Kementerian ESDM sebut 24 pembangkit EBT beroperasi semester I 2020

Kementerian ESDM sebut 24 pembangkit EBT beroperasi semester I 2020

Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT). ANTARA/HO-Humas PT PLN/am.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan sebanyak 24 pembangkit listrik dari sumber energi baru dan terbarukan (EBT) berkapasitas 354,08 MW sudah beroperasi atau commercial operation date (COD) pada semester pertama 2020.

Direktur Aneka EBT Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Harris dalam pernyataannya yang dikutip di Jakarta, Kamis mengatakan Kementerian ESDM terus melakukan akselerasi pemanfaatan EBT termasuk untuk kelistrikan.

"Dari semua power purchase agreement (PPA) yang sudah COD hingga semester I 2020 itu, ada 24 pembangkit dengan kapasitas 345,08 MW," katanya.

Baca juga: Pacu investasi panas bumi, pemerintah siapkan kompensasi eksplorasi

Dalam konferensi pers secara virtual terkait "Update Kinerja Subsektor EBTKE", di Jakarta, Selasa (28/7/2020) itu, Harris melanjutkan jumlah 24 pembangkit tersebut meliputi 21 PPA, yang merupakan bagian dari kesepakatan pada 2017, dua PPA dari kesepakatan 2018, dan satu PPA dari kesepakatan 2019.

Para pengembang listrik swasta atau independent power producer (IPP) telah meneken kontak jual-beli sebanyak 83 pembangkit sepanjang periode 2017 hingga 2020.

"Total kapasitasnya sebesar 1.771,41 MW," ungkapnya.

Harris merinci pada 2017 terdapat 70 PPA dengan total kapasitas 1.206,52 MW. Lalu, pada 2018, ada 5 PPA (366,9 MW), 7 PPA pada 2019 (52,99 MW), dan 1 PPA pada tahun ini yakni Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Cirata sebesar 145 MW.

Baca juga: Anggota DPR katakan RUU EBT merupakan wujud demokrasi lingkungan

Sementara itu, ada 28 pembangkit yang masuk dalam tahap konstruksi dengan total kapasitas 799,71 MW.

Rinciannya, pembangkit yang berasal dari PPA 2017 sebanyak 22 pembangkit IPP (434,11 MW), tiga pembangkit IPP dari PPA 2018 (364,9 MW), dan tiga pembangkit IPP dari PPA 2019 (0,7 MW).

Sedangkan, sisanya masih ada 24 PPA lagi dengan total kapasitas 510,65 MW masih melakukan proses penyelesaian pendanaan (financial close/FC) dengan berbagai kriteria.

"Ada yang sudah mendapatkan komitmen bank, tapi syarat FC belum lengkap. Ada yang masih cari pendanaan; PPA sudah efektif, tapi masih proses FC; dan ada yang sedang menyiapkan jaminan pelaksanaan dan penawaran," ungkap Harris.

Jumlah PPA yang masih dalam tahap FC meliputi 20 pembangkit IPP dari PPA 2017 (314,16 MW), tiga proyek pembangkit dari PPA 2019 (51 MW) dan satu proyek dari PPA 2020 (145 MW).

"Ada juga delapan proyek pembangkit IPP yang sudah diputus kontrak alias terminasi dari PPA 2017 berkapasitas total 23,5 MW," ujar Harris.

Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pelet sampah TPA Kebon Kongok jadi substitusi batubara PLTU Jeranjang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar