UNICEF: Menyusui dini turunkan 22 persen kematian bayi

UNICEF: Menyusui dini turunkan 22 persen kematian bayi

Nutrition Specialist UNICEF Sri Sukotjo (kanan) bersama Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI (Hon) (kiri) saat diskusi daring bertema "Invest-ASI Indonesia untuk Bumi yang Lebih Sehat" di Jakarta, Rabu (12/8/2020). (FOTO ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jadi memang sangat penting IMD itu karena mampu menurunkan angka kematian neonatal
Jakarta (ANTARA) - Nutrition Specialist Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) Sri Sukotjo mengatakan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) jika dilakukan dalam satu jam pertama mampu menurunkan sebanyak 22 persen kematian neonatal atau kematian bayi yang berumur nol sampai 28 hari.

"Jadi memang sangat penting IMD itu karena mampu menurunkan angka kematian neonatal," katanya dalam diskusi daring dengan tema "Invest-ASI Indonesia untuk Bumi yang Lebih Sehat" yang dipantau di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan menciptakan sumber daya yang berkualitas di Tanah Air dapat dimulai dari IMD, kemudian dilanjutkan dengan pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi.

Bahkan menyusui tersebut tidak hanya eksklusif, melainkan pemberiannya dilakukan hingga dua tahun atau lebih sehingga bayi memperolehnya secara optimal.

"Setidaknya kita semua punya satu tujuan yang sama yaitu menciptakan sumber daya manusia berkualitas nantinya yang dimulai sejak IMD itu," kata Sri Sukotjo.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon) menambahkan selain adanya IMD setelah bayi lahir, perlu pula bagi orang tua untuk memerhatikan pemberian imunisasi hepatitis.

Termasuk pula melakukan skrining pada bayi untuk mencegah jangan sampai ada penyakit-penyakit yang bisa dicegah, namun tidak ketahuan sejak awal.

"Skrining ini penting, apalagi di negara kita skrining bayi baru lahir hanya 2,34 persen, padahal di negara lain ada yang mencapai 100 persen," katanya.

Selain itu, bayi yang baru lahir perlu pula memperoleh imunisasi polio sebelum pulang ke rumah. Kemudian orang tua harus mengontrol semua imunisasinya, pemberian ASI eksklusif serta memantau tumbuh kembang anak agar optimal.

Ia mengingatkan tidak boleh terlupakan bagi semua orang tua di antaranya untuk mengukur panjang dan berat badan anak serta mengukur lingkar kepala dan perkembangannya.

"Nanti semuanya beriringan dengan ASI eksklusif hingga enam bulan dan saat enam bulan pastikan pemberian makanan tambahan hingga dua tahun," demikian Aman Bhakti Pulungan.

Baca juga: ASI ibu tak cukup penuhi kebutuhan bayi hanyalah mitos

Baca juga: Pemberian ASI dinilai penting tingkatkan imunitas bayi saat pandemi

Baca juga: UNICEF: Setiap tiga menit, satu balita meninggal di Indonesia

Baca juga: IDAI: ASI eksklusif enam bulan cegah pneumonia

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar