Jakarta (ANTARA News) - Ratusan kilogram daging Trenggiling yang akan diselundupkan ke luar negeri dimusnahkan oleh petugas Departemen Kehutanan, Departemen Pertanian, Kementrian Lingkungan Hidup, Kepolisian Republik Indonesia, Kejaksaan Agung, dan Pemerintah Provinsi DKI pada Kamis.

Pemusnahan 763 kilogram daging hewan Trenggiling tersebut dilakukan oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dan jajaran terkait di Taman Wisata Alam Angke, Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara.

Daging hewan mamalia itu disita saat akan diselundupkan melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ratusan kilogram daging Tringgiling yang dikemas dalam 24 koli tersebut akan dipakai sebagai bahan dasar "obat kuat" yang akan diproduksi di luar negeri.

Harga satu kilogram daging Trenggiling tanpa kulit Rp600 ribu. Sedangkan, harga satu sisik Trenggiling ukuran dewasa ukuran 9,6 Kg di pasaran internasional senilai USD1 dollar. Padahal, satu ekor Trenggiling dewasa memiliki 200 sisik.

Menteri Kehutanan Zulkifi Hasan mengatakan Trenggiling termasuk dalam kelompok hewan yang hampir punah.

"Tahun ini jumlah hewan dilindungi yang terus diburu meningkat tiga persen. Kerusakan hutan juga mengalami peningkatan," ujar Zulkifli.

Namun ia tidak merinci jumlah pasti kerusakan hutan di Indonesia.

Menurut Zulkifli, pemusnahan hewan dilindungi ini bertujuan agar masyarakat memahami bahwa Trenggiling termasuk hewan yang dilindungi, dan tidak untuk diperjualbelikan.

"Ini melanggar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa liar," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Zulkifli menerima satu ekor burung Kasuari dari Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin untuk tujuan konservasi satwa. Selain itu, Menhut juga menerima secara simbolik 132 monyet ekor panjang yang diserahkan ke Bupati Serang untuk dilepas di alam bebas.

Pada kesempatan itu, satu ekor orang utan diserahkan Menhut kepada Borneo Orang Utan Survivai untuk dilepas di Utan Nyaru Menteng Kalimantan Tengah.

Dari 19 jenis satwa liar hasil penyerahan masyarakat untuk menambah koleksi satwa di Taman Satwa dan Wisata Bumi Kedaton di Bandar Lampung.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009