Grand design olahraga bakal fokus pada lima cabang Olimpiade

Grand design olahraga bakal fokus pada lima cabang Olimpiade

Dok - Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Raden Isnanta usai membuka Pekan Olahraga Tradisional Nasional (Potradnas) 2019 di komplek Stadion Sultan Agung Bantul, DIY. (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Grand design olahraga fokus pada lima cabor unggulan potensi Olimpiade
Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Raden Isnanta, mengatakan bahwa grand design olahraga nasional yang saat ini tengah digarap bakal difokuskan pada pembinaan untuk lima cabang Olimpiade.

Dalam webinar Akselerasi Penyiapan Atlet Usia Dini "Road to Olympic dan Paralympic Games 2032" di Jakarta, Selasa, Isnanta menyebutkan kelima cabang Olimpiade yang dimaksud, yaitu bulu tangkis, angkat besi, panahan, tinju, dan panjat tebing.

Grand design olahraga fokus pada lima cabor unggulan potensi Olimpiade. Bukan berarti cabor yang lain tidak digarap, tapi karena ini bicara fokus dan target jadi tidak mungkin semua ditargetkan,” tutur Isnanta.

Baca juga: Persaingan ketat, KOI butuh dukungan pemerintah untuk Olimpiade 2032

Proses pembinaan, kata Isnanta, akan dimulai secepatnya pada tahun depan, dimulai dengan cabang tinju lalu diikuti oleh cabang olahraga lainnya. Targetnya ialah para atlet usia muda yang dipusatkan di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) maupun Sekolah Khusus Olahraga (SKO).

Kemenpora saat ini masih terus menyelesaikan grand design olahraga nasional sebelum bisa dilakukan uji publik.

Ada tahapan penting yang harus disiapkan. Selain atlet usia dini, grand design juga harus melibatkan sport science, seperti pendekatan fisiologi, osteologi, psikologi, dan ilmu gizi.

Baca juga: NOC Indonesia ajak induk organisasi olahraga jemput Olimpiade 2032

“Kenapa sport science? Karena yang dilibatkan atlet adalah tubuh. Di dalam tubuh ada unsur-unsur, seperti tulang, syaraf, asupan gizi yang di situ akan jadi kekuatan pendongkrak semua komponen tubuh,” kata Isnanta menjelaskan.

“Jadi karena multidisiplin ilmu maka benar-benar harus melibatkan kekuatan stakeholder yang banyak.”

Harapannya, jika grand design sudah rampung, maka pembinaan usia dini bisa dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan berkesinambungan. Jangka pendeknya, anak-anak yang kini berusia 10-13 tahun bisa mencapai peak performance-nya pada usia 23-24 tahun dan berprestasi pada Olimpiade 2032.

Baca juga: KOI tak permasalahan Qatar jadi pesaing tuan rumah Olimpiade 2032

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kemenpora dukung Olahraga Kempo berlaga di Sea Games dan Olimpiade

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar