hal itulah, katanya, yang menyebabkan anak tersebut memiliki risiko lebih tinggi memiliki penyakit yang berkaitan dengan gangguan kesehatan pada organ tubuh, seperti hipertensi, gagal ginjal, jantung koroner, dan juga diabetes melitus.

Baca juga: Pakar: Stunting bukan pendek karena genetik atau kerdil

"Artinya seorang anak yang menderita stunting kemungkinan besar juga berisiko mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ lainnya," kata Endang.

Dia menjabarkan penelitian yang dilakukan di Inggris bahwa kelompok bayi yang terlahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung koroner dibandingkan bayi yang lahir di atas 2.500 gram.

Baca juga: Pemerintah pastikan asupan gizi ibu hamil dan anak selama pandemi

Berbagai penyakit yang dialami oleh anak tersebut saat dewasa diakibatkan terhambatnya fungsi organ tubuh sehingga tidak berkembang sempurna hingga dewasa. "Penyakit kronis tersebut berasal dari respons tubuh terhadap kekurangan gizi pada masa awal kehidupan, yaitu penyakit yang berakar dari periode saat terjadinya perkembangan organ tubuh," kata dia.

Baca juga: Menteri dorong riset pangan tangani kekerdilan di tengah pandemi

Endang menerangkan kondisi stunting yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan organ-organ tubuh pada anak, termasuk otak, bisa menyebabkan anak tersebut memiliki kemampuan berpikir di bawah anak-anak yang tidak stunting.

Dengan begitu, kata dia, kondisi stunting pada anak tidak hanya berdampak pada individu yang bersangkutan, namun juga pada kondisi SDM suatu negara. Bahkan endang menyebut kondisi stunting akan berdampak pada kehidupan tiga generasi.

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kasus stunting di Ternate meningkat selama pandemi COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar