Wanita tani Kulon Progo memproduksi bon cabai antipasi harga anjlok

Wanita tani Kulon Progo memproduksi bon cabai antipasi harga anjlok

Kelompok Wanita Tani Melati di Kabupaten Kulon Progo memproduksi bon cabai mengantisipasi harga cabai di tingkat petani anjlok. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Usaha kami mendapat perhatian dan pembinaan dari Dinas Pertanian dan Pangan, Bank Indonesia, dan Dinas Koperasi dan UKM, sehingga bon cabai kelompok kami bisa tembus di 29 tomira dan gerai UKM DIY di Bandara Internasional Yogyakarta.
Kulon Progo (ANTARA) - Kelompok Wanita Tani Melati, Desa/Kelurahan Glagah, Kecamatan/Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memproduksi bon cabai yang mampu memasok 29 toko milik rakyat (Tomira) di wilayah itu untuk mengantisipasi harga cabai di tingkat petani anjlok.

Ketua Kelompok Wanita Tani Melati Titin Kusnawati di Kulon Progo, Selasa, mengatakan produksi bon cabai ini berawal saat harga cabai di tingkat petani anjlok, kemudian kelompoknya memproduksi bon cabai dari cabai milik warga di Desa Glagah.

"Usaha kami mendapat perhatian dan pembinaan dari Dinas Pertanian dan Pangan, Bank Indonesia, dan Dinas Koperasi dan UKM, sehingga bon cabai kelompok kami bisa tembus di 29 tomira dan gerai UKM DIY di Bandara Internasional Yogyakarta," kata Titin.

Baca juga: Temuan legislator, petani cabai dan kopi butuh bantuan modal

Ia mengatakan sebelum ada COVID-19, KWT Melati dapat memproduksi bon cabai sebanyak 35 kilogram untuk mensuplai 29 Tomira. Dalam keadaan kering sempurna di mesin, dibutuhkan waktu 48 jam atau sekitar dua hari pengeringan. Dapat juga dilakukan manual dengan sinar matahari, tetapi pengeringan membutuhkan waktu lebih lama, yakni hingga lima hari.

Berawal dari bimbingan teknologi (bimtek) yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo bersama Bank Indonesia yang berhasil menciptakan inovasi bon cabai “Nyoss” dengan berbagai varian rasa teri, terasi, original, dan olahan sambal segar. Pada masa pandemi COVID-19, harga cabai sempat terpuruk. Harga rendah berkisar Rp2.500 hingga Rp5.000, tetapi kehadiran produk olahan tersebut sangat membantu.

"Untuk bahan baku,  tidak mendapat kesulitan karena cabai berasal dari petani yang tersebar di lahan pesisir pantai, Galur, Panjatan, dan Temon. Berapapun kebutuhan cabai dapat dipenuhi dengan mudah," katanya.

Baca juga: Mesin penyimpan inovasi Balitbangtan jadikan cabai tahan 30 hari

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Juliwati mengatakan fasilitas pemerintah cukup besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara melalui tugas pembantuan. Dari produksi yang ada di Kulon Progo, target 2020 adalah 22.057,82 ton dan pada semester satu baru terealisasi 5.113,4 ton.

Sementara itu, sebagai pionir industri olahan cabai KWT Melati pada 2020, Dinas Pertanian dan Pangan berencana mengajak KWT lain mengolah cabai dengan melaksanakan sekolah tentang ilmu olahan cabai sebagai upaya pengembangan produk hortikultura.

“Produk hortikultura belum sepenuhnya diolah sebagai produk olahan. Untuk pengembangan usaha holtikultura berorientasi pada produksi yang diarahkan pada penerapan konsep perkembangan agrobisnis dengan dipadukan pada orientasi, nilai tambah, dan daya saing hortikultura. Untuk peningkatan nilai tambah dan pengembangan KWT yaitu komoditas cabai," katanya.

Pewarta: Sutarmi
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Presiden resmikan Yogyakarta International Airport

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar