Dampak corona, Gapki catat ekspor oleokimia sawit tumbuh signifikan

Dampak corona, Gapki catat ekspor oleokimia sawit tumbuh signifikan

Sinar Mas Cepsa Bangun Pabrik Oleokimia Sejumlah karyawan mengontrol kilang baru di lokasi pabrik alkohol lemak berbasis nabati milik PT. Energi Sejahtera Mas di Kawasan Berikat Lubuk Gaung kota Dumai, Dumai, Riau, Kamis (14/9/2017). PT. Energi Sejahtera Mas anak perusahaan Sinar Mas Cespa membangun pabrik oleokimia pertama di Indonesia yang akan memproduksi alkohol lemak berbasis nabati. Pabrik senilai Rp4,77 triliun itu produksinya untuk memenuhi pangsa pasar Asia, Eropa Timur dan Eropa Barat. (ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid)

Yang menarik, ekspor kita turun 11 persen, tetapi ekspor oleochemical naiknya signifikan. Ekspor oleochemical 'year on year' sampai Juni naik 24 persen.
Jakarta (ANTARA) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat ekspor produk turunan sawit, yakni oleokimia yang menjadi bahan baku pembersih, tumbuh signifikan hingga 24 persen sepanjang semester I-2020.

Ketua Umum Gapki, Joko Supriyono menjelaskan oleokimia (oleochemical) yang merupakan bahan kimia dari produk turunan sawit, telah menjadi bahan baku pembersih, mulai dari sabun, hand sanitizer, hingga cairan disinfektan.

Baca juga: Meski pandemi, Gapki catat ekspor sawit semester I masih positif

Permintaan pasar akan oleokimia pun meningkat, seiring dengan merebaknya pandemi COVID-19 yang menuntut pentingnya sanitasi atau bahan pembersih untuk digunakan masyarakat

"Yang menarik, ekspor kita turun 11 persen, tetapi ekspor oleochemical naiknya signifikan. Ekspor oleochemical 'year on year' sampai Juni naik 24 persen," kata Joko dalam konferensi pers kinerja industri sawit di Jakarta, Rabu.

Joko merinci bahwa ekspor produk sawit secara keseluruhan sepanjang Januari-Juni 2020 turun hingga 11 persen, akibat permintaan pasar melemah terhadap komoditas ini.

Baca juga: BPDP-KS siapkan penguatan petani sawit

Melemahnya permintaan dipengaruhi oleh penerapan karantina wilayah (lockdown) di sejumlah pasar utama ekspor sawit, yakni China turun sebesar 43 persen, Bangladesh 22 persen, Timur Tengah 18 persen, Afrika 11 persen dan Uni Eropa 9 persen.

Di sisi lain, ekspor oleochemical justru mencatatkan kinerja yang positif dengan pertumbuhan sebesar 24 persen, dibandingkan periode Januari-Juni 2019.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat menjelaskan volume ekspor oleokimia pada Januari-Juni mencapai 1,8 juta ton dengan nilai 1,3 miliar dolar AS.

Baca juga: Kemendag: Permintaan produk sawit dunia mulai naik

Rapolo memproyeksikan jika permintaan terus mengalami kenaikan, total ekspor oleokimia hingga akhir tahun dapat mencapai 3,7 juta ton dengan nilai 2,6 miliar dolar AS.

Jika dibandingkan dengan sebelumnya, ekspor oleokimia pada 2018 hanya mencapai 2,8 juta ton dengan nilai 2,4 miliar dolar AS. Kemudian, volume ekspor pada 2019 melonjak hingga 3,2 juta ton, namun dari segi nilai terdapat penurunan menjadi 2 miliar dolar AS.

Sementara itu, untuk pasar dalam negeri juga terjadi peningkatan konsumsi. Pada paruh pertama tahun ini, konsumsi domestik sudah mencapai 1,6 juta ton, atau terjadi peningkatan hingga 38 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar 1 juta ton.

"Baik untuk ekspor maupun konsumsi dalam negeri, produk oleochemical mengalami peningkatan. Memang betul bahwa hampir semua penduduk dunia mengantongi alat sanitasi dalam kegiatan aktivitasnya," kata Rapolo.
 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pengamat: Pemboikotan produk Eropa wajar dilakukan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar