Jelang puncak kemarau, perbanyak bangunan penampung air

Jelang puncak kemarau, perbanyak bangunan penampung air

Dokumentasi - Seorang warga menimba air dari sumur galian di lahan persawahan miliknya yang mengering akibat kemarau di Desa Losari, Rawalo, Banyumas, Jateng, Kamis (30/8/2012). ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/ed/nz/aa.

Purwokerto (ANTARA) - Pakar Hidrologi dan Sumber Daya Air Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Yanto, Ph.D mengingatkan perlunya memperbanyak bangunan penampung air menjelang puncak kemarau sebagai upaya mitigasi kekeringan.

"Agar air tersedia setiap waktu yang perlu dilakukan adalah memperbanyak bangunan penampung air seperti waduk, bendungan, situ, danau dan juga bangunan konservasi air tanah seperti sumur resapan dan biopori," katanya di Purwokerto, Kabupaten Bangumas, Jateng, Jumat.

Baca juga: BMKG: Empat kabupaten berstatus Awas kekeringan meteorologis

Dia menambahkan bahwa untuk menjamin ketersediaan air di setiap tempat maka perlu pengelolaan yang terintegrasi antarwilayah.

"Kerja sama antarwilayah sangat diperlukan. Permasalahan yang sering muncul adalah soal kewenangan. Daerah yang membutuhkan air tapi tidak punya kewenangan pengelolaan seringkali kesulitan melakukan inisiasi kegiatan," katanya.

Untuk mengatasi hal tersebut, kata dia, perlu optimalisasi peran berbagai lembaga lintas wilayah administratif.

Sementara itu dia juga kembali mengingatkan pentingnya upaya mitigasi perubahan iklim untuk mengurangi dampak kekeringan.

Dia juga mengingatkan pentingnya pemahaman bahwa bencana hidrometeorologi seperti banjir dan kekeringan juga dipengaruhi oleh iklim global.

Baca juga: Pemkab Garut siap beli sumber mata air untuk atasi kekeringan

Dia juga mengatakan bahwa upaya mitigasi harus tetap dibarengi dengan beberapa strategi adaptasi perubahan iklim.

"Mitigasi saja tidak cukup sehingga perlu dibarengi dengan beberapa strategi adaptasi perubahan iklim, yang dapat dilakukan salah satunya antara lain meningkatkan kapasitas tampungan air yang tadi disebutkan," katanya.

Selain itu, kata dia, peningkatan efisiensi pengelolaan air serta modifikasi tata guna lahan dengan cara revegetasi lahan kosong dengan tanaman produktif seperti tanaman buah dan sayur hingga penerapan sistem irigasi hemat air.

"Dengan adanya mitigasi dan strategi adaptasi perubahan iklim diharapkan dapat berperan strategis dalam mengantisipasi dampak kekeringan," katanya.

Baca juga: BMKG: Sejumlah wilayah di DIY berstatus siaga kekeringan meteorologis
Baca juga: Walhi Sumsel: Patuhi RTRW antisipasi bencana hidrometeorologi
Baca juga: BMKG indikasi potensi kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah


Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Sebanyak 44 Desa di Ngawi andalkan kiriman air bersih dari Pemkab

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar