Belajar daring bukan alasan abaikan batasan "screen time" untuk anak

Belajar daring bukan alasan abaikan batasan "screen time" untuk anak

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Proses belajar jarak jauh yang dilakukan anak dari rumah selama masa adaptasi kebiasaan baru membuat buah hati mau tak mau lebih sering terpapar layar komputer, laptop atau handphone.

Namun perubahan kebiasaan ini bukan alasan buat orangtua mengabaikan batasan waktu anak terpapar layar gawai screen time bagi anak. Orangtua perlu mengontrol agar anak tak terpapar layar digital terlalu lama demi kesehatan dan tumbuh kembangnya.

Dokter spesialis anak Ahmad Suryawan memaparkan pedoman screen time untuk anak dari berbagai rentang usia.

Anak usia dua hingga enam tahun (prasekolah) diperbolehkan menonton secara digital, namun durasinya maksimal 60 menit per hari.

Untuk anak usia 6-12 tahun yang duduk di bangku sekolah dasar, screen time sebaiknya tidak lebih dari 90 menit.

Ahmad menyarankan orangtua agar berdiskusi dengan pihak sekolah sehingga pembelajaran jarak jauh secara daring tidak melebihi 90 menit sehari.

Baca juga: Batasi "screen time" pada anak bisa tingkatkan ingatan hingga keterampilan bahasa

"Pastikan penggunaan media atau screen time tidak jadi kebiasaan sebelum mengerjakan pekerjaan sekolah," kata dia di bincang-bincang “Jaga Kesehatan, Belajar di Rumah, Bebas Stres" Frisian Flag, Rabu.

Ia menyarankan orangtua memastikan alokasi waktu anak untuk tidur, beraktivitas secara aktif yang melibatkan gerak fisik dan kegiatan harian penting lain tidak terkikis oleh penggunaan media.

Pada usia ini, durasi tidur anak yang ideal adalah 9-11 jam.

Untuk anak usia sekolah menengah, yakni 12-18 tahun, screen time disarankan tidak lebih dari dua jam. Anak yang lebih besar sudah memahami konsep keseimbangan waktu, jadi orangtua bisa membantu mereka mengelola jadwal penggunaan media setiap hari.

Menurut Ahmad, durasi screen time yang berlebihan pada anak usia dini bisa menimbulkan gangguan perkembangan, gangguan bicara-bahasa, gangguan perilaku dan sosial serta emosi juga gangguan kecerdasan.

Interaksi antara orangtua dan anak juga dapat berkurang.

Untuk bisa mengurangi waktu anak terpapar gawai, orangtua juga perlu mawas diri. Jika ingin perilaku anak berubah, orangtua pun harus mengurangi durasi berkutat di hadapan layar gawai.

Ahmad mengingatkan orangtua untuk bisa mengenali gejala stres pada anak selama masa pandemi.

Baca juga: Mana yang lebih stres selama pandemi, anak atau orang tua?

Baca juga: Anak juga bisa stres karena sekolah dari rumah, atasi dengan bermain


Waspadalah bila ada perubahan perilaku dan emosi yang tidak stabil. Anak yang cemas berlebihan, tampak murung dan menarik diri dari lingkungan bisa jadi tanda buah hati merasa tertekan.

Amati juga kebiasaan tidurnya. Bila dia mengalami gangguan seperti sulit tidur dan mimpi buruk, bisa jadi anak sedang merasa stres. Mengompol juga salah satu tanda, terutama untuk anak yang biasanya tidak mengompol.

"Lengket" secara berlebihan kepada orangtua atau pengasuh pun salah satu pertanda stres pada anak.

Untuk mengatasinya, berikan anak lebih banyak perhatian. Dengarkan pendapat dan keluh kesahnya serta libatkan buah hati ketika menyusun agenda.

Dampingi anak saat bermain dan belajar serta lakukan aktivitas fisik yang cukup.

Hal yang tak kalah penting adalah memperlihatkan sikap yang tenang sehingga anak pun merasakan hal yang sama.


Baca juga: Adaptasi kebiasaan baru, atur "screen time" dan jaga anak tetap aktif

Baca juga: Introvert atau ekstrovert? Kenali pribadi anak agar komunikasi efektif


Baca juga: Cara tingkatkan kemampuan bersosialisasi si anak tunggal

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Keluarga, terapis terbaik anak berkebutuhan khusus

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar