LIPI kembangkan aplikasi MACADA untuk pantau ekosistem mangrove

LIPI kembangkan aplikasi MACADA untuk pantau ekosistem mangrove

Foto udara kondisi tutupan hutan mangrove di kawasan penyangga Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur Sumatera yang sebagiannya telah beralih fungsi menjadi areal perkebunan kelapa sawit di Mendahara, Tanjungjabung Timur, Jambi, Jumat (10/7/2020). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama COREMAP-CTI mengembangkan aplikasi MACADA untuk memantau ekosistem mangrove.

"Kami coba untuk mengembangkan hal-hal yang dapat membantu kita semua untuk bagaimana memantau atau menilai ekosistem mangrove secara baik," kata Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Augy Syahailatua di Jakarta, Kamis, dalam seminar virtual mengenai pengembangan perangkat monitoring mangrove di Indonesia".

Aplikasi Mangrove Collection and Analysis of Data (MACADA) dirancang bisa digunakan oleh semua orang, bukan hanya oleh ilmuwan, untuk memantau dan menilai kondisi ekosistem mangrove.

Kumpulan data LIPI mengenai struktur komunitas mangrove di berbagai habitat menjadi materi dasar yang digunakan untuk mengembangkan alat pemantau mangrove seperti aplikasi MACADA.

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI I Wayan Eka Dharmawan mengatakan aplikasi berbasis Android itu bisa digunakan untuk memasukkan data dan melakukan analisis saat pemantauan.

"Aplikasi MACADA adalah salah satu dari tiga alat bantu pemantauan yang telah dikembangkan dari dataset COREMAP," ujar Wayan.

Aplikasi tersebut menyediakan parameter struktur komunitas seperti kepadatan, ukuran morfologi, frekuensi, dominasi, dan indeks kesehatan mangrove.

"Aplikasinya sangat berguna sekali dan berbasis Android, bisa mengambil data tinggal ke lapangan, input data, tinggal analisis," tutur Wayan.

Ia menambahkan, informasi mengenai cara penggunaan aplikasi MACADA ada dalam buku panduan pemantauan mangrove yang sudah disiapkan oleh LIPI.

Indonesia tercatat sebagai negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia. LIPI sudah memantau kondisi mangrove di 40 lokasi di Indonesia.

Namun, menurut Augy, luas area mangrove di Indonesia telah menurun hingga 30 persen sejak tahun 1900-an akibat pembangunan dan aktivitas manusia.

Pemantauan dan pengelolaan mangrove secara terstruktur dan berkala, ia melanjutkan, sangat penting untuk memetakan dan menjaga ekosistem mangrove di Indonesia.

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Yaya Ihya Ulumuddin mengatakan penentuan status kesehatan mangrove penting dalam menentukan aksi-aksi pengelolaan seperti penentuan area konservasi dan rehabilitasi.

Indeks kesehatan mangrove (Mangrove Health Index/MHI) dinilai dari tiga parameter struktur tegakan hutan mangrove, yaitu kerapatan kanopi (dalam persen), rata-rata diameter batang pohon (dalam cm), dan jumlah tegakan tiang atau pohon mangrove yang berukuran kecil (diameter batang < 5 cm).

"Indeks ini dapat menggambarkan status kesehatan mangrove, baik dari sisi vegetasi dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Sehingga, MHI ini diharapkan dapat membantu pengelola ekosistem mangrove dalam menentukan aksi-aksi pengelolaan," tutur Yaya.

Baca juga:
18 persen dari 3 juta ha hutan bakau di Indonesia rusak
Peneliti: Konservasi mangrove bisa kurangi 10-30 persen emisi tahunan

 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar