BPS: pertumbuhan ekonomi terkontraksi untuk pertama kali sejak 1999

BPS: pertumbuhan ekonomi terkontraksi untuk pertama kali sejak 1999

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto. ANTARA/Humas BPS/pri.

Kalau melacak pertumbuhan ini secara triwulanan, minus 5,32 persen ini terendah sejak triwulan I-1999 yang kontraksi 6,13 persen.
Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi terkontraksi pada level negatif untuk pertama kalinya sejak triwulan I-1999, setelah perekonomian pada triwulan II-2020 tumbuh negatif 5,32 persen.

"Kalau melacak pertumbuhan ini secara triwulanan, minus 5,32 persen ini terendah sejak triwulan I-1999 yang kontraksi 6,13 persen," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Suhariyanto mengharapkan ada pembenahan kinerja dalam triwulan III-2020 melalui sejumlah stimulus maupun insentif yang sudah disiapkan pemerintah agar perekonomian dapat kembali menggeliat, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga dan pemerintah.

"Skenario dan kebijakan pemerintah sudah komprehensif melalui penanganan COVID-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional. Presiden juga telah berulang-ulang mengarahkan, semua harus memicu stimulus penanganan ekonomi untuk mendorong supply dan demand," katanya.

Baca juga: Pemerintah optimistis kuartal III-IV ada tren perbaikan ekonomi

Menurut dia, arah membaiknya perekonomian itu mulai terlihat dari kenaikan jumlah penumpang transportasi darat, laut maupun kereta api pada periode Juni terhadap Mei 2020 setelah adanya pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Mulai Juni beberapa indikator mulai mengalami perbaikan meski masih jauh dari normal. Mari bergandengan tangan, agar ekonomi makin bergerak, termasuk disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Ini kunci utama agar COVID-19 tidak menyebar," katanya.

Sebelumnya, BPS mencatat terjadi kontraksi dalam perekonomian Indonesia sehingga tumbuh minus 5,32 persen pada triwulan II-2020 karena COVID-19 yang telah membatasi aktivitas ekonomi.

Baca juga: BPS: Penurunan konsumsi rumah tangga picu kontraksi triwulan II 2020

Dari sisi lapangan usaha, kontraksi terjadi di berbagai kelompok seperti industri pengolahan yang minus 6,19 persen, perdagangan minus 7,57 persen dan konstruksi minus 5,39 persen.

Lapangan usaha lainnya yang ikut tumbuh negatif adalah pertambangan minus 2,72 persen, administrasi pemerintahan minus 3,11 persen dan yang terdampak paling besar yaitu transportasi dan pergudangan minus 30,84 persen.

Meski demikian, masih ada sektor yang tumbuh positif dalam periode ini antara lain sektor pertanian 2,19 persen, informasi dan komunikasi 10,88 persen serta jasa keuangan 1,03 persen.

Dari sisi kelompok pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang kontraksi terbesar dengan tumbuh negatif 5,51 persen disusul pembentukan modal tetap bruto (PMTB), yang merupakan komponen investasi, dengan tumbuh minus 8,61 persen.

Baca juga: Pemerintah siapkan enam pusat perbatasan jadi sentra ekonomi baru

Dalam periode ini, konsumsi pemerintah juga terkontraksi hingga 6,9 persen, ekspor barang dan jasa tumbuh minus 11,66 persen serta impor barang dan jasa tumbuh negatif 16,96 persen.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2020 sempat tercatat mencapai 2,97 persen atau mulai menunjukkan adanya perlambatan akibat pandemi COVID-19.

 

Pewarta: Satyagraha
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

BPS: upah nominal buruh tani naik 0,12 persen

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar