Kasus COVID-19 500-an, Anies pantau kemungkinan kebijakan rem darurat

Kasus COVID-19 500-an, Anies pantau kemungkinan kebijakan rem darurat

Anggota komunitas pecinta Transjakarta mengenakan baju hazmat dengan membawa poster berisi informasi jumlah kasus positif di Jakarta saat melakukan sosialisasi protokol kesehatan di Halte Transjakarta Harmoni, Jakarta, Rabu (15/7/2020). Sosialisasi tersebut untuk mengingatkan penumpang Transjakarta agar selalu menaati protokol kesehatan saat menggunakan transportasi publik guna mengantisipasi penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc.

Kami terus pantau hari-hari ke depan bagaimana kondisinya di Jakarta
Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku terus melakukan pemantauan apakah pihaknya akan melakukan kebijakan penghentian darurat (emergency break) lagi atau tidak, menyusul masih tingginya penambahan kasus positif COVID-19 di Ibu Kota di atas 500-an dalam dua pekan terakhir.

"Kami terus pantau hari-hari ke depan bagaimana kondisinya di Jakarta ini," kata Anies di Balai Kota Jakarta, Senin.

Kebijakan rem darurat itu, sebelumnya ditempuh Jakarta dalam peniadaan kembali kegiatan Hari Bebas Kendaraan (Car Free Day/CFD) dan kawasan khusus pesepeda di 32 titik di seluruh Jakarta, dengan pertimbangan kasus COVID-19 yang tidak terus mereda.

Di Jakarta, kata Anies, pihaknya melakukan tiga hal serius yakni pengujian (testing), penelusuran (tracing) dan perawatan (treatment) secara serius.

Baca juga: Anies minta perjuangan lawan COVID-19 jadi lahan ibadah
Baca juga: Ahad, positif COVID-19 Jakarta bertambah 518 kasus


Dalam pengujian, Anies mengaku pihaknya telah melakukan uji usap (PCR) empat kali lipat di atas standar minimal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) demi menemukan orang yang telah terpapar agar bisa diisolasi.

"Jadi bukan hanya angka yang perlu jadi perhatian, tapi ikhtiar mencari angka itu yang harus dilihat. Karena apabila di luar banyak orang yang terpapar tapi hanya sedikit yang dites maka wabah akan terus melebar, justru kita harus lebih agresif," kata Anies.

Dengan jumlah tes yang banyak dan di atas standar WHO, kata Anies, akan diketahui tingkat rata-rata kasus positif (positivity rate) di Jakarta yang akurat dan dapat dipercaya.

Sejak awal wabah, lanjut Anies, di Jakarta angka "positivity rate" tersebut adalah 5,9 persen dari jumlah orang yang dites.

Baca juga: Kasus positif COVID-19 di Jakarta tembus 29 ribu pada Sabtu
Baca juga: CFD dan 17-an di Jakarta ditiadakan


Namun, dalam hitungan selama tiga pekan, Anies mengakui Jakarta mengalami lonjakan tajam yang bergerak dari 4,5 persen hingga mencapai 8,9 persen.

"Kondisi dikatakan aman apabila di bawah lima persen, lima persen hingga 10 persen membahayakan dan sangat bahaya jika di atas 10 persen," ucapnya.

Meski dikatakannya Jakarta berada di bawah nasional untuk "positivity rate" yang sepekan terakhir mencapai 15,9 persen dan sejak awal pandemi sebesar 13,1 persen, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini meminta masyarakat tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan.

"Saya imbau masyarakat gunakan masker kapan saja dimana saja, lalu bila memiliki keluhan kesehatan lapor ke kami, agar segera dites. Kemudian cuci tangan rutin, patuhi jaga jarak, ini bagi masyarakat. Bagi kami, kami terus melakukan tes," tutur Anies.

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Mobilitas penduduk saat PSBB Transisi Jakarta pengaruhi kasus COVID-19 di Pulau Jawa

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar