Ekonom katakan cegah resesi harus selaras dengan tahan laju COVID-19

Ekonom katakan cegah resesi harus selaras dengan tahan laju COVID-19

Suasana gedung-gedung perkantoran tampak dari ketinggian Gedung Perpusnas di Jakarta, Rabu (5/8/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi terkontraksi pada level negatif untuk pertama kalinya sejak triwulan I-1999, setelah perekonomian pada triwulan II-2020 tumbuh negatif 5,32 persen. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.

Upaya pemulihan perekonomian hanya bisa dilakukan jika ada upaya serius untuk menahan laju penyebaran COVID-19
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arianto Patunru mengatakan upaya untuk mencegah terjadinya resesi ekonomi harus selaras dengan tindakan untuk menahan laju pandemi COVID-19.

"Upaya pemulihan perekonomian hanya bisa dilakukan jika ada upaya serius untuk menahan laju penyebaran COVID-19," kata Arianto dalam pernyataan di Jakarta, Jumat.

Ia mengharapkan pemerintah perlu untuk lebih fokus kepada upaya pengurangan laju penyebaran virus dengan memperbanyak tes, mempertegas aturan jaga jarak dan menggalakkan kebijakan pembatasan.

Pemerintah juga dapat memulai upaya pemulihan lewat sektor yang memiliki tingkat untuk sentuhan fisik minimal, misalnya pertanian, karena pertanian lebih berdaya tahan ketimbang pariwisata.

Sementara itu, bagi sektor yang masih terkendala kebijakan pembatasan sosial, perlu adanya mekanisme kompensasi bagi individu yang terdampak.

Arianto mengakui krisis akibat COVID-19 ini telah menyebabkan terjadinya kontraksi di berbagai sektor lapangan usaha karena minimnya permintaan maupun penawaran.

Untuk itu, melihat guncangan yang bersamaan terjadi di sisi permintaan maupun penawaran, laju inflasi nasional diperkirakan tidak akan setinggi krisis finansial sebelumnya.

Namun, menurut dia, tetap ada kemungkinan barang-barang tertentu mengalami kelangkaan dan kenaikan harga karena adanya penimbunan dan tidak meratanya akses.

"Harus waspada terutama distribusi bahan esensial seperti pangan tetap terjaga. Stimulus lewat bantuan sosial juga bertujuan untuk menjaga daya beli untuk konsumsi pokok masyarakat," ujarnya.

Secara keseluruhan, ia mengharapkan semua pihak berhati-hati dengan kemungkinan adanya resesi ekonomi, termasuk depresi, yang merupakan akumulasi dari resesi, seperti pada era 1930-an silam.

"Sebagai gambaran, pertumbuhan ekonomi negatif di Indonesia sehubungan dengan Asian Financial Crisis adalah lima kuartal. Semoga saja kali ini kita bisa menghindari kejatuhan yang lebih parah," katanya.

Baca juga: Erick minta Pemda maksimalkan penyerapan anggaran untuk jaga ekonomi

Baca juga: Pemerintah fokus genjot UMKM antisipasi ancaman resesi

Baca juga: Pemerintah optimistis kuartal III-IV ada tren perbaikan ekonomi

 

Pewarta: Satyagraha
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kilas NusAntara Sore

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar