Artikel

Napak tilas detik-detik kemerdekaan RI di tiga lokasi bersejarah

Oleh Arnidhya Nur Zhafira

Napak tilas detik-detik kemerdekaan RI di tiga lokasi bersejarah

Kumpulan relief tokoh-tokoh bangsa di Museum Gedung Joang '45 Jakarta, Jumat (14/8/2020). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)

Jakarta (ANTARA) - Peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-75 tahun sudah tiba, maka tak salah jika masyarakat merayakannya dengan kembali menjelajahi waktu 75 tahun silam ke tempat-tempat bersejarah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, yang bisa dikunjungi secara kronologis.

Berikut adalah tiga tempat yang bisa dikunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan, dan merasakan detik-detik jelang dikumandangkannya naskah proklamasi untuk pertama kalinya.

1. Museum Gedung Joang '45
 
Tampak depan Museum Gedung Joang '45 Jakarta, Jumat (14/8/2020). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)


Museum Gedung Joang '45 yang terletak di Jl. Menteng Raya 31, Jakarta Pusat ini menyimpan sejumlah catatan sejarah mengenai berbagai peristiwa menjelang kemerdekaan RI.

Gedung Joang 45 awalnya merupakan salah satu bangunan hotel terkenal di Batavia bernama Schomper Hotel, yang dioperasikan sekitar tahun 1938.

Hotel ini dinamai dan dikelola oleh pemiliknya, serorang wanita Belanda bernama L.C. Schomper. Ia membangun hotel itu khusus untuk para pedagang asing dan para pejabat tinggi Belanda yang singgah di Batavia.

Ketika pendudukan Jepang, hotel ini diambil alih oleh Ganseikanbu Sendenbu (Departemen Propaganda Jepang) pada 1942, dan diserahkan kepada para pemuda Indonesia.

Adam Malik, Sukarni, Chaerul Saleh, dan A. M. Hanafi, menjadikan Gedung Menteng 31 sebagai Asrama Angkatan Baroe Indonesia (ABI) dan menjadikannya pusat kegiatan gerak cepat komando pemuda antara pusat dan daerah.

Baca juga: Mengenal 'si cantik' dari negeri seberang di Museum Siginjei

Baca juga: Karya Van Gogh bisa disaksikan di museum dari dalam mobil

 
Tampak dalam Museum Gedung Joang '45 Jakarta, Jumat (14/8/2020). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)


Asrama itu berfungsi sebagai tempat pendidikan politik kebangsaan, yang pengajarnya antara lain Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Moh. Yamin, Ahmad Soebarjo, hingga Ki Hajar Dewantara dan Amir Syarifudin.

Sementara, tokoh-tokoh muda pada saat itu, seperti Sukarni, Chaerul Saleh, A. M. Hanafi, Wikana, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Armunanto, Maruto Nitimihardjo, Kusnaeni, Djohar Nur, Ismail Wijaya, dan Burhanuddin Mohammad Diah, dikenal sebagai "Pemoeda Menteng 31".

Para "Pemoeda Menteng 31" merupakan aktor-aktor dibalik penculikan Soekarno, Hatta dan Fatmawati ke Rengasdengklok sehari sebelum kemerdekaan.

Sebelum diresmikan sebagai museum oleh Presiden Soeharto pada 19 Agustus 1974, gedung ini pernah beralih fungsi. Mulai dari asrama para pekerja wanita, Kantor Kementerian Pengerahan Tenaga Rakyat (1957-1960), Kantor Dewan Harian Nasional Angkatan '45 yang diketuai oleh Chaerul Saleh (1960-1965), hingga dijadikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).
 
Tampak dalam Museum Gedung Joang '45 Jakarta, Jumat (14/8/2020). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)


Pengunjung akan langsung disambut dengan tokoh-tokoh bangsa sesaat setelah membuka pintu museum. Terdapat pula beberapa diorama, lukisan, foto-foto dan patung dada dari para tokoh pergerakan kemerdekaan.

Koleksi lainnya yang terdapat di museum ini adalah tiga kendaraan kepresidenan yang digunakan Presiden dan Wakil Presiden pertama RI.

Untuk tiket masuknya sendiri hanya seharga Rp5.000 per orang, dan menggunakan kartu JakCard.

Baca juga: Berkelana dengan "mesin waktu" di Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Baca juga: Museum Siwalima siapkan pameran virtual "Dari Maluku untuk Indonesia"

Oleh Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar