Wapres: Produk inovasi karya anak bangsa hanya sedikit yang komersial

Wapres: Produk inovasi karya anak bangsa hanya sedikit yang komersial

Wakil Presiden (Wapres) K. H. Ma’ruf Amin. ANTARA/NL/AF/SK-KIP, Setwapres/pri.

Banyak inovasi yang dihasilkan oleh anak bangsa, namun hanya sedikit yang dapat dikomersialkan atau dipasarkan
Jakarta (ANTARA) - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan peneliti-peneliti di Indonesia banyak menghasilkan produk inovasi, namun hanya sedikit dari hasil tersebut yang bisa dipasarkan untuk keperluan masyarakat.

"Banyak inovasi yang dihasilkan oleh anak bangsa, namun hanya sedikit yang dapat dikomersialkan atau dipasarkan. Jika inovasi tidak dapat dikomersialkan, maka inovasi tersebut kurang bermakna bagi bangsa ini," kata Ma'ruf Amin saat membuka acara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25 di Jakarta, Senin.

Baca juga: Wapres: Hakteknas momen tepat kembangkan inovasi vaksin COVID-19

Ma'ruf mengatakan Pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk penelitian dan inovasi, namun jumlah sumber daya peneliti di Indonesia masih kurang, yakni hanya 89 orang per 1 juta penduduk.

"Indonesia mempunyai alokasi anggaran 2,130.3 miliar dolar AS (sekitar Rp31,3 triliun), lebih besar dibanding Vietnam. Tetapi jumlah sumber daya peneliti Indonesia hanya 89 per 1 juta penduduk, sedangkan Vietnam jumlah penelitinya 673 orang per 1 juta penduduk," katanya.

Pemerintah Indonesia juga berperan besar dalam bidang penelitian cukup besar, kata Ma'ruf. Sementara kegiatan penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D) di Vietnam lebih banyak diberikan oleh industri.

"Alokasi R&D di Indonesia itu terbesar dari Pemerintah, sebanyak 40 persen; sedangkan alokasi anggaran R&D di Vietnam yang paling besar dari sektor industri, sebanyak 52 persen," tukasnya.

Sementara itu, merujuk pada data Global Innovation Index (GII) Tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat rendah di dunia, khususnya di negara-negara Asia Tenggara. Indonesia berada di posisi ke-85 dari 129 negara di dunia, kata Ma'ruf.

"Sedangkan di ASEAN, peringkat inovasinya Indonesia ada di posisi kedua terendah, di atas Kamboja. Bandingkan dengan Singapura di peringkat ke delapan, dan Malaysia peringkat ke-35, yang ekonominya berbanding lurus dengan budaya inovasinya," jelasnya.

Oleh karena itu, Wapres berharap dengan adanya peringatan Hakteknas, masyarakat Indonesia semakin sadar akan pentingnya inovasi dan penelitian dalam memenuhi kebutuhan akan pengembangan teknologi.

"Hakteknas ini saya anggap penting dalam mendorong budaya inovasi di Tanah Air. Saya harap melalui acara ini dapat mendorong budaya inovasi masyarakat Indonesia," ujarnya.

Baca juga: Wapres luncurkan desa inovasi, salah satunya ada di Gorontalo
Baca juga: Wapres: Program pupuk bersubsidi perlu dikaji ulang


Pewarta: Fransiska Ninditya
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Wapres beri pesan pada KASN agar netral dan adaptif

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar